LombokPost - Barang thrift banyak diburu karena menawarkan kualitas brand ternama dengan harga jauh di bawah produk baru. Tren ini populer di kalangan anak muda karena menjadi simbol gaya hidup yang stylish dengan budget yang ramah di kantong.
Puluhan orang memadati toko kecil di Pasar Karang Sukun, Kota Mataram, Kamis lalu (23/4). Mereka sibuk memilih berbagai pakaian dengan beragam brand luar negeri. Banyak jenis yang tersedia. Mulai dari kaos, celana, hem, jaket, hoodie, hingga sepatu.
Pakaian tersebut banyak yang digantung berjejer dalam hanger. Tapi lebih banyak lagi yang ditumpuk hingga menggunung di lantai toko. Para pengunjung dengan taletan memilih satu per satu. Setelah sesuai dengan yang dicari, barang-barang langsung dikemas dan dibayar.
"Lumayan tadi dapat lima kaos dan dua hem," kata Habil Agi Pratama dengan wajah ceria kepada Lombok Post.
Tujuh lembar pakaian itu dibayar Rp 200 ribu. Artinya satu kaos atau hem harganya Rp 28 ribu. Harganya yang sangat ramah di kantong bagi anak kuliahan seperti Habil Agi Pratama.
"Bagi saya murah, sih. Kualitas kainnya juga bagus-bagus," ujarnya.
Baca Juga: WASPADA! Daftar Penyakit yang Bisa Menular Lewat Pakaian Bekas Dari Thrifting
Ia sengaja mencari lebih banyak kaos karena bisa dipakai untuk berbagai kegiatan. Bisa dipakai untuk olahraga atau nongkrong santai dengan rekan-rekannya. Adapun maju hem ia pakai untuk kuliah. "Ini tadi cepat-cepatan. Kalau nggak diambil nanti keduluan orang lain," tambahnya laku tertawa.
Pemuda 19 tahun itu mengaku lama menyenangi thrifting. Persisnya sejak masih di bangku SMP. Menurutnya, pakaian impor bekas itu memiliki kualitas yang baik. Bahan kainnya juga adem dan lembut.
"Murah tapi kualitas tidak murahan. Barang-barangnya juga nggak pasaran. Jadi bangga ada kalau dipakai," ucap pria asal Desa Sesait, Kayangan, Kabupaten Lombok Utara (KLU) itu.
Baca Juga: Tindakan Keras Menkeu Purbaya Soal Thrifting Baju Bekas: Siapa yang Tolak, Saya Tangkap!
Zikrul Ayubi, 20 tahun, juga menyukai thrifting. Ia menyukai item vintage atau pakaian yang jarang ditemukan di toko ritel modern. Kualitas bahannya juga lebih tahan lama dibandingkan dengan fashion baru. Ini memberikan kesenangan dan kepuasan tersendiri baginya. "Yang pasti juga murahnya itu. Jadi pas dengan budget yang saya punya," ujarnya.
Menariknya bukan hanya kaum Adam yang tertarik. Ibu-ibu hingga remaja cewek juga ikut memburu thrifting di Pasar Karang Sukun. Baiq Anggun Pertiwi, salah satunya. Ia mengaku sering berburu pakaian impor bekas asal Korea. Apalagi alasannya kalau bukan dipengaruhi atau demam K-Pop atau Korea Pop. "Awalnya suka nonton drakor (Drama Korea, Red). Saya lihat outfit pemeran ceweknya bagus-bagus, makanya jadi ikut tertarik," tutur lalu tertawa.
Nah, untuk memenuhi outfit agar bisa tampil stylish ala artis Korea, Pasar Karang Sukun menjadi jawabannya. Anggun pun kerap berburu outfit ala-ala Korea. "Saya suka kemeja putih dengan trousers. Plus satu lagi sneakers putih. Jadi terlihat casual," ujarnya.
Pasar Karang Sukun memang menjadi jujugan para pecinta thrifting. Pasar yang terletak di Jalan Amir Hamzah itu sudah dikenal cukup lama sebagai pasar tradisional yang menjajakan pakaian bekas impor.
Pasar ini menjadi tujuan utama bagi pecinta thrift yang mencari baju bekas bermerk dengan harga murah, unik, dan sering memiliki kesan vintage. Walaupun produk baju bekas impor tersebut masih menjadi polemik dan bahkan dilarang, tapi Pasar Karang Sukun bersama banyak lagi thrift store lainnya masih eksis dan bahkan banyak dicari.
Salah satu penjual yang menjadi langganan pengunjung adalah Asmudin, 52 tahun. Warga Abian Tubuh Baru, Sandubaya, Kota Mataram, itu sudah lima tahun terakhir terlibat dalam bisis jual beli pakaian impor bekas. Ia terjun di bisnis itu karena dinilai cukup menjanjikan secara pasar. "Segmen pasarnya luas. Mulai dari anak-anak, remaja, orang dewasa bahkan orangtua," kata Asmudin.
Pelanggannya datang dari seantero Lombok. Mulai Sekotong, Praya, Selong, Tanjung, hingga Bayan. Bahkan ia juga kerap mengirim barang sampai ke Sumbawa dan Bima. "Selain eceran saya juga melayani grosiran," ujarnya.
Menurutnya, yang paling banyak diburu adalah outfit untuk anak-anak remaja. Baik cewek maupun cowok. Mulai dari kaos, kaos shirt, hoodi, dan jaket.
Tapi di tengah tingginya permintaan pasar, Asmudin mengakui bisnis thrifting mulai tersendat sejak 2026. Itu setelah pemerintah mengeluarkan kebijakan yang membatasi impor pakaian bekas. "Jadi tidak seperti dulu lagi. Meskipun peminat masih tinggi, tapi barangnya sangat terbatas," tutur ayah tiga anak itu. (UMAR WIRAHADI, Mataram /r3)
Editor : Redaksi