LombokPost - Iran sebenarnya sudah berencana melakukan serangan balasan ke Israel kalau saja tak dicegah Pakistan. Teheran sudah mengabari Islamabad tak akan datang untuk berunding dengan Amerika Serikat jika Israel tak menghentikan agresi di Lebanon.
TIM negosiator Iran yang dipimpin Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebenarnya dijadwalkan tiba di Islamabad, Pakistan, Kamis (9/4) malam. Tapi, mereka menunda kedatangan.
Penyebabnya, ulah Israel yang secara brutal terus menyerang Lebanon dan menyebabkan ratusan orang tewas, mayoritas warga sipil. Padahal, gencatan senjata selama dua pekan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) telah berlangsung sejak Rabu (8/4).
Baca Juga: Korea Selatan Kirim Utusan ke Iran Demi Bebaskan Kapal di Hormuz, Lobi Darurat Dimulai
Dalam wawancara dengan sebuah stasiun televisi, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh bahkan menyebut, jika tak dikontak Pakistan pada Rabu malam lalu, Teheran sudah akan membalas serangan Israel. Iran membatalkan gempuran balasan itu karena Islamabad menjamin kalau AS bakal menekan Tel Aviv untuk menghentikan serangan ke Lebanon.
Pakistan adalah penengah gencatan senjata antara Iran dan AS. Negeri tetangga Iran itu sekaligus juga mediator negosiasi kedua negara yang akan berlangsung hari ini di Islamabad.
Namun, mengutip sebuah sumber, Kantor Berita Tasnim yang berbasis di Teheran menyebut, Iran masih membuka kemungkinan membatalkan gencatan. Itu jika Israel masih saja menyerang Lebanon dengan dalih menggempur Hizbullah, proksi Iran di negara bekas jajahan Prancis tersebut.
Baca Juga: Iran Rilis Peta Jalur Aman Selat Hormuz, Israel Terus Serang Lebanon
“Kalau AS tak bisa mengendalikan si anjing rabies (Israel), Iran akan melancarkan serangan balasan secara besar-besaran,” kata sumber di lingkungan pemerintahan Iran tersebut.
Juga mengutip sumber, kantor berita lainnya, Fars, melansir, Iran bahkan sudah secara resmi mengabarkan ke Pakistan kalau tim negosiator mereka tidak akan ke Islamabad. Itu jika gencatan senjata tidak diberlakukan di Lebanon.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghael sebelumnya sudah menyatakan, negosiasi dalam rangka menghentikan perang antara Iran dengan AS dan Israel hanya bisa terjadi jika Washington menghormati komitmen gencatan di semua front, khususnya Lebanon.
Baca Juga: Wapres Pimpin Delegasi AS, Menlu Komandoi Negosiator Iran
Dinamika tersebut membuat detik-detik jelang negosiasi di Islamabad hari ini menjadi sangat menegangkan. Sampai dengan Jumat (10/4), masih terjadi silang pendapat tentang status Lebanon dalam gencatan senjata dua pekan. Bagi Iran dan Pakistan, kesepakatan tersebut meliputi Lebanon. Sedangkan AS-Israel berpendapat sebaliknya.
Doktrin Dahieh
Sampai dengan kemarin pukul 16.00 WIB, Israel masih terus membombardir Lebanon. Mengutip data Pertahanan Sipil Lebanon, sudah 303 korban tercatat meninggal dan 1.150 lainnya terluka.
Dalih Tel Aviv, mereka memburu Hizbullah. Padahal, mengutip The Guardian, Hizbullah sudah menyatakan, telah dikabari adanya gencatan dan langsung mematuhinya.
Dalam editorialnya, media terkemuka Pakistan, Dawn.com menulis, serangan ke Lebanon adalah luapan kemarahan Israel. Mereka frustrasi karena serangan bersama AS gagal meruntuhkan Iran.
Kegagalan itu mengundang kritikan tajam dari berbagai kalangan terhadap rezim Benjamin Netanyahu. Sebab, Israel-lah yang sejak awal meyakinkan AS kalau Iran bakal mudah ditaklukkan.
Tekanan dari dalam itu yang membuat Tel Aviv, dengan dalih memburu Hizbullah, kelompok pro-Iran, lantas mengarahkan kemarahan ke negara tetangga mereka di selatan. “Ada kesengajaan menarget warga sipil sebuah kejahatan perang di negara yang memegang teguh Doktrin Dahieh. Tapi, Israel memang sudah sering melakukan serangan semacam itu, seperti yang selama ini mereka pertontonkan di Timur Tengah,” tulis Dawn.com.
Dahieh adalah wilayah permukiman padat penduduk di selatan Beirut. Mayoritas warganya Syiah dan banyak di antaranya simpatisan Hizbullah.
Doktrin Dahieh memperbolehkan serangan ke permukiman sipil di mana banyak milisi bersenjata bermukim. Israel mulai menerapkan doktrin tersebut dua dekade lalu dan bermuara pada sederet kengerian. Salah satunya pembantaian sekitar 72 ribu orang di Gaza sejak Oktober 2023.
Langkah Pakistan
Perkembangan di Lebanon membuat Pakistan bergerak cepat membentengi agar upaya gencatan dan negosiasi yang mereka mediasi tidak gagal. Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Kepala Pasukan Pertahanan Asim Munir bertemu kemarin untuk meninjau progres mediasi dan persiapan negosiasi.
“Perdana Menteri dan Kepala Pasukan Pertahanan merasa puas dengan deeskalasi sejauh ini dan menekankan pentingnya menjaga perdamaian dan gencatan oleh semua pihak,” kata sebuah rilis resmi pemerintah Pakistan.
Sharif juga secara simultan melakukan pembicaraan lewat telepon dengan sejumlah kepala negara dan pemerintahan dengan fokus utama mencegah situasi di Lebanon semakin memburuk. Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Ishaq Dar juga terus melakukan kontak diplomatik untuk mengonsolidasi dukungan internasional demi keberhasilan negosiasi.
Namun, Presiden Iran Masoud Pezeshkian sudah mengingatkan, jika agresi Israel tak berhenti, negosiasi menjadi percuma. “Tangan kami akan tetap di pelatuk dan Iran tak akan pernah meninggalkan saudara-saudara kami di Lebanon,” katanya. (ttg/jpg/r1)
Editor : Redaksi