Di Balik Senja Josie Sunset Corner, Ada Cinta untuk Joella, Kearifan Lokal, dan Asa Warga Mandalika

Lestari Dewi • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 08:09 WIB
Ratusan pengunjung baik wisatawan asing dan lokal menikmati pemandangan alam dari atas bukit Josie Sunset Corner di Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Kamis (6/8).
Ratusan pengunjung baik wisatawan asing dan lokal menikmati pemandangan alam dari atas bukit Josie Sunset Corner di Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Kamis (6/8).

 

Siapa sangka, Josie Sunset Corner, kafe berkonsep kearifan lokal di perbukitan Kuta Mandalika, lahir dari cinta dan dedikasi Wawan untuk almarhumah istrinya. Menawarkan panorama matahari terbenam dan savana eksotis, usaha yang hanya buka beberapa jam sehari itu juga merangkul belasan warga lokal.

----

DERU mesin kendaraan terdengar perlahan meniti tanjakan perbukitan Kuta Mandalika. Ratusan sepeda motor dan mobil berderet memenuhi bahu jalan setapak yang membelah perbukitan.

Dari kejauhan, senja mulai membiaskan warna keemasan di ufuk barat. Di salah satu sudut bukit, Josie Sunset Corner menjadi tujuan ratusan pasang mata yang ingin menikmati keindahan alam Lombok Selatan.

Baca Juga: Wahyu Nugroho Siap Mengguncang Mandalika di ARRC 2026, All Out Setiap Laga, Siap Redam Perlawanan

Memasuki area restoran, tak satu pun kursi tersisa. Bangunan kayu sederhana bernuansa vintage dihiasi lampu berwarna keemasan. Sebagian pengunjung memilih duduk lesehan di atas geladak kayu sambil menunggu matahari perlahan tenggelam.

Wisatawan lokal hingga mancanegara memenuhi tempat itu. Di tengah keriuhan menikmati senja, suara para karyawan terdengar bersahutan. Mereka memanggil satu per satu nama pengunjung ketika makanan dan minuman yang dipesan telah siap.

Di balik keramaian dan pesona tempat itu, tersimpan kisah yang melatarbelakangi berdirinya Josie Sunset Corner. Pemiliknya, Wawan, mengatakan kafe yang resmi berdiri sejak 5 April 2025 itu lahir sebagai bentuk dedikasi dan cinta kepada almarhumah istrinya, Julia.

Baca Juga: Dua Jam demi Setangki Pertalite, Warga Praya Bertahan di Tengah Panas dan Deru Mesin saat Pasokan BBM Jauh dari Kebutuhan Harian

“Nama Josie ini berasal dari gabungan nama almarhum istri saya, Joella, dan kata laut atau sea. Semula namanya Josea, namun kemudian disesuaikan menjadi Josie. Pemberian nama ini adalah bentuk dedikasi dan cinta saya yang tak pernah padam untuk almarhumah,” ungkap Wawan.

Wawan bukan sosok baru di dunia hospitality. Berbekal pendidikan advertising dan pendalaman fotografi di Yogyakarta, ia sempat bekerja bersama sebuah lembaga swadaya masyarakat (NGO) di Belanda pada 2010 hingga 2016.

Kerinduan terhadap tanah air kemudian membawanya kembali ke Lombok. Di Kuta Mandalika, Wawan bekerja sebagai manajer restoran selama setahun. Pada 2018, ia dipercaya menjadi manajer sebuah resort.

“Meski berpindah-pindah, jejak langkah saya tetap di bidang hospitality. Dengan pengalaman panjang ini, saya sedikit tahu dan memahami bagaimana mengelola usaha secara profesional hingga akhirnya hadir Josie Sunset Corner ini,” jelasnya.

Pengalaman itu kemudian dibawanya ketika membangun Josie Sunset Corner. Di tengah masifnya pembangunan hotel berbintang, restoran mewah, dan vila modern di sekitar Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Wawan memilih konsep berbeda.

Baca Juga: Local Hero Tampil di ARRC SS600 Round 4 di Mandalika, Modal Juara MRS, Arai Agaska Siap Ladeni Herjun Firdaus dan Felix PM

Ia mempertahankan kearifan lokal melalui bangunan sederhana dan semi permanen. Material kayu dan bambu mendominasi bangunan dengan atap kombinasi ilalang. Tempat duduk juga dibuat bervariasi, mulai konsep vintage hingga area lesehan.

“Justru inilah yang diminati dan dicari wisatawan, terutama wisatawan mancanegara. Mereka ingin merasakan suasana autentik Lombok, bukan kemewahan beton,” tegas pria asal Desa Sengkol itu.

Josie Sunset Corner berdiri di atas lahan seluas 2,21 hektare milik temannya. Kerja sama dilakukan dengan sistem bagi hasil. Wawan membangun seluruh fasilitas, sarana, dan prasarana dari nol.

Meski memiliki area cukup luas, kafe itu hanya beroperasi sekitar dua hingga tiga jam sehari. Waktu operasional dimulai pukul 17.00 hingga 19.00 Wita. Rentang waktu itu menjadi prime time karena daya tarik utama yang ditawarkan adalah menikmati matahari terbenam.

Baca Juga: Mengintip "Hidden Gem" di Pesisir Sekotong Barat, Menepi ke Beach Camp Lombok, Sulap Lahan Kosong Jadi Surga Glamping

Kehadiran Josie Sunset Corner juga melibatkan masyarakat sekitar. Sebanyak 16 karyawan yang bekerja di tempat itu seluruhnya merupakan warga lokal.

Sebagai pelaku wisata lokal, Wawan berharap geliat pariwisata Mandalika dapat merangkul lebih banyak potensi masyarakat setempat. Menurut dia, banyak warga lokal memiliki keinginan membangun usaha, tetapi kerap terkendala permodalan.

“Warga lokal sangat tidak ingin hanya menjadi penonton di rumahnya sendiri,” tuturnya.

Wawan membidik wisatawan kelas menengah ke bawah sebagai segmen pasar. Termasuk wisatawan asing berbiaya hemat yang menurutnya mendominasi kunjungan ke Lombok. Segmen itu dinilainya menjadi peluang bagi pelaku usaha kuliner dan restoran milik warga lokal.

“Pasar wisatawan menengah ke bawah ini sangat besar. Inilah peluang yang hendak kita tangkap bersama warga lokal,” pungkasnya. 

Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : Liputan Berita Lombok Post
josie sunset corner asa mandalika kearifan lokal kafe viral cinta