Di tengah pasang surut kunjungan wisatawan di Sirkuit Mandalika, Lalu Mian dan istrinya gigih berjualan pakaian serta kain khas Sasak demi menghidupi keluarga. Lewat perjuangan tersebut, mereka sukses memenuhi kebutuhan dapur hingga mampu menyekolahkan anak sampai tingkat SMK.
----
LANGIT tampak mendung di atas Sirkuit Internasional Pertamina Mandalika, Jumat (22/5) pagi. Di bawah bayang-bayang awan abu-abu itu, belasan pedagang pakaian mulai sibuk membuka lapak tepat di depan sirkuit kebanggaan Provinsi NTB ini.
Tumpukan pakaian yang semula terbungkus kain lebar mulai ditata rapi di atas meja. Beberapa pasang pakaian anak-anak dengan warna mencolok tampak dipajang, bergerak-gerak ditiup angin pagi yang berembus dari arah pantai.
Baca Juga: Akhir Pekan di Bawah Tenda Lembah Datu, Anak Muda Ikut Mengelola dan Membuka Peluang Ekonomi Baru
Bagi para pedagang pakaian dan kain di kawasan ini, sirkuit bukan sekadar lintasan balap kelas dunia. Sirkuit menjadi gantungan hidup. Mereka menaruh harapan besar pada keberlanjutan dan ramainya agenda di sirkuit.
Mereka sangat berharap semakin banyak event skala nasional maupun internasional terus digelar di sana. Sebab, jika sirkuit sepi agenda, roda ekonomi mereka praktis berputar lambat. Mereka hanya bisa mengandalkan kedatangan wisatawan yang kebetulan berlibur dan menyempatkan diri berfoto di depan sirkuit.
“Biasanya ramai menjelang sore atau saat momen liburan,” ujar Lalu Mian, salah seorang pedagang asal Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah.
Puluhan potong pakaian telah ia sediakan di lapaknya. Mulai dari kaus bertuliskan Mandalika, Sirkuit Mandalika, hingga jersei anak-anak berbagai ukuran. Pakaian-pakaian ini sengaja ia kulak langsung dari kawasan Cakranegara, Kota Mataram.
Di hari biasa, Lalu Mian rata-rata bisa menjual hingga lima potong pakaian. Namun, saat momentum liburan tiba atau ketika deru mesin motor balap mulai terdengar di sirkuit, omzetnya melonjak. Ia mampu menjual belasan potong baju per hari.
“Belum lagi kalau ada yang berminat membeli kain songket khas Sasak,” terang bapak tiga anak ini tersenyum.
Lalu Mian bukan orang baru dalam dunia mengais rezeki di kawasan wisata selatan Lombok ini. Ia sudah puluhan tahun berjualan pakaian. Jauh sebelum sirkuit megah itu berdiri, ia bertahun-tahun berjalan kaki keliling menjajakan kain dan baju di sepanjang Pantai Kuta.
Dari peluh dan konsistensinya bertahan sebagai pedagang, Lalu Mian membuktikan bahwa pariwisata bisa mengubah nasib. Dari hasil jualan baju ini, ia mampu membiayai dan menyekolahkan anak-anaknya, minimal hingga menamatkan tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Sebuah pencapaian yang ia syukuri demi masa depan generasi penerusnya.
Namun, Lalu Mian tidak berjuang sendiri. Untuk menopang kebutuhan sehari-hari yang kian menghimpit, sang istri juga ikut turun tangan. Saban hari, istrinya ikut berkeliling menjajakan kain tenun khas Sasak di sepanjang Pantai Kuta.
Bagi keluarga kecil ini, hasil jualan sang istri menjadi penyambung napas yang sangat berarti. “Hasil jualan (istri) untuk tambah-tambah isi dapur dan uang jajan si bungsu,” tuturnya lirih.
Ia sangat berharap pihak pengelola dan pemerintah daerah terus menghidupkan Sirkuit Mandalika dengan berbagai kalender acara. Bagi Lalu Mian dan warga lingkar sirkuit lainnya, banyaknya event berarti banyaknya tamu yang datang. Dari kedatangan para tamu itulah, kepulan asap dapur dan masa depan anak-anak mereka tetap terjaga.
Editor : Kimda Farida