Lombok Post - Melawan Arus hingga Berjam-jam, Nyaris Terseret ke Samudra Hindia
Gelap laut menjadi saksi perjuangan para penumpang KMP Putri Yasmin menyelamatkan diri setelah kapal terbakar dalam pelayaran menuju Pelabuhan Lembar, Rabu (12/8). Di tengah dinginnya laut dan derasnya arus Selat Lombok, mereka hanya punya satu pilihan: terus bertahan hidup sambil menunggu pertolongan datang.
Laut malam itu seolah tak berujung. Gelap. Dingin. Arus terus membawa tubuh para penumpang menjauh dari kapal yang terbakar.
Di tengah kondisi tersebut, satu hal yang terus dipertahankan para penyintas KMP Putri Yasmin: harapan untuk tetap hidup.
Iwan, 24, masih mengingat jelas detik-detik ketika kepanikan mulai pecah di atas kapal. Asap tebal memenuhi dek. Penumpang berhamburan mencari tempat yang dianggap lebih aman.
Kapten kemudian meminta para penumpang mengenakan pelampung keselamatan. Mereka diminta berkumpul dan menunggu instruksi.
“Awalnya kami diminta kapten menggunakan safety pelampung, setelah itu kita disuruh kumpul, tunggu perintah dari kapten,” ujar Iwan saat ditemui di Pelabuhan Lembar, Rabu (12/8).
Namun situasi berubah semakin mencekam. Asap makin pekat. Api mulai membumbung ke bagian atas kapal.
Iwan bersama empat rekannya akhirnya memilih bersiap meninggalkan kapal.
Bukan karena nekat. Melainkan karena bertahan di atas kapal juga bukan lagi pilihan aman.
Setelah kapten memberikan perintah untuk meninggalkan kapal, Iwan dan penumpang lainnya terjun ke laut menggunakan pelampung.
“Setelah ada perintah meninggalkan kapal dari kapten, barulah kita berani untuk terjun langsung dari atas kapal,” katanya.
Di laut, perjuangan sebenarnya baru dimulai.
Dia bersama penumpang lain hanya bisa bertahan dengan pelampung di tengah laut.
Dalam kondisi hampir kehilangan tenaga, harapan datang dari arah yang tidak disangka.
Sebuah kapal melintas dan memberikan pertolongan kepada Iwan bersama tiga rekannya.
Ia pun akhirnya bisa kembali menginjak daratan di Pelabuhan Lembar.
Baju dan sepeda motor miliknya tertinggal di kapal. Namun bagi Iwan, kehilangan barang bukan lagi persoalan. “Masih bersyukur bisa selamat. Kalau pakaian terus motor kita masih di sana (kapal), entah bagaimana nasibnya. Mungkin sudah terbakar semua,” katanya.
Berjam-jam Terapung di Laut
Kisah Iwan bukan satu-satunya. Di Pelabuhan Lembar, sejumlah penyintas tiba dengan wajah lelah. Sebagian masih menggigil. Sebagian lainnya memilih diam, seolah masih mencoba memahami apa yang baru saja mereka lalui.
Zaini, warga Lembar, menjadi salah satunya.
Setibanya di pelabuhan, tubuhnya terlihat lemas. Tatapannya kosong. Ia tak banyak berbicara.
Zaini mengaku harus bertahan seorang diri selama sekitar empat jam di tengah laut sebelum ditemukan tim penyelamat. “Saya hanya mencoba bertahan. Rasanya sangat lama sekali,” ujarnya singkat.
Kalimat pendek itu menggambarkan panjangnya waktu ketika seseorang hanya bisa bergantung pada pelampung dan kekuatan tubuh untuk tetap berada di permukaan laut.
Empat jam terasa seperti tidak berujung.
Kisah lain datang dari keluarga Agus, Sinta, dan anak mereka, Rivano. Bagi keluarga tersebut, musibah KMP Putri Yasmin berubah menjadi perjalanan panjang yang nyaris merenggut nyawa.
Mereka dilaporkan mengapung selama sekitar delapan jam.
Derasnya arus Selat Lombok membuat mereka semakin jauh terbawa ke arah selatan. Bahkan, keluarga tersebut sempat terseret hingga mendekati perairan Samudra Hindia.
Kepanikan keluarga di daratan pun tak kalah hebat. Denik, kerabat mereka, masih mengingat telepon yang diterimanya sekitar pukul 04.00 Wita.
Di ujung telepon, suara tangis terdengar. Keluarga Agus meminta doa karena kapal yang mereka tumpangi terbakar.
“Mereka menelepon sambil menangis, meminta doa agar diselamatkan karena kapal terbakar,” kata Denik dengan mata berkaca-kaca saat berada di posko Pelabuhan Lembar.
Tak lama kemudian, komunikasi terputus.
Bagi keluarga yang menunggu di daratan, waktu berubah menjadi sesuatu yang sangat menakutkan.
Denik tak mampu duduk tenang. Ia langsung bergegas menuju Pelabuhan Lembar untuk mencari kabar. Harapan kembali muncul setelah keluarga Agus berhasil berkomunikasi. (Haerul Amri-Nurul Hidayati, Lombok Barat)
Editor : Redaksi Lombok Post OnlineSumber : Lombok Post