LombokPost--Adela Astri memegangi dua orang setelah melompat ke laut dari KMP Mutiara Sentosa 2 yang terbakar.
Korban lainnya, Prapto, tak bisa melupakan kengerian saat api mulai menjalar dari buritan ke haluan kapal, tempat para penumpang dan kru berkumpul.
Azami Ramadhan, Surabaya
TANGAN kanan Adela Astri memegang putranya, Muhammad Guntur. Sedangkan tangan kirinya menahan genggaman anak lelaki orang lain yang dia tidak tahu siapa.
Bersama ratusan orang lainnya, mereka baru saja melompat dari KMP Mutiara Sentosa 2 yang terbakar di perairan utara Madura. Adela dan Guntur berada di kapal yang melayari rute Surabaya–Makassar tersebut untuk mendampingi sang suami, Muhammad Sholeh, mengawal barang ekspedisi.
Setengah mati Adela menahan anak di tangan kirinya yang belakangan dia ketahui berusia delapan tahun agar tidak tenggelam. Sudah tak terhitung berapa kali dia harus menelan air laut.
Sampai pada satu titik, perempuan asal Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu tak kuat lagi menahan genggaman.
“Anak saya terlepas,” tuturnya dengan nada bergetar ketika ditemui Jawa Pos di Gapura Surya Nusantara, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Selasa (4/8).
Baca Juga: Bungkam Distributor Nakal! Satgas BKC Mataram Sita 5.658 Bungkus Rokok Tanpa Cukai Siap Edar
Beruntung, putra Adela yang berusia 16 tahun itu berhasil diselamatkan oleh kawan selayar suaminya dan dievakuasi lebih awal. Setelah terombang-ambing lebih dari tiga jam, Adela dan bocah yang dipeganginya tadi juga terevakuasi.
Adela pun langsung tenggelam dalam tangis haru ketika akhirnya dipertemukan kembali dengan suami dan anaknya di Pulau Masalembu. Di pulau yang masuk wilayah Sumenep, Jawa Timur, itu pula anak yang diselamatkannya tadi bertemu dengan orang tuanya yang juga berhasil menjadi penyintas.
“Saya lupa namanya siapa, yang penting dia selamat,” kata Adela, masih dengan suara yang bergetar.
Melompat dan Berenang
Pada detik-detik yang sama, di tengah kengerian melihat kobaran api yang kian meluas, Syahrial juga melompat ke laut.
“Perintah petugas kapal, lompat dan berenang sejauh mungkin dari kapal,” kata sopir asal Makassar itu.
Pria 26 tahun tersebut terbangun dari tidurnya akibat kepungan asap hitam pekat tanpa sirine bahaya yang berbunyi. Situasi di atas geladak sudah sangat kacau.
“Beruntung semua penumpang yang saya lihat memakai pelampung,” kata Syahrial.
Prapto yang berada di kapal yang sama juga tak bisa melupakan kengerian itu: kobaran api merambat dari area buritan menuju haluan, tempat para penumpang dan kru berkumpul.
Hawa panas yang menyengat serta kepulan asap tebal memaksa ratusan orang bertahan di ujung haluan sebelum akhirnya nekat menceburkan diri ke laut.
Baca Juga: Senator NTB Nyatakan Siap Kawal Program Prioritas
Prapto menyebut, satu-satunya unit sekoci yang berada di bagian belakang kapal kemungkinan besar dalam kondisi rusak.
“Jadi, sama sekali tidak dipergunakan saat evakuasi,” katanya.
Seluruh penumpang terombang-ambing di tengah gelombang tinggi selama kurang lebih tiga jam.
Hingga akhirnya sejumlah armada kapal tongkang yang melintas memutar arah untuk memberi pertolongan.
Prapto bersyukur karena musibah kebakaran kapal tersebut terjadi pada pagi hari sehingga posisi para korban yang terapung di laut masih terlihat jelas oleh kapal lain.
”Bayangkan kalau malam. Jumlah korban akan jauh lebih banyak,” katanya. (*/ttg/JPG/r3)
Editor : Kimda FaridaSumber : Jawa Pos