LombokPost - Matahari masih malu menampakkan diri pagi itu. Tapi sejumlah perempuan di Dasan Tereng, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat sudah siap dengan alat kerjanya masing-masing, sebuah karung kosong yang disiapkan.
Tak lama, tanpa komando, tujuh perempuan yang kesemuanya mengenakan topi petani itu turun ke area berlumpur, dengan air setinggi paha. Itu adalah lahan untuk area tanam kangkung. Luasnya sekitar tiga hektare.
Tangan terampil mereka begitu cekatan bekerja. Kangkung dipetik, diikat, dibersihkan, dimasukkan ke dalam karung. Begitu seterusnya, hingga dalam waktu beberapa menit saja, sepetak lahan sudah habis. Mereka lalu bergeser ke petak berikutnya, mengulang hal yang sama. “Kerjanya sampai siang, istirahat sebentar, terus lanjut lagi,” kata Rukiah, salah seorang butuh tani yang bekerja pagi itu.
Baca Juga: NTB Punya Aplikasi Keren yang Berguna saat Terjadi Bencana, Ada Peran Australia di Sana
Target masing-masing pemetik kisaran 400 ikat. Semakin banyak yang mereka raih, semakin banyak pula pundi Rupiah yang dihasilkan. “Ya dapat Rp 50 ribu lah setengah hari,” katanya memberi gambaran kasar pemasukan.
Dari kejauhan, tampak sejumlah kalangan mengamati para buruh tani tersebut. Salah satunya adalah perempuan berjilbab bernama Sri Widyastuti.
Siapa sangka dia merupakan seorang profesor dari Universitas Mataram, yang merupakan dosen senior Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri. Prof Sri turut meneliti kangkung Lombok. “Tidak terdeteksi residu pestisida,” ujarnya.
Baca Juga: Pemerintah Australia Ikut Turun Tangan Bantu Kelompok Disabilitas NTB, Begini Caranya
Hasil itu didapat setelah uji lab komprehensif dilakukan di Surabaya. Tak berhenti di situ, kangkung Lombok yang sampelnya di ambil dari sejumlah titik juga menunjukkan tidak terdeteksi kandungan logam berat.
Artinya, secara sederhana, mengkonsumsi kangkung itu aman-aman saja. Apalagi, untuk urusan kandungan gizinya, Prof Sri memaparkan panjang lebar apa saja kelebihan kangkung. “Vitamin bagus, klorofil tinggi, ada senyawa-senyawa terkait polifenol, bagus seperti sayur hijau yang lain,” ujarnya yang kala itu juga ditemani sederet profesor peneliti lain dari Unram.
Hebatnya, kangkung Lombok yang tampak sederhana ini juga hampir mustahil di tanam di tempat lain. Beragam upaya dicoba membawanya ke luar pulau seribu masjid. Hasinya, rasa menjadi berbeda, bahkan tekstur pun berubah, dan kualitasnya menurun. “Sehingga kalau ada rumah makan di Jakarta menyajikan pelecing kangkung enak, pasti itu bahan bakunya dari Lombok, karena kalau ditanam di tempat lain rasanya berbeda,” tegasnya.
Kangkung Lombok yang kesohor itu membuat Pemerintah Australia kepincut membantu. Melalui ACIAR Agriculture for Tourism (Ag4T), Australia memberi sumbangsih. Secara sederhana, proyek ini membantu memperkuat hubungan antara petani kecil dengan pasar pariwisata. “Selain kangkung, kami juga mengintervensi nanas dan ayam kampung,” kata Jeremy Badgery-Parker, pimpinan proyek Ag4T.
Budi daya kangkung di Lombok berakar pada praktik yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ada 1.320 petani yang serupa Rukiah, mengandalkan budi daya ini sebagai sumber penghasilan. Di Narmada saja, dari desa-desa semisal Lembuak menunjukkan pendapatan tahunan rata-rata Rp 39 juta, dan pendapatan rumah tangga rata-rata Rp 26 juta.
Kehadiran pihak Australia mendorong peningkatan dan penyeragaman standar kangkung Lombok. Dengan demikian, pihak hotel, restoran, dan cafe (Horeca) tak ragu menerima kangkung Lombok. “Melalui program ini, kami dapat manfaat soal kualitas produk, akses pasar, juga hubungan yang baik dengan petani dan pembeli,” ujar Pemilik Rumah Makan Taliwang 1 Mohammad Najib Rodi.
Rumah makannya setiap hari menyajikan 150-300 ekor ayam taliwang. Lengkap dengan pelecing kangkung sebagai hidangan yang wajib mendampingi. “Ayam taliwang dan pelecing kangkung ini seperti sendok dan garpu yang tak bisa dipisahkan,” ujarnya.
Andre Wahyu Jatnika, petani pembeli kangkung mengatakan, saat ini mengelola delapan hetare lahan produksi kangkung. Itu belum termasuk lahan lain tempatnya mengambil kangkung untuk didistribusikan, dia bekerja sama dengan 15 petani tetap di berbagai lokasi, mempekerjakan 34 pekerja yang 30 diantaranya ada perempuan. Hal itu memperlihatkan dampak keekonomian kangkung Lombok tidaklah kecil.
Bersama, orang-orang yang terlibat dalam program ini turut memastikan kangkung Lombok tetap eksis, kangkung Lombok tetap sehat, dan kangkung Lombok tetap enak untuk dinikmati siapa saja. (*/r6)
Editor : Prihadi Zoldic