Lampu Alun-Alun Tastura baru saja menyala ketika dentum bas dan petikan gitar memecah malam Kota Praya. Di tengah keramaian warga yang menikmati suasana, para musisi jalanan itu setia menjaga jantung kota tetap hidup lewat panggung swadaya mereka.
----
ALUN-ALUN Tastura malam itu tak sekadar menjadi ruang terbuka hijau. Di bawah temaram lampu kota, suara petikan gitar dan dentum bas memecah kebisingan kendaraan yang melintas. Di salah satu sudut, lagu Arjuna milik Dewa 19 mengalun apik, dibawakan penuh penghayatan oleh band lokal yang tampil malam itu.
Suasana terasa hidup. Para remaja asyik mengarahkan ponsel mereka, mengabadikan momen untuk diunggah ke media sosial. Tak jauh dari sana, keluarga kecil dan kelompok pemuda duduk bersila di atas paving, menikmati camilan hangat sambil berbincang ringan ditemani harmoni musik yang mengisi udara Praya.
Baca Juga: Kasasi Inkrah, Kejari Eksekusi Mantan Bupati Lombok Tengah
Inilah pemandangan rutin yang bertahan selama setahun terakhir. Empat kali dalam seminggu, malam Selasa, malam Kamis, malam Sabtu, dan malam Minggu, Alun-Alun Tastura memiliki denyut yang berbeda.
Di balik keriuhan itu, ada dedikasi yang tak ternilai rupiah. Musisi-musisi yang tergabung dalam Komunitas Musik Jalanan Mandalika (KMJM), Bobrock, Auramor, hingga Bomers bergerak secara swadaya. Mereka membawa peralatan sendiri, mengangkat pengeras suara, hingga membayar listrik secara mandiri demi menghidupkan taman kota kebanggaan Lombok Tengah.
“Kami ingin Tastura punya ruh. Ini satu-satunya kegiatan musisi yang bisa konsisten selama satu tahun penuh di daerah ini,” ujar Jafar Sidik, inisiator gerakan tersebut.
Baca Juga: Donasi LCR Tembus Rp 1,1 Miliar, Fokus Poles Kualitas 6.000 Guru di Lombok Tengah
Meski rutin menghibur, mereka tidak mematok tarif. Sebuah tip box diletakkan seadanya. Hasilnya kadang hanya terkumpul Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu per malam. Jumlah itu bahkan belum cukup menutup biaya transportasi alat-alat musik yang mereka angkut sendiri.
Namun bagi mereka, ada kepuasan yang lebih besar dari sekadar nominal, yakni ketika melihat bakat-bakat muda mulai berani tampil di panggung terbuka yang mereka ciptakan.
Setelah berjalan selama satu tahun secara swadaya, titik terang mulai terlihat. Dinas Pariwisata melalui Bidang Sumber Daya Manusia (SDM) dikabarkan segera memberikan bantuan perangkat sound system sebagai bentuk apresiasi atas konsistensi mereka.
Namun bantuan alat bukan akhir dari perjuangan. Para musisi berharap pemerintah daerah tidak menutup mata terhadap keberlanjutan ekosistem kreatif tersebut. Dukungan berupa insentif maupun kebijakan yang berpihak dinilai penting agar mereka tidak terus-menerus nombok demi menghibur masyarakat.
Kehadiran BUMN maupun BUMD melalui program kemitraan juga menjadi harapan besar. Dengan dukungan yang lebih profesional dan pendanaan yang stabil, pertunjukan musik swadaya di Tastura diyakini bisa berkembang menjadi ikon wisata malam di Lombok Tengah.
Melodi yang rutin hadir setiap pekan itu ternyata juga menjadi magnet bagi pertumbuhan ekonomi mikro di sekitar alun-alun. Kerumunan penonton yang datang menikmati musik otomatis menjadi pasar potensial bagi para pelaku UMKM.
“Pedagang kaki lima, mulai dari penjual jagung bakar, minuman segar, hingga kudapan ringan, mengaku meraup omzet yang jauh lebih stabil sejak panggung swadaya ini rutin digelar empat kali seminggu,” cetusnya.
Editor : Prihadi Zoldic