LombokPost - Wakil Ketum PSSI dan Founder Grha Gemah Nusa Foundation, Ratu Tisha Destria, memperkenalkan pendekatan Indonesia dalam memanfaatkan sepak bola sebagai sarana membangun kesadaran akan kesehatan mental di forum internasional One World, One Game, One Goal: Football for Youth Mental Health and Well-being yang diselenggarakan United Nations Youth Office, Jumat (17/7) waktu setempat di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York, Amerika Serikat.
Dalam forum yang dihadiri para pemimpin dunia, badan-badan PBB, atlet, hingga pemimpin muda dari berbagai negara itu, Ratu Tisha menjelaskan bahwa Indonesia memulai gerakan tersebut dengan sebuah pertanyaan sederhana, yakni di mana masyarakat merasa paling aman untuk mengekspresikan diri. Jawaban yang ditemukan adalah lapangan sepak bola.
Menurutnya, dari ruang itulah lahir model Indonesia dalam mengampanyekan kesehatan mental yang bertumpu pada tiga pilar, yakni pendidikan tinggi, riset akademik, serta keterlibatan komunitas mahasiswa dalam sebuah gerakan jangka panjang.
“Di Indonesia, ketika kami memulai inisiatif ini, kami bertanya di mana masyarakat sudah merasa aman untuk mengekspresikan diri. Jawabannya kami temukan di lapangan sepak bola,” ujar Ratu Tisha.
Ia kemudian memperkenalkan Liga Universitas Coca-Cola, program yang menggabungkan kompetisi sepak bola antarmahasiswa dengan penelitian akademik serta kampanye kesehatan mental. Melalui program tersebut, setiap pertandingan tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga ruang untuk menghasilkan riset berbasis ilmu olahraga sekaligus mendorong mahasiswa lebih terbuka dalam mencari bantuan terkait persoalan kesehatan mental.
Ratu Tisha menjelaskan, berbagai inisiatif seperti Mind Corners, kampanye Play for Peace, hingga intervensi fisik dan psikologis berbasis sepak bola telah diintegrasikan langsung ke dalam penyelenggaraan pertandingan.
“Setiap pertandingan menjadi kesempatan bukan hanya untuk melakukan penelitian mengenai kesehatan mental, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk berani mencari bantuan,” katanya.
Ia menegaskan bahwa seluruh program tersebut dijalankan dengan semangat “Beyond the Game, Into the Community”, sebuah visi yang menempatkan sepak bola sebagai instrumen perubahan sosial yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Ratu Tisha juga menyampaikan bahwa Liga Universitas Coca-Cola merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Republik Indonesia, United Nations di Indonesia, serta sektor swasta. Kolaborasi tersebut, menurutnya, menjadi bukti bahwa isu kesehatan mental dapat didorong melalui kerja sama lintas sektor dengan sepak bola sebagai jembatan yang menyatukan berbagai pihak.
“Dengan penuh kebanggaan dan rasa cinta, saya mempersembahkan kepada dunia Liga Universitas Coca-Cola,” tutup Ratu Tisha.
Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Heru Hartanto Subolo, menegaskan bahwa sepak bola memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar olahraga. Menurutnya, sepak bola dapat menjadi instrumen untuk membangun ketangguhan mental, empati, dan kepedulian di kalangan generasi muda.
Dalam paparannya, Heru mengapresiasi penyelenggaraan forum yang mengangkat tema kesehatan mental melalui sepak bola. Ia menilai pesan yang diusung dalam kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat perhatian dunia terhadap kesejahteraan generasi muda.
“Selama sepekan terakhir, jutaan orang di seluruh dunia merayakan sepak bola. Gol-gol spektakuler, penyelamatan gemilang, kegembiraan saat menang, hingga pelajaran dari sebuah kekalahan telah menyatukan kita semua. Namun sepak bola jauh lebih dari sekadar sebuah permainan,” ujar Heru.
Ia menjelaskan bahwa sepak bola mampu melampaui batas negara maupun generasi. Olahraga ini menghadirkan rasa kebersamaan, membuka ruang dialog, sekaligus menumbuhkan kepedulian antarsesama, terutama di kalangan anak muda.
Heru menegaskan bahwa Pemerintah Indonesia meyakini masyarakat yang tangguh hanya dapat dibangun melalui generasi muda yang memiliki ketahanan mental. Karena itu, isu kesehatan mental menjadi salah satu bagian penting dalam pembangunan sumber daya manusia nasional.
Menurutnya, pemerintah terus memperkuat berbagai kebijakan yang mendorong upaya pencegahan, dukungan sejak dini, layanan psikologis, hingga pelayanan berbasis komunitas agar semakin banyak anak muda memperoleh akses terhadap dukungan kesehatan mental.
Dalam kesempatan tersebut, Heru juga menyoroti program Liga Universitas Coca-Cola Play for Peace sebagai contoh pendekatan Indonesia dalam memanfaatkan sepak bola sebagai sarana membangun karakter. Program tersebut dinilai mampu menanamkan nilai-nilai ketangguhan, empati, kerja sama tim, sekaligus menghadirkan ruang yang aman dan bebas stigma untuk membicarakan kesehatan mental.
“Melalui Liga Universitas Coca-Cola Play for Peace, Indonesia menunjukkan bagaimana sepak bola dapat membangun ketangguhan, empati, kerja sama tim, serta menciptakan ruang yang aman dan bebas stigma untuk membahas kesehatan mental dan kesejahteraan,” kata Heru. (TAUFIQ ARDYANSYAH, JAKARTA /ali/JPG/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post OnlineSumber : Lombok Post