TANAH kering di Desa Segala Anyar tak selalu berarti tandus. Di tangan Amaq Rasip, lahan tadah hujan itu justru melahirkan kopi yang tumbuh subur dan menghasilkan panen menjanjikan.
----
TANAH Desa Segala Anyar dikenal sebagai tanah yang pemurah. Meski didominasi lahan kering, di tangan yang tepat tanah ini mampu melahirkan berbagai komoditas unggulan, mulai dari melon, semangka, cabai, tomat, hingga bawang merah. Namun, yang dilakukan Rakib, pria berusia 60 tahun ini, menjadi anomali yang manis.
Di atas lahan seluas 12 are, pria yang akrab disapa Amaq Rasip ini menyulap kebunnya menjadi "Kebon Kupi Langan Dadih". Tanaman yang identik dengan dataran tinggi yang sejuk justru mampu berbuah lebat di lahan tadah hujan Pujut.
“Saya sempat berpikir, apa yang bisa saya tanam di sini agar benar-benar berhasil,” kenang Amaq Rasip saat berbincang dengan Lombok Post, Senin (13/4).
Keberhasilan ini tidak datang dalam semalam. Empat tahun lalu, Amaq Rasip nekat membeli bibit kopi jenis Arabika dan Robusta. Langkah ini dianggap berani oleh warga sekitar, mengingat lahan tersebut sebelumnya ditanami padi, pisang, hingga pepaya, namun hasilnya belum memuaskan.
Kini, sekitar 300 pohon kopi di kebunnya berdiri kokoh. Tahun ini menjadi tonggak baginya. “Dua tahun lalu sempat berbuah, tapi sedikit, hanya dua sampai tiga kilogram. Sekarang, di tahun keempat, alhamdulillah baru bisa mencapai satu setengah kuintal,” ungkapnya.
Nilai ekonominya pun menggiurkan. Dengan harga Rp 90 ribu per kilogram, jerih payah Amaq Rasip terbayar. Keuletan pria berkepala enam ini terlihat dari berbagai upaya yang dilakukan agar kopi dapat bertahan di cuaca panas.
“Ini kan lahan tadah hujan. Saat kemarau, saya siram pakai air sumur bor. Di sekitar lahan juga saya tanami pohon turi sebagai peneduh agar suhunya tetap terjaga,” jelasnya.
Langkah Amaq Rasip mulai menginspirasi. Ia kini juga menyediakan bibit bagi petani lain yang ingin mengikuti jejaknya. Meski baru dua-tiga petani yang mencoba, ia yakin komoditas ini memiliki masa depan di Segala Anyar.
Kepala Desa Segala Anyar Ahmad Zaini memberikan apresiasi terhadap langkah Amaq Rasip. Menurutnya, karakteristik desa yang didominasi lahan kering bukan lagi penghalang untuk berinovasi.
“Amaq Rasip telah membuktikan bahwa dengan kegigihan dan kesabaran, lahan tadah hujan pun bisa menjadi rumah bagi kopi Arabika dan Robusta,” puji Zaini.
Pemerintah Desa (Pemdes) Segala Anyar tidak tinggal diam melihat potensi ini. Zaini menegaskan pihaknya siap mengawal dari hulu hingga hilir. Pemasaran produk nantinya akan dibantu melalui Koperasi Desa Merah Putih.
Tak hanya soal pasar, desa kini tengah menggodok konsep pertanian terpadu dan berkelanjutan. Melalui BUMDes dan kelompok petani muda, mereka berikhtiar mengembangkan pupuk organik dari kotoran hewan (kohe) yang melimpah di desa.
“Kami ingin seluruh hasil pertanian warga, termasuk kopi ini, memiliki nilai tambah. Kami optimis Segala Anyar akan menjadi desa yang benar-benar mandiri secara pangan dan ekonomi,” kata Zaini.
Editor : Akbar Sirinawa