Ribuan jiwa menggantungkan hidup pada keindahan Gunung Rinjani. Mereka datang dan berprofesi sebagai pedagang, pelaku wisata, hingga petani. Salah satu di antaranya adalah Zohri, pemilik transportasi pendakian.
SUPARDI, Lombok Timur
Puluhan pendaki memasuki areal Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) Resort Sembalun akhir pekan lalu. Mereka berbaris tertib untuk registrasi sebelum melakukan pendakian. Sejumlah petugas memeriksa satu per satu barang bawaan di dalam tas gunung, untuk memastikan potensi sampah yang dihasilkan.
Di luar resort, puluhan mobil pick up berjejer rapi. Sejumlah sopir sibuk merapikan barang bawaan para pendaki. Salah satunya Zohri. Ia pernah menjadi porter Gunung Rinjani selama puluhan tahun.
Baca Juga: Kelas Bahasa Inggris di Sawah Desa Jurit Baru, Anak SD dan SMP Belajar Bareng Turis
Kini, setelah tenaganya tak lagi kuat untuk turun naik Gunung Rinjani, Zohri memilih menjadi transporter yang mengantar pendaki di titik awal sebelum menaklukkan puncak tertinggi di Pulau Lombok.
”Sejak 2023 saya berhenti dan beralih menjadi sopir. Sekarang sudah tidak kuat lagi naik gunung,” jelasnya.
Zohri sudah mencari rezeki di Gunung Rinjani sejak 1980an dengan menjadi porter. Di masa itu, pekerjaan porter sangat berat. Tidak ada alat transportasi seperti sekarang yang memudahkan pendaki. Salah satunya ojek motor yang bisa membawa pendaki hingga pos 2.
Selain itu, upah porter juga sangat minim. Pada tahun itu, Zohri hanya mendapat upah paling tinggi Rp 1.500 per hari. Jika dihitung berdasarkan inflasi, jumlah tersebut hanya mencapai Rp 30 ribu di tahun 2026.
Rendahnya upah menghargai porter, dibarengi dengan minimnya pendaki ke Gunung Rinjani. Mereka yang mendaki Gunung Rinjani pada 1980an biasanya untuk keperluan pengobatan spiritual atau memancing di Danau Segara Anak, bukan berwisata seperti sekarang ini.
Memasuki medio 1990, ongkos porter perlahan naik. Gunung Rinjani pun mulai dilirik sebagai wisata pendakian.
Perlahan tapi pasti, banyak masyarakat Sembalun kemudian memilih menjadi porter. Alasannya tentu saja dari penghasilan harian yang cukup besar.
Kondisi tersebut rupanya sempat mendapat protes dari pemilik lahan persawahan di Sembalun. Sebab, berpengaruh pada jumlah masyarakat yang bisa dipekerjakan sebagai buruh tani.
”Orang-orang lebih senang menjadi porter daripada jadi buruh tani. Akhirnya ongkos buruh dan porter disamakan,” jelasnya.
Baca Juga: Bukan Sekadar Balap Mobil, Ajang GTWCA di Mandalika Jadi Magnet Investasi Para Sultan
Pahit manis menjadi porter diakui sudah habis dilalui. Mulai dari terjatuh, kehabisan air minum di perjalanan hingga bertemu cuaca buruk di jalur pendakian. ”Sampai-sampai ingin minum air kencing sendiri saat kehabisan air minum. Kalau jatuh sudah tidak bisa diingat lagi,” jelasnya.
Awal membawa tamu mancanegara, ia kesulitan berbahasa Inggris. Namun dari pengalaman dan interaksi dengan turis, ia akhirnya paham dan bisa berbahasa Inggris.
Seiring bertambahnya usia, Zohri memilih pensiun. Meski upah porter saat ini cukup besar, mencapai Rp 300 ribu per hari, tapi tenaganya sudah tak sekuat ketika ia muda dulu.
Meski demikian, Zohri tetap menggantungkan perekonomiannya pada Gunung Rinjani. Selepas tak lagi menjadi porter pada 2023, Zohri membuka jasa transportasi untuk pada pendaki.
”Kami biasanya antar sampai kandang sapi,” ujarnya.
Baca Juga: Siap-siap, Pemkab Lotim Segera Terapkan WFH bagi ASN! Begini Skemanya
Hasil dari transportasi itu tidak serta merta dihabiskan untuk kebutuhan pribadi. Sebagian dikumpulkan bersama sopir lain untuk memperbaiki jalan menuju gerbang pendakian Rinjani secara swadaya.
Hasil itu juga digunakan untuk menyantuni masyarakat yang mendapat musibah, seperti warga sakit, meninggal dunia, dan kegiatan sosial lainnya. ”Ongkos sekali jalan itu Rp 250 ribu, tetapi sebagian kita kumpulkan untuk kebutuhan sosial,” pungkasnya.
Editor : Akbar Sirinawa