LombokPost - Satoru Mochizuki membangun timnas putri dengan memadukan para pemain muda, pesepak bola senior, serta sejumlah penggawa diaspora.
Di luar lapangan, pelatih asal Jepang itu juga berusaha mengenal karakter para pemain dan budaya sepak bola Indonesia agar komunikasi berjalan lebih baik.
BEGITU peluit panjang berbunyi, para pemain tim nasional (timnas) putri Indonesia berhamburan ke tengah lapangan Kuala Lumpur Football Stadium, Malaysia. Ada yang menangis, ada yang berpelukan, sementara yang lain berlari menghampiri pria berkepala plontos di pinggir lapangan.
Baca Juga: Malaysia Masih Bingung Cari Pelatih Jelang Piala AFF 2026
Beberapa detik kemudian, Satoru Mochizuki, pria plontos yang juga pelatih skuad Garuda Pertiwi tersebut, terangkat ke udara. Kemenangan telak 5-0 atas Laos pada Rabu (22/7) pekan lalu itu memastikan Garuda Pertiwi merebut gelar AFF Women's Cup 2026, mempertahankan raihan dua tahun sebelumnya.
Di tengah euforia tersebut, Mochizuki tidak melakukan selebrasi berlebihan. Baginya, gelar tersebut bukan sekadar hasil dari satu pertandingan, tetapi akhir dari perjalanan panjang yang dipenuhi proses, evaluasi, dan kerja keras.
“Kunci mempertahankan juara ini adalah membuat tim lebih kuat lagi daripada sebelumnya. Sebab, lawan-lawan kami juga menunjukkan perkembangan permainan," ujar Mochizuki seusai final.
Baca Juga: Timnas Indonesia Awali Piala AFF U-19 dengan Kemenangan Meyakinkan
Pengalaman Mentereng
Dua tahun sebelumnya, Mochizuki datang ke Indonesia dengan membawa pengalaman mentereng. Ia merupakan bagian dari staf kepelatihan Jepang ketika Nadeshiko menjuarai Piala Dunia Wanita 2011 dan meraih medali perak Olimpiade London 2012.
Meski demikian, sejak pertama kali diperkenalkan PSSI pada Februari 2024, Mochizuki jarang berbicara mengenai target juara. Ia justru berkali-kali menekankan pentingnya membangun fondasi.
Baca Juga: Duel Raja Futsal: Indonesia Tantang Thailand di Final Piala AFF 2026, Ini Link Live Streamingnya
Menurutnya, tim nasional yang kuat tidak lahir dalam semalam. Dibutuhkan kompetisi yang sehat, regenerasi pemain, dan kesinambungan program agar prestasi dapat bertahan dalam jangka panjang.
Mochizuki mulai membangun tim dengan memadukan pemain-pemain muda, pesepak bola senior, serta sejumlah penggawa diaspora. Di luar lapangan, ia juga berusaha mengenal karakter para pemain dan budaya sepak bola Indonesia agar komunikasi berjalan lebih baik.
Hasilnya datang lebih cepat dari perkiraan. Pada tahun pertamanya menangani Garuda Pertiwi, Indonesia berhasil menjuarai AFF Women's Cup 2024. Keberhasilan tersebut memunculkan optimisme besar.
Banyak pihak berharap Garuda Pertiwi mampu melanjutkan tren positif ketika tampil pada Kualifikasi Piala Asia Wanita 2026. Namun, harapan tersebut belum mampu diwujudkan.
Hasil itu membuat PSSI melakukan evaluasi. Hasilnya, Mochizuki tidak lagi menangani tim sebagai pelatih kepala. Pria Jepang itu dipindahtugaskan sebagai penasihat teknik dalam pengembangan sepak bola putri. Federasi menegaskan, perubahan tersebut merupakan pembagian peran, bukan pemecatan.
Situasi tersebut bisa saja menjadi alasan seorang pelatih di negara lain mundur. Namun, Mochizuki memilih bertahan. Baginya, proses adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari sebuah prestasi.
Kesabaran itu akhirnya menemukan jalan. Menjelang AFF Women's Cup 2026, PSSI kembali mempercayakan Garuda Pertiwi kepadanya. Kali ini dengan tim yang lebih matang, lebih padu, dan memiliki pemahaman permainan yang lebih baik dibanding dua tahun sebelumnya.
Jembatan Komunikasi
Perbedaan itu hanya bisa dijembatani melalui komunikasi yang baik. Dia mendorong para pemain saling memberi masukan agar masing-masing mampu mengeluarkan kemampuan terbaik.
Alhasil, Garuda Pertiwi tidak lagi bergantung pada satu pemain. Pola serangan dibangun dari berbagai lini. Koordinasi antarpemain juga jadi lebih rapi.
“Menurut saya, teman-teman ini spesialis final. Makanya, setiap final kami selalu cetak banyak gol," ucap bek Garuda Pertiwi Shafira Ika Putri.
Meski berhasil mempertahankan gelar, Mochizuki tidak melihat malam di Kuala Lumpur itu sebagai garis akhir. Pekerjaan rumah terbesar masih menanti di level Asia.
"Kami masih harus bekerja keras memperpendek jarak kesenjangan dengan tim-tim kuat lain di Asia," katanya.
Ketua Umum PSSI Erick Thohir pun menegaskan dukungan penuh federasi kepada sepak bola putri. "PSSI terus berkomitmen memperkuat ekosistem sepak bola putri melalui peningkatan kualitas pemain, pengembangan pelatih, serta kesempatan bertanding di level internasional," ujarnya. (TAUFIQ ARDYANSYAH, Jakarta/ttg/JPG/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post OnlineSumber : Lombok Post