SMPN 5 Praya Timur terpaksa mengalihkan kegiatan belajar 30 siswanya ke ruang guru dan laboratorium akibat empat ruang kelas serta perpustakaan rusak parah hingga ditumbuhi semak belukar. Perbaikan gedung yang rusak sejak empat tahun lalu ini tak kunjung terealisasi karena terganjal aturan kuota minimal 60 siswa.
----
ASAP debu membumbung tinggi setiap kali roda kendaraan menerjang jalan raya yang rusak, berlubang, dan berbatu menuju Desa Beleke Lebe Sane, Kecamatan Praya Timur. Debu cokelat tebal menyambut sebelum akhirnya langkah kaki memasuki areal SMPN 5 Praya Timur.
Menapaki jalan berumput di halaman sekolah, tampak dari kejauhan sekumpulan siswa berseragam pramuka sedang berkerumun. Mereka antusias mengelilingi sebuah mobil perpustakaan keliling yang sengaja singgah. Jari-jemari mereka menelusuri rak-rak sederhana untuk memilih buku bacaan di tengah minimnya fasilitas belajar.
Baca Juga: Bilebante Belajar Menjadi Tuan Rumah Kelas Dunia, InJourney Hospitality House Bekali Masyarakat
Pemandangan di halaman depan itu berbanding terbalik ketika langkah menuju bagian belakang sekolah. Di sana, empat ruang bangunan kelas dalam kondisi rusak parah dan terbengkalai. Bangunan itu tak lagi aman ditempati sejak empat tahun silam.
Bangunan ruang perpustakaan sekolah terlihat memprihatinkan. Atapnya sudah hancur dan menganga lebar. Sisa reruntuhan kayu dan genteng bertebaran di lantai. Sementara rumput liar serta semak belukar tumbuh hingga ke dalam ruangan yang seharusnya menjadi tempat menyimpan buku.
Kondisi ruang kelas lainnya juga terbengkalai. Plafon tampak berjatuhan di lantai. Keramik pecah dan mengelupas, sedangkan tembok kelas kusam dipenuhi coretan. Aroma lembap dan lapuk tercium dari balik dinding yang tak lagi terawat.
Baca Juga: Di Balik Senja Josie Sunset Corner, Ada Cinta untuk Joella, Kearifan Lokal, dan Asa Warga Mandalika
Kepala SMPN 5 Praya Timur Orme Santoso mengungkapkan, kondisi itu telah berlangsung lama. Sejak empat tahun lalu, pihak sekolah terpaksa mengalihkan kegiatan belajar ke ruang yang masih bisa digunakan.
“Yang masih berfungsi cuma ruang kepala sekolah, ruang guru, dan ruang laboratorium. Tiga ruang itulah yang kita pakai untuk belajar mengajar dengan jumlah total siswa 30 orang,” ujar Santoso saat ditemui Lombok Post, Kamis (13/8).
Santoso tidak menampik, penurunan jumlah siswa hingga tersisa 30 orang dipicu banyak faktor. Bukan semata-mata karena kondisi gedung sekolah yang rusak parah, tetapi juga akses jalan menuju sekolah yang rusak berat. Selain itu, posisi sekolah dinilai kurang strategis.
“Lokasi bangunan ini memanjang ke belakang dan cukup jauh dari jalan raya. Masyarakat sekitar akhirnya memilih menyekolahkan anaknya di sekolah lain karena melihat bangunan sekolah seperti ini,” terangnya dengan nada berat.
Baca Juga: Warga Bisa Gugat Pemerintah Soal Sekolah Rusak
Sebagian besar masyarakat sekitar sebenarnya merindukan adanya penataan ulang. Pihak sekolah juga menilai bangunan lama perlu dirubuhkan dan ditata kembali.
Namun, harapan itu terbentur regulasi. Pihak sekolah mengaku sudah mengajukan rehabilitasi bangunan kepada pihak berwenang. Hanya saja, aturan menyebut bantuan perbaikan fisik gedung tidak bisa dikucurkan jika jumlah peserta didik berada di bawah kuota 60 orang.
“Dari sisi aturan, bangunan sekolah tidak bisa direhabilitasi. Sehingga tidak pernah ada rehabilitasi,” pangkas Santoso.
Terpisah, Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Loteng Lalu Rupawan Joni mengatakan, SMPN 5 Praya Timur menjadi salah satu sekolah yang masuk dalam program prioritas revitalisasi 2026.
Baca Juga: Pemkab Loteng Verifikasi Ulang 8 Ribu Warga Miskin Ekstrem
“Data ini sudah final pada tanggal 12 Desember 2025,” katanya.
Juni lalu, kata dia, tim survei Universitas Mataram sudah turun melakukan verifikasi faktual. Dengan turunnya tim survei itu, revitalisasi dari kementerian diharapkan bisa segera dilakukan.
“Kita harapkan ini segera juga,” cetusnya.
Editor : Akbar SirinawaSumber : Liputan Berita Lombok Post