Pelatihnya Para Pelatih Indonesia Itu Berpulang : M Basri, sang Motivator Ulung dan Penakluk Kebandelan Pemain

Redaksi • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 15:06 WIB
SELAMAT JALAN LEGENDA: M Basri didampingi sang anak, Rizal (kanan), ketika dijenguk Aji Santoso (kiri) dan Benny van Breukelen (dua dari kanan) sekitar dua pekan lalu. (Jawa Post)
SELAMAT JALAN LEGENDA: M Basri didampingi sang anak, Rizal (kanan), ketika dijenguk Aji Santoso (kiri) dan Benny van Breukelen (dua dari kanan) sekitar dua pekan lalu. (Jawa Pos)

LombokPost - Dengan pola kepelatihan yang disiplin tapi humanis, M. Basri mengantarkan Persebaya Surabaya juara Perserikatan serta membawa NIAC Mitra kampiun Galatama, berjaya dalam turnamen di Pakistan, dan menaklukkan Arsenal.

Pemain yang melakukan kesalahan tak pernah dia marahi, tapi selalu diajaknya bicara dari hati ke hati. 

DATANG ke Surabaya untuk bergabung dengan NIAC Mitra dalam usia 18 tahun, Hanafing tak bisa membayangkan apa jadinya dia seandainya tak ada M. Basri.

Baca Juga: Maldini Turun Gunung, Temui Pep Guardiola untuk Jadi Pelatih Timnas Italia

Sama-sama dari Makassar, Sulawesi Selatan, Basri tak hanya jadi pelatihnya, tapi juga ayahnya. 

“Karena itu, beliau saya panggil teta, artinya (dalam bahasa Bugis-Makassar) seperti orang tua sendiri,'' tuturnya kepada Jawa Pos, Kamis (23/7). 

Hanafing hanyalah satu dari sederet pemain didikan Basri yang bersinar, bahkan menembus tim nasional. Ada pula Jaya Hartono, Muhammad Zein Al Hadad, Freddy Muli, Jessie Mustamu, Aji Santoso, dan Ponaryo Astaman di antaranya. 

Baca Juga: Jurgeu Klopp Menjadi Kandidat Terkuat Pelatih Timnas Jerman Gantikan Nagelsmann

Banyak yang kemudian juga mengikuti jejak Basri menjadi pelatih. Tak heran kalau pria yang sukses membawa Persebaya Surabaya dan NIAC Mitra juara kompetisi Perserikatan dan Galatama itu disebut sebagai “pelatihnya para pelatih Indonesia.” 

Karena itu, kepergian Basri dalam usia 82 tahun di rumah sakit di Surabaya kemarin menjadi sebuah kehilangan besar. “Saya benar-benar kehilangan, beliau sangat berjasa dalam hidup saya,'' ucap Hanafing dengan terisak. 

Baca Juga: Mahakarya Luis de la Fuente: Pelatih Tertua yang Sempurnakan 5 Trofi Timnas Spanyol

Gusnul Yakin, pelatih yang membawa Arema juara Galatama 1993, juga mengenang betapa besar jasa Basri atas kesuksesan tersebut. Gusnul ketika itu menggantikan posisi Basri di putaran kedua. 

“Semua pemain saat itu ya pilihan beliau. Beliau juga tak pernah segan berbagi ilmu,” kata Gusnul. 

Sosok kebapakan Basri juga diakui Aji Santoso yang menjadi salah satu bintang muda Arema ketika menjuarai Galatama. “Beliau sosok pengayom, akrab dengan semua pemain. Makanya, pemain yang semula bandelnya bukan main, tiba-tiba jadi penurut di hadapan beliau (M. Basri)," kata Aji. 

Disiplin yang Humanis 

Ketika baru bergabung dengan NIAC Mitra, Hanafing mengenang banyak pemain seusianya. Namanya anak muda, ada saja kebandelan yang dilakukan. 

“Beliau selalu punya cara agar kami tidak bandel. Disiplin, tapi disiplin yang humanis. Jadi, kami luluh, dan patuh sama beliau,'' beber instruktur kepelatihan PSSI tersebut. 

Basri, kata mantan rekan setim Hanafing, Agus Sarianto, memang sosok yang tidak pernah segan memberi kesempatan para pemain muda. “Pemain muda awalnya dimainkan di laga away, kalau teruji, baru main di home,'' ucap Agus yang meniti karier di NIAC Mitra sejak di skuad mudanya itu. 

Di Arema, kenang Aji, malah banyak pemain berkarakter keras. M. Kusnan, Lulut Kistono, Joko Slamet, dan Imam Hambali, misalnya. “Tapi, almarhum Coach Basri selalu menempatkan dirinya sebagai bapak bagi anak-anak. Sabar, dan jadi tauladan," jelas Aji yang pernah menangani timnas itu. 

Basri juga sosok yang sudah menerapkan sepak bola level tinggi. Di saat pelatih pada era itu hanya mengandalkan taktik dan bakat, Basri menambahkannya dengan kecerdasan individu pemain. Para pemain, kenang Hanafing, dituntut berpikir di lapangan. Diminta memahami situasi, apa yang harus dilakukan di situasi tertentu. 

Selain itu, Basri juga motivator ulung. “Di ruang ganti, beliau selalu bisa melecutkan semangat anak asuhnya dalam pertandingan,” kata Hanafing. 

Basri satu-satunya pelatih yang sukses membawa dua tim asal Surabaya, Persebaya dan NIAC Mitra, juara di jalur kompetisi berbeda: Perserikatan serta Galatama. Kesuksesan di level klub membuatnya dipercaya menangani timnas di kualifikasi Piala Dunia 1990. 

Dia berpartner dengan dua legenda sepak bola Indonesia lainnya, Iswadi Idris dan Abdul Kadir. Iswadi serta Kadir telah lebih dulu berpulang. 

Tidak Pernah Marah 

Lalu, apa rahasia Basri selalu bisa menaklukkan kebandelan para pemain? “Bukan dengan memarahi, beliau itu malah tidak pernah marah,” tutur Djoko Malis, mantan anak didiknya di Persebaya dan NIAC Mitra. 

Kalau ada pemain yang melakukan kesalahan, lanjut Djoko, Basri tidak langsung menegur. Tapi, ketika malam, didatangi ke kamarnya. Kemudian bicara dari hati ke hati. 

Man management ala Basri tersebut yang berhasil membuat para pemain luluh. Yang juga membuat Djoko salut, Basri terbuka terhadap kritik. 

Djoko termasuk yang sempat beberapa kali mengkritik strategi sang pelatih. “Semua kritikan saya diterima, bahkan diterapkan di laga berikutnya,” katanya. 

Kesuksesan Basri tak hanya di kompetisi domestik, tapi juga di turnamen Piala Aga Khan di Pakistan pada 1979. NIAC Mitra juga berhasil mempermalukan klub besar Inggris, Arsenal, yang tengah menggelar tur ke Indonesia 2-0 di Stadion Gelora 10 November, Surabaya. "Saya berhasil membobol gawang Arsenal itu juga berkat motivasi dari beliau," kata Djoko. (FARID S. MAULANA-BAGUS P. PAMUNGKAS, Surabaya/*/ttg/JPG/r3)

Editor : Redaksi Lombok Post Online
Sumber : Lombok Post
kompetisi domestik pemain pelatih persebaya surabaya