Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Jatuh Bangun Husni Mubarak Membangun Agrowisata setelah Terjerat Utang

Supardi/Bapak Qila • Senin, 13 April 2026 | 18:12 WIB
AGROWISATA: Husni Mubarak pemilik agrowisata anggur dan melon Desa Kenek Duren saat mengecek kondisi buah melon miliknya yang beberapa minggu lagi siap panen. (SUPARDI/LOMBOK POST)
AGROWISATA: Husni Mubarak pemilik agrowisata anggur dan melon Desa Kenek Duren saat mengecek kondisi buah melon miliknya yang beberapa minggu lagi siap panen. (SUPARDI/LOMBOK POST)

LombokPost - Gagal berangkat menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) pada 2019 tak membuat Husni Mubarak patah arang. Berbekal tutorial YouTube, pria asal Desa Lenek Duren ini justru sukses membangun agrowisata buah.

Dua greenhouse berdiri kokoh di pinggir jalan raya Desa Lenek Duren, Lombok Timur.

Satu greenhouse terlihat dipenuhi anggur belasan jenis, lokal hingga impor. Anggur yang mulai matang itu membuat pemandangan di dalam greenhouse cukup menarik.

Baca Juga: Desa Tepal Dicanangkan Jadi Kawasan Agrowisata

Satu greenhouse di sebelahnya dipenuhi berbagai jenis buah melon yang sedang menunggu waktu panen. Dua greenhouse itu merupakan agrowisata milik Husni Mubarak, yang setiap waktunya berbuah selalu ditunggu-tunggu masyarakat sekitar.

Husni menceritakan pembuatan agrowisata buah ini bermula pada tahun 2019 lalu. Saat itu ia hendak merantau ke Saudi Arabia sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI). Namun gagal berangkat karena negara tujuan sedang ditutup akibat Covid-19.

"Saat itu kita sudah di Jakarta, di penampungan. Tetapi pemberangkatan ditunda, (akhirnya) kami dipulangkan," beber Husni kepada Lombok Post, Minggu (12/4).

Baca Juga: Agrowisata Lombok: 5 Rekomendasi Kebun Buah Paling Hits yang Wajib Anda Kunjungi Saat Liburan

Bak pepatah sudah jatuh tertimpa tangga. Inilah yang dialami Husni saat itu. Niat merantau agar bisa membayar utang justru gagal. Hal itu malah membuat utang baru yang lebih besar.

Kondisi tersebut membuat Husni semakin terpuruk. Belum lagi anaknya saat itu masih bayi yang membutuhkan popok dan susu. Sementara uang yang dimiliki sudah habis.

"Ongkos ke Saudi itu saya berutang juga. Tetapi gagal berangkat, makanya utang semakin banyak," bebernya.

Baca Juga: STP dan Universitas 45 Mataram Dukung Agrowisata Sangkareang, Berikan Pelatihan Irigasi Tetes di Tetebatu Selatan

Setelah dipulangkan dari penampungan, Husni iseng menonton YouTube. Ia tak sengaja melihat konten perawatan anggur impor. Dari sana ia mendapat ide untuk mencoba mengembangkan bibit anggur.

Untuk mendapatkan batang anggur, ia meminta dari orang yang hendak merusak tanamannya. Batang anggur jenis lokal itu kemudian ia coba tanam.

"Setelah dapat batang anggur lokal, tinggal polybag tidak punya. Tapi saya siasati dengan mencari bekas plastik minyak goreng di tumpukan sampah di sungai pada malam hari. Saking tidak punya modal untuk beli polybag," ungkapnya.

Bermodal tutorial di YouTube, Husni akhirnya berhasil membuat bibit anggur lokal. Bibit itulah yang dijual dengan harga Rp 15.000 per biji.

Peminat bibit anggur saat itu cukup tinggi. Bibit buatannya laku keras. Dari penghasilan itu, ia kemudian menyisihkan modal untuk membeli entres anggur impor.

"Saya belajar dari YouTube cara okulasi. Dari 200 batang yang diokulasi hanya enam yang hidup," ungkapnya.

Dari enam bibit usaha bibit anggur impornya berkembang. Satu bibit anggur saat itu dijual seharga Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu per biji. Sejak itu ia fokus memproduksi berbagai jenis bibit anggur.

Seiring berjalannya waktu, bibit anggur miliknya semakin terkenal. Ia bahkan menjadi penyuplai bibit anggur se-NTB. Namun pada tahun 2024 lalu permintaan bibit mulai berkurang, sehingga ia beralih ke produksi buah.

Husni yang hanya lulus SMP kini berhasil mengatur ritme panen anggur. Berbekal pengalaman dan tutorial YouTube, agrowisata miliknya tidak pernah sepi. "Normalnya anggur itu panen enam bulan sekali, tetapi bisa kita atur tiga bulan sekali," pungkas Husni. (SUPARDI, Lombok Timur/r7)

Editor : Redaksi
#greenhouse #plastik #Melon #agrowisata #anggur