Mandalika Festival of Speed (MFoS) putaran kedua menjadi panggung pembuktian bagi Nadeem Zimraan Rustombi. Pembalap Rocket Racing Bali ini menyapu bersih podium tertinggi. Di balik setir jet daratnya, ada disiplin baja, kalkulasi mekanik, dan sebuah ketenangan yang lahir dari ruang tunggu sirkuit.
----
JARUM jam menunjuk angka 11.15 Wita. Dari balik kaca transparan Royal Box 26 Sirkuit Internasional Mandalika, sisa hawa panas lintasan selepas Race 2 Superstar Sportcar Series, Minggu (14/6), masih terasa.
Di dalam ruangan, suasananya berbeda. Riuh obrolan, tawa lepas kru mekanik, dan tepuk tangan apresiasi memenuhi ruang VIP itu.
Di tengah keramaian, Nadeem Zimraan Rustombi duduk santai. Pembalap asal Bali itu mengenakan racing suit yang masih setengah terbuka. Wajahnya tenang, meski gurat lelah setelah melawan G-Force dan suhu ekstrem di dalam kokpit mobil bernomor lambung 9 masih tampak jelas.
Baca Juga: MFoS Putaran Kedua 2026: Wadah Pembibitan Pembalap Menuju Pentas Dunia
“Kita semua menang. Kita memenangkan semua ronde yang ada. Berkat Tuhan hasilnya terus bertambah,” ujarnya pada Lombok Post.
Akhir pekan kemarin memang menjadi milik Rocket Racing Bali. Nadeem tampil dominan sejak bendera start berkibar pada Sabtu (13/6). Di Race 1, ia tak tersentuh dengan catatan waktu 16 menit 31,946 detik.
Dominasi itu berlanjut keesokan harinya di Race 2. Pemuda 19 tahun itu mempertajam catatan waktunya menjadi 16 menit 24,530 detik.
Menariknya, meski unggul jauh dari rival terdekatnya, Billy Wish dari Wish Motorsport, Nadeem menyebut tantangan terbesar di Mandalika kali ini bukan datang dari belakang. Tantangan itu datang dari cuaca sirkuit yang terkenal berat bagi fisik pembalap.
“Tidak ada kendala (pada mobil), cuma capek karena kepanasan. Tadi gap sudah sekitar 20 detik, jadi saya tidak terlalu khawatir sampai finis,” ceritanya sambil menyeka keringat.
Baca Juga: Sapu Bersih Seri Kedua, Nadeem Rustombi Rajai MFoS 2026
Bagi Nadeem, menaklukkan Sirkuit Mandalika membutuhkan intuisi tajam. Pada sesi awal, lintasan sempat licin. Aspal sirkuit sepanjang 4,31 kilometer itu digunakan bergantian oleh beberapa kelas balap lain dalam ajang Kejurnas Indonesia Touring Car Race (ITCR) 2026.
Diskusi intens dengan para engineer sebelum balapan berbuah manis. Tim menemukan format setelan mobil yang pas. Nadeem bahkan punya titik emosional sendiri dengan sirkuit kebanggaan masyarakat NTB ini.
“Tikungan favorit saya itu ada di sektor 7 dan 8. Di sana mobil bisa dipaksa melaju dengan kecepatan tinggi, sangat menantang. Tapi sebaliknya, dua tikungan sebelum garis finis itu yang paling sulit. Butuh titik pengereman yang sangat presisi. Salah sedikit saja mengerem, mobil bisa kehilangan racing line. Itu bagian yang paling tricky,” urai Nadeem.
Baca Juga: Digelar Dua Putaran, Tahun Ini Formula Indonesia Mengaspal di Sirkuit Mandalika
Keberhasilan itu tidak lepas dari perhatian Bupati Jepara Witiarso Utomo. Pria yang akrab disapa Mas Wiwit itu sengaja hadir langsung ke Mandalika untuk memberikan dukungan moral. Di mata Mas Wiwit, rahasia kecepatan Nadeem di lintasan terletak pada gaya hidupnya di luar sirkuit.
“Disiplinnya luar biasa, mulai dari latihan, pola makan hingga persiapannya. Saya berharap Nadeem tidak hanya berjaya di tingkat nasional, tetapi juga mampu mengharumkan nama Indonesia di ajang internasional,” puji Mas Wiwit.
Di sudut Royal Box yang sama, CEO Rocket Racing Bali Purwo Handoko tampak tersenyum puas. Namun, ia tetap menyisipkan nada evaluasi. Purwo membuka rahasia bahwa sebulan lalu, jet darat andalan mereka sempat didera problem teknis. Beruntung, kerja keras tim mekanik membuat mobil nomor 9 tampil tanpa cela di Lombok.
Baca Juga: Loteng Pertahankan Juara Umum MTQ NTB 2026
Meski demikian, Purwo menilai potensi Nadeem masih bisa digali lebih dalam. Target berikutnya mengembalikan performa terbaik sang pembalap ke catatan waktu paling puncak.
“Catatan lap terbaiknya di Mandalika ini sebenarnya pernah menyentuh 1 menit 33 detik, sedangkan pada sesi kualifikasi kali ini baru di angka 1 menit 35 detik. Dengan konsistensi, saya yakin dia bisa kembali ke angka 1 menit 33 detik itu,” tegas Purwo optimistis.
Editor : Jelo Sangaji