Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Dokumenter “Budi Dokter Soetomo”, dari Gedung FK Unair dan Makam Peneleh ke Festival di Rusia: Demi Otentifikasi, Ranjang Rumah Sakit Pinjam Museum

Lombok Post Online • Senin, 30 Maret 2026 | 14:00 WIB

 

PANGGUNG INTERNASIONAL: Penayangan film dokumenter
PANGGUNG INTERNASIONAL: Penayangan film dokumenter
 

LombokPost - Film Dokumenter “Budi Dokter Soetomo” digarap dengan semangat kebersamaan berbagai kalangan khas Surabaya, ada yang urun kostum, urun tenaga, sampai urun memberi izin tempat syuting.

Pengambilan gambar menyesuaikan jadwal cagar budaya, pemilihan semua pemeran didasarkan pada feeling.

RATUSAN orang yang memadati salah satu ruangan di The National Center “Russia” di Moskow itu tak beranjak dari kursi.

Mereka menikmati sampai akhir tayangan yang terpampang di layar: film dokumenter “Budi Dokter Soetomo”.

Begitu pula ketika berlanjut ke sesi diskusi setelah penayangan dalam rangkaian International Documentary Film Festival 2026 yang diadakan Russian Today dengan tema “Time of Our Heroes” itu.

“Indonesia dan Rusia banyak perbedaan, tapi keduanya punya satu kesamaan sangat penting. Orang-orangnya sangat menghormati pahlawan mereka,” kata editor film tersebut Faizal Anwar dalam diskusi pada Minggu (22/2) malam lalu itu yang langsung disambut aplaus panjang.

Bagi Faizal, sambutan hangat dan antusiasme tinggi itu membuat perjuangan keras dia dan kawan-kawannya di Surabaya dalam mewujudkan dokumenter berdurasi 25 menit tersebut terasa  terbayarkan.

Perjuangan yang sangat berliku selama tiga bulan, mulai praproduksi, produksi, hingga pascaproduksi.

“Penyusunan informasi dan riset dilakukan dua bulan. Proses syuting sekitar tiga pekan,” tutur Art Director “Budi Dokter Soetomo” sekaligus Ketua Begandring Soerabaia Achmad Zaki Yamani ketika dihubungi Jawa Pos secara terpisah.

Dokter Soetomo adalah pendiri Budi Utomo pada 20 Mei 1908 di STOVIA (sekolah dokter bumiputera di Batavia atau sekarang Jakarta, red).

Ia terinspirasi pemikiran Dokter Wahidin Sudirohusodo. Tujuan Budi Utomo memajukan pendidikan, kebudayaan, dan ekonomi.

Isi film hasil kolaborasi TVRI Jawa Timur dengan Komunitas Begandring Soerabaia itu berfokus pada profil Soetomo mulai masa kanak-kanak, remaja, hingga dewasa.

Poin yang ditonjolkan berupa prosesnya mencapai seluruh impian orang tua dan kakeknya secara bersamaan.

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (Unair) Kukuh Karnanta yang tahu banyak proses di balik layar film tersebut menyebut, “Budi Dokter Soetomo” bisa dibilang digarap dengan semangat “bondo nekat” alias kebersamaan khas Surabaya.

Ada Pemerintah Kota Surabaya dan Pemerintah Kabupaten Mojokerto yang juga mendukung. Begitu pula Hotel Majapahit Surabaya.

Selain Begandring Soerabaia, Soerabaja Combine Reenactor, Sepanjang Heritage, Modjokerto Reenactor, Bangiler Reenactor, dan Historeen ID juga terlibat. “Urun rembug, urun kostum, urun tenaga, urun memberi izin tempat syuting, dan sebagainya.

Dana standar produksi film program televisi, tapi semangat kru dan teman-teman komunitas sejarah membara,” katanya.

Terharu di Makam Peneleh

Di Makam Peneleh, air mata Dedi Angga Arista tak henti-henti mengalir.

Kepiluan sosok yang dia perankan, Soetomo, saat kehilangan istri tercinta seperti dia rasakan benar.

“Dalam adegan kematian istri Dokter Soetomo, kami harus membuat makam palsu. Tapi, ada kata-kata terakhir Dokter Soetomo untuk istrinya yang diriset dengan matang,” kata Zaki.

Proses riset didasarkan pada literatur yang saling terhubung antara satu bacaan dan buku lainnya. Sumber lain berasal dari cerita lisan yang disusun berdasarkan puing-puing informasi sejarah yang diterima.

Ada dua tempat tak terlupakan selama proses syuting, yaitu di Gedung Fakultas Kedokteran (FK) Unair dan Makam Peneleh.

Di Gedung FK Unair, sekitar 70 persen bangunan, properti, bahkan kursi masih asli sejak zaman Belanda.

Proses casting seluruh pemeran dalam film diambil berdasarkan feeling.

Tidak ada tes tertentu untuk pemilihan tokoh. Dalam salah satu adegan lingkar diskusi Soetomo bersama kawan-kawannya, ada dialog panjang yang baru dihafalkan pemeran di lokasi.

“Bahkan proses briefing pemain hanya satu jam sebelum adegan dimulai,” tutur Zaki.

Proses syuting film dengan judul internasional “The Nation’s Ideal” itu pun disesuaikan dengan jadwal cagar budaya.

Misalnya, di Gedung FK Unair, tim hanya diizinkan merekam adegan pada akhir pekan.

Ranjang rumah sakit yang dipakai untuk syuting juga koleksi Museum Dr Soetomo, Surabaya.

“Demi menjaga otentifikasi film, kami bernegosiasi dengan pihak museum agar diizinkan meminjam untuk syuting. Beruntung saat itu Dinas Kebudayaan mengizinkan,” ungkapnya.

Tantangan Durasi

Kepada Jawa Pos sebelum berangkat ke Rusia, Faizal menyebut, tantangan terbesar penggarapan “Budi Dokter Soetomo” terletak pada akurasi waktu karena durasi film hanya 25 menit.

“Itu selaras dengan fokus kami yang menampilkan profil Dokter Soetomo,” ucapnya.

Tapi, semua kerja keras itu akhirnya terbayarkan oleh sambutan hangat di panggung festival di Rusia. Meski demikian, tak berarti perjalanan “Budi Dokter Soetomo” selesai di situ.

“Kami berencana membawanya ke Festival Film Indonesia 2026,” kata Zaki. (ESTU FARIDA, Surabaya/ttg/JPG/r3)

Editor : Kimda Farida
#produksi #Dokter #riset #film dokumenter #Rusia