Reptil Empat Meter yang Kerap “Nongkrong” di Sekitar Sungai Sidoarjo

Redaksi • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 13:35 WIB
UNJUK DIRI: Buaya Sungai Sidokare, Sidoarjo. Buaya tersebut kerap terlihat oleh pengemudi perahu. (JAWA POS)
UNJUK DIRI: Buaya Sungai Sidokare, Sidoarjo. Buaya tersebut kerap terlihat oleh pengemudi perahu. (JAWA POS)

LombokPost - Saat kemarau, buaya punya kecenderungan menampakkan diri atau berenang ke hulu karena habitat mereka di muara surut. Sejauh ini, reptil besar di Sungai Sidokare, Sidoarjo, itu belum pernah masuk ke permukiman warga.

MUNGKIN posisinya sudah WP (wuenak pol/enak sekali). Jadi, ketika perahu yang dikemudikan Syaifullah Hidayat melintasi Sungai Sidokare, Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis (13/8) pagi, dia cuek saja dan tak bergerak dari tempatnya “nongkrong”.

”Kebetulan pagi airnya surut, jadi nangkringnya bukan di bantaran, tapi di lumpur,” kata Hidayat kepada Jawa Pos, Kamis (13/8).

Baca Juga: BKSDA Tangkap Buaya Muara Sepanjang 4 Meter di Sungai Tarung Arung Loteng

Dia yang dimaksud Hidayat adalah buaya sepanjang sekitar empat meter yang belakangan ramai menjadi sorotan warga Sidoarjo. Yang dilihat Hidayat di tikungan sungai wilayah Dusun Rangkah Lor, Desa Bluru Kidul, Sidoarjo, kemarin kemungkinan adalah buaya yang sama dalam video yang beredar sebelumnya di berbagai platform.

Hidayat melihatnya saat mengantar sejumlah penumpang sekitar pukul 07.15. Reptil besar tersebut tampak berjemur, meski Hidayat tentu tak bisa menanyainya untuk memastikan.

Kulitnya terlihat hitam. Dan, bukan hanya pengemudi perahu berusia 28 tahun itu yang kerap “berpapasan” dengan si bajul (buaya dalam bahasa Jawa, Red).

Baca Juga: Meski Buaya Sudah Ditangkap, BPBD Loteng Imbau Tetap Waspada

Sejumlah koleganya sesama pengemudi perahu juga, tentunya demikian pula dengan para penumpang yang mereka antar. “Kemungkinan cari makan. Tapi, kalau sampai masuk ke permukiman warga enggak,” kata Hidayat.

Sungai Sidokare merupakan sungai yang melintang dari pusat kota Sidoarjo dengan muara di wilayah Dusun Kepetingan, Sawohan, Buduran. Lebar sungai itu sekitar tujuh sampai delapan meter. Kedalamannya kira-kira tiga sampai empat meter di bagian tengah.

Sungai Sidokare, tepatnya di sisi timur Jalan Lingkar Timur, ramai dengan aktivitas perahu. Mulai dari nelayan hingga perahu yang mengangkut orang menuju wilayah di pesisir timur kabupaten tetangga Surabaya tersebut. Baik untuk berziarah ke Makam Dewi Sekardadu maupun untuk bekerja.

Baca Juga: Buaya Muncul Lagi, Pengunjung Dilarang Berenang di Pantai Labuhan Haji

Adanya isu buaya sedikit banyak membuat sejumlah nelayan atau pengemudi perahu harus lebih berhati-hati. Terutama jika menepikan perahu mereka.

Prayitno, pencari rumput laut asal Desa Kedungpeluk, Candi, Sidoarjo, termasuk yang juga kerap menemui buaya saat berangkat ke sekitar muara. “Kebanyakan lebih ke arah tambak, tapi mereka itu takut sebenarnya kalau ada perahu lewat. Biasanya langsung nyebur selepas ada perahu lewat,” paparnya.

Berenang ke Hulu

Di sisi lain, Koordinator Satker Surabaya dari Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut Denpasar Suwardi menyebut, buaya memiliki kecenderungan untuk menampakkan diri atau berenang semakin ke hulu saat musim kemarau. Itu dikarenakan habitatnya di muara agak surut dan mencoba mencari makan ke tempat lain.

“Selain itu, ada dugaan kalau buaya tersebut sedang mencari tempat untuk kawin juga,” katanya.

Suwardi mengimbau para warga di sekitar sungai, baik di permukiman maupun pemilik tambak, agar rutin membersihkan rumput liar di bantaran. Sebab, berpotensi untuk ditempati buaya dan bahkan mungkin masuk ke tambak.

“Kami imbau agar menghindari kontak langsung dengan buaya dan jika masuk ke permukiman agar bisa melapor,” paparnya. (AHMAD REZATRIYA BELANI, Sidoarjo/ttg/JPG/r3)

Editor : Redaksi Lombok Post Online
Sumber : Lombok Post
permukiman warga Buaya Sidoarjo Nelayan perahu