LombokPost - Aris Djanardono menyeriusi lari justru setelah mengalami putus tendon saat bermain badminton.
World Marathon Majors-nya yang pertama dijalani tanpa pelatih khusus, lebih banyak mengikuti menu latihan kawan-kawannya yang lebih dulu menjadi pelari.
TENDON putus saat bermain badminton itu membuat Aris Djanardono harus mengenakan gips kaki dari paha sampai tumit selama 1,5 bulan. Jelas menyulitkan mobilitasnya.
Baca Juga: Seribu Pelari Ramaikan Event Lombok Timur BeRari Half Marathon
Kegiatan sehari-hari jadi terbatas akibat cedera pada 2017 itu. Selama setahun, ia tidak dapat berlatih lari sama sekali.
Pebisnis yang berdomisili di Surabaya itu cuma bisa melatih bagian tubuh lain lewat strength training.
Tapi, dari titik itulah suami Jenny Lumanto tersebut justru tertantang. Dia makin serius menekuni lari dan mulai bersiap untuk World Marathon Majors (WMM)-nya yang pertama.
Baca Juga: Kapolres Cup RUNMadhan 2026 Sukses Digelar, Pelari Mancanegara Ikut Naik Podium
Sekitar sembilan tahun berselang, sepulangnya dari Boston Marathon 2026 pada April lalu, Aris tak hanya membawa pulang medali dari ajang prestisius tersebut.
Tapi juga medali Six Star Marathon.
Six Star Marathon adalah pencapaian prestisius dalam dunia lari maraton ketika seorang pelari berhasil menyelesaikan enam perlombaan maraton paling bergengsi di dunia yang tergabung dalam Abbott World Marathon Majors.
Baca Juga: Dilepas Bupati LAZ, 500 Pelari Ramaikan AITTA Fun Run 2025
“Akhirnya sudah di tangan. Tak menyangka saya bisa sampai ke titik ini,” ucap Aris sembari menunjukkan medali barunya itu kepada Jawa Pos yang menemuinya di tempatnya berlatih lari di kawasan CitraLand, Surabaya, pada Sabtu (6/6), dua pekan lalu.
Bermula Rekreasional
Aris tak menyangka karena ketika mulai menekuni lari pada 2016, dia melakukannya semata untuk rekreasional.
Kebetulan saat itu lari sedang menjadi tren di Surabaya. Selain itu, sejak remaja dia memang menyukai olahraga, khususnya badminton dan voli.
“Jadi, lari cuma pelengkap, buat latihan fisik saja. Tahun 2016 itu masih ikut event kecil-kecil sama istri, yang cuma 5K gitu,” katanya.
Badminton justru lebih menyita waktunya sampai kemudian dia mengalami cedera putus tendon tadi. Setelah pulih, tepok bulu tetap digelutinya dan kembali mengalami cedera serupa pada 2021.
Bedanya, kalau yang pertama di kaki kiri, yang kedua di kaki satunya. “Jadi, lengkap deh dua kaki merasakan putus tendon,” ucapnya sambil menggelengkan kepala.
Pengalaman WMM pertamanya terjadi di Berlin Marathon pada 2019. Dia mempersiapkan diri tanpa memiliki pelatih khusus.
Aris lebih banyak mengikuti kawan-kawannya yang sudah lebih dulu menjadi pelari. Menu-menu latihan ikut dilahap, mulai long run, interval, hingga trik-trik lari dan cara memilih gear.
“Sampai sekarang kalau ikut race pasti cari yang ada temannya. Support system itu penting. Nggak mau kalau sendirian,” jawab Aris, kemudian tertawa.
Keberhasilan di Berlin Marathon itu tak serta-merta langsung mendorong Aris menaklukkan WMM lain. Ia lebih banyak mengikuti race di dalam negeri bersama teman-teman dan sang istri.
Rute Menantang
Pada 2023, Aris merampungkan London Marathon dan Chicago Marathon. Disusul Tokyo Marathon 2024, tempat dia mencatatkan waktu terbaiknya, yaitu 4 jam 52 menit 13 detik.
Setahun kemudian, Aris menyelesaikan Sydney Marathon dan New York City Marathon. Terakhir, Boston Marathon 2026.
Menurutnya, Boston Marathon memang cocok menjadi gong. Sebab, rutenya sangat menantang. Para peserta harus menaklukkan elevasi 300 meter.
“Memang kejam banget itu rutenya,” tutur Aris, lalu terkekeh.
Aris masih mengincar Cape Town Marathon dan Shanghai Marathon. ”Dua-duanya bakal masuk World Marathon Majors. Nah, kalau sudah resmi, baru saya mau lari di sana. Perkiraannya sih tahun depan ya,” jawabnya, dengan sumringah.
Sydney Marathon baru menjadi WMM ke-7, sehingga ia sudah menjadi pemegang unofficial Seven Star Marathon. Jika Cape Town Marathon dan Shanghai Marathon berstatus WMM, bakal ada medali Nine Star Marathon yang diincar Aris.
”Udah penasaran bakal seperti apa bentuknya,” ujarnya. (Retno Dyah Agustina, Surabaya/ttg/JPG/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post Online