LombokPost - Di dunia kesehatan, nama drg. Asrul Sani bukan orang baru. Dia adalah sosok tenaga medis yang bertugas dari satu puskesmas ke puskesmas lain yang berada di pinggiran kota hingga desa yang masuk ke wilayah pelosok.
Bagi drg. Asrul Sani, lorong-lorong rumah sakit dan aroma khas antiseptik bukanlah hal asing. Setelah sempat berkelana di ranah birokrasi pemuda dan olahraga, sosok yang dikenal tenang ini akhirnya pulang ke rumah asalnya, dunia kesehatan. Mengemban amanah sebagai Direktur Utama RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Asrul membawa misi besar yang dicanangkan pemerintah provinsi menjadikan NTB mandiri secara medis.
“Ini adalah bentuk pengabdian. Sebagai ASN, kita harus siap ditempatkan di mana saja. Namun, kembali ke bidang kesehatan bagi saya adalah kembali ke garis dasar perjuangan saya sejak awal,” ujar alumni Universitas Moestopo (Beragama) tersebut dengan nada mantap.
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi dunia kesehatan di Bumi Gora adalah ketergantungan pada rumah sakit di luar daerah. Sudah menjadi rahasia umum, pasien dengan kasus-kasus spesifik sering kali harus dirujuk ke Bali atau Jawa. Fenomena inilah yang ingin diputus oleh Asrul.
Visi Gubernur NTB sangat jelas, meminimalisir masyarakat NTB yang harus menyeberang lautan hanya untuk mendapatkan kesembuhan. Asrul memahami bahwa mewujudkan kemajuan NTB di sektor kesehatan bukan sekadar membalikkan telapak tangan. Ia menekankan pentingnya Transformasi Pelayanan Kesehatan Rujukan.
"Kita sedang membangun sistem. Bukan hanya soal gedung, tapi soal akses dan mutu layanan," jelasnya. Menurutnya, transformasi ini mencakup tiga pilar utama yakni kelengkapan alat medis mutakhir, kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) spesialis, dan sistem rujukan yang terintegrasi antara kabupaten/kota dengan provinsi.
Baca Juga: RSUD NTB Berencana Kembali Usulkan Pembangunan Bunker Nuklir
Keyakinan Asrul tidak lahir dari ruang rapat yang nyaman. Ia adalah praktisi yang kenyang makan asam garam di lapangan. Perjalanannya dimulai pada tahun 2001 sebagai PNS di Puskesmas Penimbung, Lombok Barat. Selama enam tahun di sana, ia belajar memahami berbagai macam persoalan kesehatan masyarakat di tingkat akar rumput.
Langkahnya terus berlanjut ke Puskesmas Gunungsari, hingga kemudian menyeberang ke Lombok Utara pasca pemekaran daerah. Di sana, ia mengabdi di Puskesmas Pemenang pada tahun 2009 dan Puskesmas Bayan (2010), sebuah wilayah yang secara geografis cukup menantang di kaki Gunung Rinjani. Pengalaman di wilayah terpencil inilah yang membentuk perspektifnya tentang pentingnya pemerataan kualitas layanan.
Kariernya terus menanjak saat ia dipercaya memperkuat UPT RSUD Tanjung, Lombok Utara pada 2011. Ini adalah cikal bakal RSUD Tanjung. Puncaknya, setelah menyelesaikan pendidikan S2 Manajemen Kesehatan pada 2015, ia diberi amanah menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan Lombok Timur. Di sana, ia memimpin kebijakan kesehatan di kabupaten dengan jumlah penduduk terbesar di NTB hingga tahun 2018.
Baca Juga: RSUD Ruslan Hadirkan ICU Hyperbaric, Satu-satunya di Indonesia Timur
Menariknya, Asrul bukan sekadar orang teknis. Pengalamannya menjabat sebagai Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Lombok Timur sejak 2021 hingga 2026 memberinya keunggulan kompetitif dalam hal diplomasi dan manajemen konflik. Di Dispora, ia belajar bagaimana mengelola ego lintas sektor keterampilan yang kini ia bawa untuk memimpin ribuan tenaga medis di RSUD Provinsi.
"Di rumah sakit, kita bekerja dengan orang-orang terpilih yang sudah tersaring ketat, baik PNS maupun PPPK. Ini adalah modal positif. Kita punya stok aparatur yang berkualitas dan siap bekerja sama," katanya memuji tim medisnya.
Kini, di bawah komandonya, RSUD Provinsi NTB terus bersolek. Asrul menyadari bahwa posisi NTB sebagai destinasi sport tourism dunia, terutama dengan adanya Sirkuit Mandalika, menuntut rumah sakit rujukan yang juga berstandar internasional.
Penyediaan alat kesehatan (alkes) canggih kini menjadi prioritas. Namun, Asrul tetap membumi. Ia tahu bahwa secanggih apa pun alatnya, pelayanan yang humanis adalah kunci utama. Ia ingin RSUD Provinsi tidak hanya menjadi tempat pengobatan fisik, tetapi juga memberikan ketenangan psikologis bagi pasien dan keluarganya.
“Secara bertahap, kita lengkapi semuanya. SDM kita dorong untuk terus meningkatkan kompetensi. Harapannya, masyarakat merasa cukup di NTB saja, karena kita sudah punya segalanya di sini,” paparnya.
Perjalanan drg. Asrul Sani dari Puskesmas Penimbung hingga kursi Direktur Utama RSUD Provinsi adalah potret dedikasi tanpa henti. Di tangannya, asa untuk melihat sistem kesehatan NTB yang mandiri dan berdaya saing kini sedang diperjuangkan, satu langkah demi satu langkah. (HAMDANI WATHONI, Mataram)
Editor : Redaksi