LombokPost - Di balik rimbunnya perbukitan Desa Kekait, Kecamatan Gunung Sari, tersembunyi sebuah permata hijau yang belakangan menjadi buah bibir. Masyarakat mengenalnya dengan nama Air Terjun Tibu Ijo.
Nama Air Terjun Tibu Ijo belakangan viral semenjak ada pengunjung yang hanyut usai mendatangi lokasi ini.
Bukan sekadar destinasi wisata biasa, Tibu Ijo adalah perpaduan antara keindahan alam yang membius dan kesakralan yang dijaga ketat oleh kearifan lokal.
Untuk mencapainya, pengunjung harus memiliki stamina ekstra. Kendaraan roda empat dipaksa menyerah di jalur utama arah Lombok Barat-Lombok Utara.
Perjalanan dilanjutkan dengan sepeda motor membelah jembatan sempit sejauh dua kilometer, sebelum akhirnya kaki dipaksa mendaki bukit selama 25 menit.
Lelah itu seketika luruh saat gemericik air mulai menyapa. Namun, sebelum menyentuh titik utama, pengunjung harus menyeberangi dua aliran sungai.
Baca Juga: Surga Tersembunyi di Balik Letusan Tambora, Pesona Air Terjun Oi Marai yang Bikin Nagih
Di sinilah letak ujian sesungguhnya. Sungai yang tampak tenang itu menyimpan memori kelam. Beberapa waktu lalu, dua wisatawan terseret arus bah hingga merenggut nyawa.
Tragedi itulah yang membuat Tibu Ijo viral sekaligus meninggalkan kesan angker bagi mereka yang tak waspada.
”Memang sudah ada beberapa kejadian di lokasi ini. Ada yang tenggelam sampai yang terbaru kemarin hanyut. Makanya lokasinya dilarang atau ditutup,” jelas Kepala Desa Kekait Masjudin Dahlan.
Daya tarik utama air terjun ini terletak pada kolam alaminya. Airnya tidak bening transparan, melainkan berwarna hijau pekat layaknya batu zamrud. Konon, kedalaman Tibu Ijo mencapai tiga kali panjang pohon bambu dewasa.
Kedalaman inilah yang membiaskan warna hijau legam, memberikan sensasi dingin bagi siapa pun yang nekat menceburkan diri.
Bagi warga Kekait, Tibu Ijo adalah jantung kehidupan. Saat kemarau panjang melanda, masyarakat berkumpul di sini untuk memanjatkan doa meminta hujan.
”Ini tempat sakral bagi kami. Selain tempat berdoa, air dari sini mengalir ke bak penampungan Pamsimas yang menghidupi lebih dari 2.000 kepala keluarga di Desa Kekait,” ujar Kudbi, salah satu staf pemerintahan desa.
Meski menggoda, alam Tibu Ijo menuntut rasa hormat. Kudbi mengingatkan bahwa cuaca di lokasi air terjun seringkali menipu. ”Anak-anak sini sudah biasa main di sini, tapi mereka tahu cara membaca alam. Kalau di arah hulu langit sudah gelap, meski di sini cerah, harus segera naik,” tegasnya.
Air bah bisa datang dalam hitungan detik tanpa peringatan suara gemuruh yang jelas. Pesona Tibu Ijo memang magis, namun ia tidak mentoleransi kecerobohan. Berkunjung ke sini berarti sepakat untuk tunduk pada aturan alam. Menikmati keindahannya dengan kewaspadaan penuh. (HAMDANI WATHONI, Lombok Barat/bersambung/r8)
Editor : Redaksi