Hotel, restoran, dan vila terus tumbuh di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika. Muhammad Doni Muliadi justru melihat satu kebutuhan lain yang belum banyak dilirik, yakni layanan medis darurat berstandar internasional bagi wisatawan dan masyarakat sekitar.
----
Pilihan itu membawa Doni mendirikan Klinik Kuta Emergency. Di tengah pesatnya pertumbuhan kawasan Kuta, ia mengambil jalur bisnis yang berbeda dari kebanyakan pengusaha lain.
Kelahiran Praya, 25 Agustus 1994, itu bukan sosok asing dalam dunia bisnis di kawasan Kuta. Namun, ketika banyak pengusaha berlomba membangun hotel, restoran, atau vila mewah, Doni memilih jalan berbeda. Jalan yang saat itu belum banyak dilirik.
Baca Juga: InJourney Airports Dukung Konservasi Bahari hingga Ekonomi Warga
“Dari segi hotel, restoran, vila ini kan sudah banyak ya. Kenapa tidak kita pilih prioritas yang lain dan belum ada?” ujar Doni santai saat berbincang dengan Lombok Post.
Keputusannya mendirikan Klinik Kuta Emergency berangkat dari kejelian membaca masa depan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika. Doni menyadari pertumbuhan pariwisata Kuta tidak cukup hanya ditopang akomodasi. Kawasan wisata berkelas dunia juga membutuhkan fasilitas kesehatan berstandar internasional.
Tanpa ragu, ia memanfaatkan jejaring dan relasinya di luar negeri. Doni berusaha meyakinkan para mitra bahwa Kuta membutuhkan layanan medis darurat yang andal untuk mengimbangi daya tarik pariwisatanya.
Baca Juga: Literasi dan Numerasi Loteng Masih Rendah, Wabup Nursiah Dorong Sekolah Tingkatkan Minat Baca
Doni tidak memiliki latar belakang pendidikan medis. Ayah dua anak itu merupakan lulusan Manajemen Bisnis. Keberaniannya memasuki industri kesehatan lahir dari latar belakang keluarga yang dekat dengan dunia kesehatan, dorongan relasi, dan keyakinan terhadap ilmu yang dimilikinya.
Bagi Doni, bisnis kesehatan dan akomodasi memiliki fondasi manajemen yang tidak jauh berbeda. Ia juga mengelola beberapa penginapan di Kota Praya. Namun, perjalanan membangun Klinik Kuta Emergency tidak semudah membalikkan telapak tangan.
“Selama lima tahun berdiri, berbagai tantangan pasang surut industri medis dan pariwisata telah dilewati. Namun, konsistensi menjadi kuncinya,” ujar Doni.
Mengelola bisnis kesehatan bagi Doni bukan sekadar mengejar keuntungan. Ia memandangnya sebagai komitmen hidup. Prinsip hidup sehat yang diterapkan dalam keseharian turut mencerminkan caranya menjalankan klinik.
Baca Juga: Pathul Serukan Perlindungan Anak hingga Ruang Digital
Lima tahun mengelola Klinik Kuta Emergency baru menjadi permulaan. Doni melihat pembangunan KEK Mandalika terus berkembang. Visinya pun tidak berhenti pada status klinik. Ia menyimpan mimpi besar untuk mengembangkannya menjadi rumah sakit.
“Harapan ke depan, tentu kita ingin klinik ini berkembang dan bisa naik status menjadi rumah sakit,” ungkap Doni optimistis.
Menurut Doni, keberadaan rumah sakit berstandar internasional tidak hanya melengkapi fasilitas pariwisata Mandalika. Rumah sakit juga dapat memberi jaminan keselamatan dan kenyamanan bagi wisatawan lokal, mancanegara, serta masyarakat sekitar.
Baca Juga: Klinik Kuta Emergency Perkuat Layanan Medis di Mandalika
Di tengah arus wisatawan dan ajang olahraga sekelas Porprov NTB yang memadati Mandalika, fasilitas kesehatan yang dirintis Doni kini menjadi salah satu penopang kenyamanan. Klinik itu melayani siapa saja yang datang menikmati keindahan Lombok.
Editor : Akbar SirinawaSumber : Liputan Berita Lombok Post