Terik matahari membakar aspal Kota Praya. Di sejumlah SPBU, antrean kendaraan memanjang lebih dari 200 meter hingga memakan badan jalan. Pemandangan itu berlangsung hampir sebulan terakhir, seiring pasokan Pertalite yang menyusut jauh dari kebutuhan harian masyarakat.
----
TIDAK lagi mampu ditampung di area pengisian, ekor antrean kendaraan meluber hingga memakan sebagian badan jalan protokol. Kondisi itu menghambat arus lalu lintas kota.
Pantauan di lapangan menunjukkan, deretan mobil dan sepeda motor di sejumlah SPBU di jantung Kota Praya memanjang hingga lebih dari 200 meter.
Suasana terasa melelahkan. Deru mesin tak kunjung mati. Klakson sesekali bersahutan.
Bagi Suherman, pedagang sayur keliling, terik matahari dan penantian panjang bukan sekadar hambatan kecil. Kondisi itu menjadi ujian fisik harian yang menguras energi dan memangkas jam kerjanya.
“Sengaja beli minyak (Pertalite) buat besok ke pasar, karena kalau belinya besok kadang dua jam baru dapat,” tuturnya sembari mengusap dahi yang dibasahi keringat di tengah antrean SPBU Puyung.
Baca Juga: Pemkab Loteng Cari Lahan Aman untuk SPAM Baru
Rasa frustrasi yang sama dialami pelaku sektor logistik. Lalu Basarudin, sopir truk pengangkut pasir, duduk bersandar lemas di dalam kabin kemudinya yang pengap. Setiap menit yang berlalu di tengah terik matahari berarti rupiah yang hilang dari rute pengirimannya.
“Lama, sampai satu jam lebih mengantre di atas jalan panas begini. Otomatis perjalanan terganggu dan semakin lambat,” keluh Basarudin saat mengantre di SPBU Praya.
Di sisi pengelola, keluhan masyarakat yang kepanasan menjadi dilema. Pihak SPBU mengaku tidak punya banyak pilihan karena pasokan Pertalite dari Pertamina dipangkas drastis selama hampir sebulan terakhir.
Baca Juga: SIHT Barabali Loteng Tunggu Penerbitan Pita Cukai
Manajer Operasional salah satu SPBU di Praya Ahmad Yani mengatakan, jatah Pertalite yang diterima jauh di bawah kebutuhan normal harian masyarakat. Penyaluran normal biasanya mencapai 25 hingga 28 ton per hari.
“Kondisi saat ini merosot hingga 8 sampai 16 ton per hari,” ungkapnya.
Untuk mencegah gejolak warga yang sudah emosi karena terlalu lama menunggu di bawah terik matahari, pengelola terpaksa membatasi kuota pembelian setiap kendaraan.
Baca Juga: Mengintip Uniknya Kawan KopiTiam Mandalika
“Rata-rata keluhan warga ini kan sudah menunggu lama dan kepanasan, pas gilirannya malah habis. Makanya kami batasi kendaraan besar maksimal Rp 200 ribu, dan sepeda motor maksimal Rp 50 ribu,” tegas Yani.
Antrean yang meluber hingga menutupi sebagian badan jalan utama memicu potensi kemacetan parah pada jam sibuk. Menanggapi situasi itu, jajaran Polresta Lombok Tengah menyiagakan personel di lapangan.
Kasi Humas Polresta Lombok Tengah Iptu Lalu Brata Kusnadi menegaskan, fokus utama kepolisian saat ini menjaga agar antrean di SPBU tidak melumpuhkan arus lalu lintas. Mengenai pemicu kelangkaan dan persoalan teknis pemangkasan kuota BBM, pihaknya menyerahkan sepenuhnya kepada instansi terkait.
Baca Juga: Antrean Pengisian BBM Mengular, Pertamina: Bukan Karena Stok Kosong
“Kami dari kepolisian menyiagakan personel untuk melakukan pengawasan dan pengaturan lalu lintas di jalan raya. Fokus utama kami adalah memastikan arus kendaraan tetap lancar dan tidak mengganggu pengguna jalan lainnya,” ujar Iptu Lalu Brata.
Editor : Akbar SirinawaSumber : Liputan Berita Lombok Post