Insiden rusaknya velg motor Marc Márquez saat balapan MotoGP di Chang International Circuit Thailand pada 1 Maret lalu sempat menjadi perbincangan luas di kalangan penggemar balap. MGPA pun berikan penjelasannya dengan ilustrasi contoh kerb yang ada di Sirkuit Internasional Mandalika.
LESTARI DEWI, Lombok Tengah
LANGIT biru membentang di atas Sirkuit Internasional Mandalika pada pagi yang beranjak menuju siang. Angin dari arah selatan berembus cukup kencang, membawa aroma laut dari pantai yang berjarak beberapa ratus meter dari lintasan. Di kejauhan, ombak terlihat memecah karang, kontras dengan aspal hitam sirkuit yang berkelok tajam mengikuti kontur perbukitan Mandalika.
Di antara garis merah putih yang membingkai setiap tikungan itulah terdapat elemen kecil yang kerap luput dari perhatian penonton, kerb. Padahal, bagian ini kerap menjadi penentu antara lintasan yang aman atau insiden di kecepatan tinggi.
Baca Juga: Sampah di Jalur Mandalika Kian Mengkhawatirkan
Perbincangan soal kerb kembali mencuat setelah insiden yang dialami Marc Márquez pada ajang MotoGP Thailand 2026 di Chang International Circuit. Pembalap Ducati Lenovo Team itu harus menghentikan balapannya lebih awal setelah velg belakang motornya rusak usai menghantam kerb pada lap ke-21.
Bagi orang awam, kerb mungkin terlihat hanya sebagai pembatas berwarna mencolok di tepi lintasan. Namun bagi pembalap dan kru teknis, kerb merupakan bagian vital dari sistem keselamatan sirkuit. Di Mandalika, desain kerb mengikuti standar yang ditetapkan Fédération Internationale de Motocyclisme (FIM).
Track, Race Electronic, and Motorsport Manager Mandalika Grand Prix Association (MGPA) Muhammad Awallutfi Andhika Putra menjelaskan bahwa secara umum terdapat dua jenis kerb, yakni kerb positif dan kerb negatif.
Kerb positif biasanya berada di bagian dalam tikungan dan membantu pembalap mempertahankan racing line. Sementara kerb negatif ditempatkan di bagian luar tikungan untuk mencegah kendaraan melebar terlalu jauh.
Kerb di Sirkuit Mandalika menggunakan desain Misano kerb, salah satu desain yang banyak digunakan di sirkuit internasional. Desain ini mulai diterapkan sejak pembangunan sirkuit pada 2020, di bawah pengawasan langsung FIM Safety Officer saat itu, Franco Uncini dan Loris Capirossi.
Baca Juga: Median Jalan Bypass Mandalika Semrawut, Berpotensi Ganggu Pengendara
Secara teknis, kerb memiliki lebar minimal sekitar 1,5 meter dengan elevasi sekitar 2,5 sentimeter. Meski tampak rata dari kejauhan, permukaannya berundak halus untuk memberi peringatan visual dan taktil kepada pembalap yang terlalu melebar dari racing line.
“Kerb dibuat dari beton dengan metode pre-cast atau dicetak langsung di lokasi. Setelah itu, permukaannya dilapisi cat khusus yang telah dihomologasi FIM agar tetap memiliki tingkat cengkeraman mendekati aspal,” katanya, Rabu (1/4).
Direktur Utama MGPA Priandhi Satria menyebut bahwa kerb bukan sekadar elemen estetika. “Kerb dirancang untuk membantu pembalap memahami batas lintasan sekaligus menjaga kontrol kendaraan pada kecepatan tinggi,” ujarnya.
Insiden Márquez di Thailand menjadi pengingat bahwa pada kecepatan lebih dari 300 kilometer per jam, detail sekecil beberapa sentimeter dapat berdampak besar. Bentuk undakan, ketinggian crown, hingga tingkat grip cat dapat menentukan apakah sebuah motor tetap stabil atau justru kehilangan kendali.
Di Mandalika, garis merah putih itu kini tak hanya menjadi penanda batas lintasan, tetapi juga simbol bagaimana standar keselamatan internasional diterapkan hingga detail terkecil. Dan di tengah angin laut yang terus berembus serta suara mesin yang memecah sunyi pagi, kerb tetap berdiri diam, menjalankan fungsinya sebagai penjaga tak terlihat di setiap tikungan.
Editor : Akbar Sirinawa