Menatap Asia Road Racing Championship (ARRC) 2026 Round 4 di Sirkuit Mandalika, Wahyu Aji Nugroho memilih fokus memperhalus performanya. Berbekal kemenangan pada ajang sebelumnya, pembalap Yamaha Racing Indonesia itu siap mengubah ekspektasi publik tuan rumah menjadi energi untuk merebut podium tertinggi.
----
EMBUSAN angin Pantai Kuta Mandalika menyapu aspal Sirkuit Internasional Mandalika. Di lintasan sepanjang 4,31 kilometer itu, ingatan Wahyu Aji Nugroho terbang ke masa lalu.
Ada jejak peluh, gemuruh penonton, manisnya podium, hingga pahitnya insiden yang pernah menghentikan lajunya. Semua kenangan itu tersimpan di sirkuit kebanggaan Indonesia.
Mandalika selalu memiliki tempat khusus bagi Wahyu. Di lintasan itu, pembalap Yamaha Racing Indonesia tersebut pernah meraih pole position dan naik podium pada kelas SuperSports 600cc (SS600).
Namun, balapan bukan sekadar catatan statistik. Ada pertarungan antara pembalap, mesin, dan ketidakpastian yang dapat muncul dalam hitungan detik. Perjalanan pembalap asal Boyolali, Jawa Tengah, di kelas SS600 juga tidak singkat. Kemenangan pertama menjadi sesuatu yang terus diperjuangkannya.
“Kembali ke Mandalika memberi saya motivasi ekstra, dan saya mengerahkan segalanya untuk akhirnya mencapai itu,” ujar Wahyu kepada LombokPost, Kamis (6/8).
ARRC 2026 Round 4 akan berlangsung di Sirkuit Mandalika pada 7—9 Agustus. Wahyu menyiapkan fisik dan mentalnya secara intensif untuk menghadapi persaingan.
Cuaca terik pesisir Lombok dan karakter tikungan mengalir Mandalika menjadi bagian dari tantangan. Wahyu bersama Yamaha Racing Indonesia juga mengoptimalkan Yamaha YZF-R6 yang akan digunakannya.
Modal penting telah digenggam. Pada Mandalika Racing Series (MRS) kelas SS600, Wahyu berhasil memenangi Race 1. Balapan itu menjadi kesempatan untuk menguji penyiapan suspensi dan manajemen ban di aspal Mandalika.
Sirkuit Mandalika menyimpan dua kenangan berbeda bagi Wahyu. Senyumnya terkembang setelah finis di posisi kedua pada Race 1 musim lalu. Namun, hasil manis itu tidak berlanjut pada Race 2. Motornya ditabrak dari belakang hingga gagal menyelesaikan balapan atau did not finish (DNF).
“Sangat berat mengakhiri insiden setelah awal yang begitu kuat. Tetapi kekecewaan itu justru semakin memicu tekad saya,” tegasnya.
Kini, Wahyu datang dengan momentum baru. Kemenangan pada MRS beberapa pekan lalu menjadi akhir pekan yang sulit dilupakannya. Berdiri di podium tertinggi memberikan dorongan besar. Energi dari kemenangan itu dibawanya menuju persaingan ARRC.
“Dan saya menggunakan energi positif itu sebagai amunisi untuk akhir pekan ARRC mendatang,” katanya.
Persaingan kelas SS600 diperkirakan berlangsung ketat. Kasma Daniel, Herjun Atna Firdaus, Felix PM, M Faerozi, hingga Arai Agaska terus mencatatkan waktu putaran yang kompetitif.
Grid start Mandalika pun akan dipenuhi pembalap cepat. Namun, Wahyu tidak ingin fokus pada kecepatan rivalnya. Energinya digunakan untuk meningkatkan batas kemampuan dan memperhalus racing line. Terutama pada sektor teknis Sirkuit Mandalika yang menuntut ketelitian.
Ekspektasi publik dan antusiasme pendukung tuan rumah juga tidak ingin dijadikannya beban. Wahyu memilih mengubah tekanan itu menjadi energi untuk tampil maksimal.
“Grid dipenuhi oleh pembalap yang sangat cepat. Alih-alih teralihkan, fokus saya tetap sepenuhnya pada performa saya sendiri. Saya berkonsentrasi untuk meningkatkan batas kemampuan saya sendiri,” ujar Wahyu.
Saat ditanya mengenai tekanan tampil di hadapan publik NTB dan Indonesia, Wahyu menegaskan tetap menjaga pola pikir yang sama di setiap balapan. Di mana pun berlaga, ia berusaha memberikan performa terbaik.
“Penonton tuan rumah sangat luar biasa, dan saya memilih untuk menyalurkan energi itu ke dalam fokus daripada membiarkannya menjadi tekanan. All out dalam setiap laga,” katanya.
Editor : Akbar SirinawaSumber : Liputan Berita Lombok Post