Bilebante pernah dikenal sebagai kawasan tambang pasir. Kini, desa itu berdiri sebagai desa wisata hijau, meraih penghargaan nasional, lalu menutupnya dengan juara satu Lomba Desa Tingkat Kabupaten Lombok Tengah 2026.
----
SUASANA halaman kantor Bupati Lombok Tengah pada Jumat pagi (19/6) tampak semarak. Ribuan aparatur sipil negara (ASN) berbaju olahraga memadati area, seusai mengikuti senam bersama.
Di tengah hilir mudik abdi negara dan riuh obrolan pagi, langkah Kepala Desa Bilebante Asrok Mudailun tampak mantap. Ia mengenakan kaus olahraga kombinasi merah dan biru. Gurat bahagia tak bisa disembunyikan dari wajahnya.
Pagi itu, Bilebante baru saja menorehkan tinta emas. Desa itu menyabet juara satu Lomba Desa Tingkat Kabupaten Lombok Tengah tahun 2026.
“Alhamdulillah, prestasi ini adalah buah dari kerja keras bersama. Ini hasil keringat tim, perangkat desa, dan seluruh lapisan masyarakat Bilebante,” ujar Asrok membuka perbincangan dengan Lombok Post di sela riuh suasana halaman kantor bupati.
Bagi publik Lombok Tengah, lompatan prestasi Bilebante bukan hal baru. Itu lahir dari konsistensi panjang. Jauh sebelum menggenggam trofi juara lomba desa tahun ini, Bilebante sudah mencuri perhatian di tingkat nasional.
Pada ajang Wonderful Indonesia Award (WIA) 2025, desa ini dinobatkan sebagai Juara Umum atau Desa Wisata Terbaik Nasional oleh Kementerian Pariwisata RI.
Melihat ke belakang, Asrok mengisahkan transformasi Bilebante lahir dari komitmen bersama. Desa yang kini hijau royo-royo dan memanjakan mata wisatawan itu dulu kawasan bising dan gersang akibat aktivitas tambang pasir.
“Kami bersama-sama mengubah mindset dan lanskap desa. Dari yang semula dikenal sebagai lokasi tambang pasir, kini berubah total menjadi desa wisata hijau,” kenangnya.
Baca Juga: Akhir Pekan di Bawah Tenda Lembah Datu, Anak Muda Ikut Mengelola dan Membuka Peluang Ekonomi Baru
Asrok menegaskan, tidak ada formula rahasia di balik capaian itu. Kuncinya keterbukaan dan pelayanan. Di bawah komandonya, Bilebante memperkuat fondasi administrasi desa untuk melayani masyarakat secara prima.
Sistem pemerintahan desa digeser menuju arah yang lebih transparan, akuntabel, dan partisipatif. Warga tidak lagi menjadi penonton. Mereka menjadi aktor utama pembangunan.
Meski bertabur penghargaan, Asrok enggan jemawa. Bagi dia, mempertahankan dan merawat prestasi jauh lebih menantang. Pihak desa rutin menggelar evaluasi berkala untuk memetakan kelemahan yang perlu diperbaiki.
Baca Juga: Wakil Ketua DPR RI Sari Yuliati Minta Kasus Dugaan Pembakaran Santri di Lombok Tengah Diusut Tuntas
“Kami di Desa Bilebante terus menggali potensi apa saja yang dimiliki, diasah, dan digodok untuk perencanaan ke depan. Setiap desa punya potensi dan inovasi masing-masing, pertanyaannya tinggal kembali ke diri sendiri, mau atau tidak?” cetusnya.
Kini, setelah mengunci gelar terbaik di tingkat kabupaten, Bilebante menyiapkan target berikutnya. Asrok optimistis desanya mampu berbicara banyak di Lomba Desa Tingkat Provinsi NTB, bahkan merebut tiket mewakili Bumi Gora di level nasional.
“Gelar juara kabupaten ini bukan garis finis, tapi bahan bakar baru. Ini menjadi motivasi bagi kami untuk merencanakan pembangunan desa dengan jauh lebih baik lagi ke depan,” pungkas Asrok.
Editor : Kimda Farida