Menjaga Sehat di Balik Jeruji Lapas Kuripan

Akbar Sirinawa • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 08:56 WIB

 

Penanggung jawab Klinik Lapas Kuripan dr Tiara Kusuma DN Sawengi memberikan obat anti tuberkulosis kepada warga binaan.
Penanggung jawab Klinik Lapas Kuripan dr Tiara Kusuma DN Sawengi memberikan obat anti tuberkulosis kepada warga binaan.

 

LombokPost-Jarum jam dinding di Klinik Pratama Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kuripan, Lombok Barat (Lobar) baru saja bergerak menunjuk pukul 16.15 Wita ketika ketukan pelan terdengar pada pintu ruangan dr Tiara Kusuma DN Sawengi bersama drg Fikriyadi Nurzal.

Tak lama, seorang pria yang mengenakan masker muncul dari balik pintu. ”Bu dokter, saya mau minta obat,” ucapnya kepada Tiara.

Tiara lalu mempersilakan pria berperawakan kurus itu untuk masuk. Bersamaan dengan itu, dia mengambil 4 tablet obat yang ada di dalam kotak dan menyodorkannya kepada Oma, pria yang tadi mengetuk pintu.

Obat yang diberikan kepada Oma merupakan Obat Anti Tuberkulosis (OAT). Sejak Juni 2026 ia rutin mengonsumsinya. Setiap hari. ”Ini yang kedua kali saya ambil obat ke klinik langsung,” kata Oma saat diwawancarai Lombok Post pada Senin (10/8).

Baca Juga: Ampenan Tengah Melampaui Target, Intip Keseruan Kick-Off Tracing TBC CKG Pemkot Mataram

Oma merupakan warga binaan pemasyarakatan (WBP) di Lapas Kuripan. Tuberkulosis atau TBC yang dideritanya baru diketahui setelah ia menjalani perawatan di Rumah Sakit Gerung, Lobar, 2 Juni lalu.

”Saya lima hari rawat inap di sana,” ungkap pria 36 tahun ini.

Oma mengungkapkan, sebelum masuk rumah sakit kondisi kesehatannya mulai menurun. Itu terjadi medio April 2026. Diawali dengan batuk dan pilek serta berkurangnya nafsu makan.

Masuk pertengahan Mei, Oma juga merasakan demam. Sakit itu yang membuat Oma harus bolak-balik ke Klinik Lapas Kuripan untuk meminta obat. ”Tiap hari, tiap malam itu naik demamnya. Makanya Ibu Dokter dan petugas di sini merujuk saya ke rumah sakit di awal Juni,” bebernya.

TBC Oma diketahui 7 bulan usai skrining kesehatan massal di Lapas Kuripan. Kegiatan yang dilakukan pada November 2025 itu merupakan program nasional Active Case Finding (ACF), dengan dukungan Public Health Tuberculosis Center (PHTC) Kementerian Kesehatan, dengan tujuan pemeriksaan TBC pada WBP.

Sekitar 1.800 WBP menjalani skrining menggunakan alat rontgen Chest X-Ray (CXR), serta tes cepat molekuler (TCM) atau tes dahak. Oma, termasuk salah satu warga binaan yang ikut menjalani pemeriksaan.

”Waktu itu cek rontgen. Ada juga cek gula darah dan tensi,” kata Oma.

Dokter Tiara mengungkapkan, hasil pemeriksaan Oma saat itu negatif TBC. Oma juga tidak menunjukkan tanda TBC, seperti batuk terus menerus. Kondisi itu berlangsung hingga 4 bulan setelah skrining massal tersebut.

”Ada 18 orang yang TBC dari skrining massal, tapi Oma bukan salah satunya. Yang 18 itu, kita langsung obatin, kita isolasi. Alhamdulillah sekarang sudah sembuh dan bersih,” ungkap Dokter Tiara yang merupakan penanggung jawab Klinik Lapas Kuripan.

Baca Juga: CKG Jadi Benteng Awal Cegah Penyakit Kronis di NTB

Pada awal 2026, Klinik Lapas Kuripan menindaklanjuti 18 kasus TBC itu dengan melakukan skrining terhadap warga binaan lansia dan teman sekamar mereka.

Tindakan preventif serupa juga diambil petugas kesehatan usai Oma positif TBC. Bekerja sama dengan Puskesmas Kuripan, pada 24 Juni 2026 dilaksanakan Cek Kesehatan Gratis (CKG) serta skrining gejala TB. Saat itu, Oma telah 3 minggu menjalani pengobatan intensif.

”Lansia dan warga binaan yang sekamar dengan Oma diperiksa, ini untuk mencegah penyebaran. Hasilnya Alhamdulillah didapatkan negatif semuanya,” kata Tiara.

Menjelang berakhirnya 2 bulan pengobatan intensif TBC yang dijalankan Oma, pada 30 Juli Klinik Lapas Kuripan mengambil ulang dahaknya. Sampel itu diperiksa untuk mengetahui apakah ia masih positif TBC atau tidak.

Menurut Tiara, hasil pemeriksaan dahak yang tetap positif bisa mengindikasikan TBC resistan terhadap obat. ”Tapi Alhamdulillah negatif untuk Oma, hasilnya keluar 8 Agustus, jadi dilanjutkan dengan pengobatan TBC biasa atau lanjutan,” jelas dokter lulusan Universitas Mataram ini.

Bukan hanya Dokter Tiara yang bersyukur atas hasil negatif itu, Oma pun demikian. Kata Oma, masa-masa awal pengobatan intensif cukup berat dijalaninya. Terutama ketika harus menelan obat TBC dalam jumlah banyak secara rutin.

”Paling berat itu minum obat pertama. Besar-besar obatnya, itu paling berat. Segini besarnya,” sebut Oma sambil menunjuk satu ruas jari kelingkingnya.

Tujuh Tenaga Kesehatan untuk 1.895 Warga Binaan

dr Tiara Kusuma DN Sawengi.
dr Tiara Kusuma DN Sawengi.

Lapas Kuripan, hingga 14 Agustus, dihuni 1.895 warga binaan. Jumlah tersebut melampaui kapasitas lapas di angka 1.226 orang. Kondisi overkapasitas membawa kerentanan, salah satunya penyebaran penyakit di dalam lapas.

”Itu kenapa cek kesehatan gratis secara rutin kita laksanakan di sini. Sehingga ketika ada indikasi warga binaan sakit, bisa langsung diobati,” kata Tiara.

Tiara mengatakan, pihaknya terus mengoptimalkan pelayanan kesehatan di lapas. Ada tujuh tenaga kesehatan yang bersiaga selama 24 jam. Satu dokter umum, satu dokter gigi, dan lima perawat.

Baca Juga: Dinas Kesehatan Kota Mataram Gandeng Lembaga Internasional Tekan Stunting

Warga binaan yang mengeluh sakit bisa datang ke klinik dari pukul 9.00 Wita hingga 12.00 Wita untuk rawat jalan. Di luar jam tersebut, Klinik Lapas Kuripan tetap membuka pelayanan untuk kasus gawat darurat.

”Kasus emergency itu ada pingsan, jatuh terluka, atau demam tinggi menggigil, itu kita bisa langsung tangani,” ujarnya.

Pengaturan jam pelayanan bertujuan mendisiplinkan warga binaan dalam pengecekan kesehatannya. Selain itu, Klinik Lapas Kuripan juga membuka kuota terbatas pada jam pelayanan rawat jalan. Kebijakan tersebut diterapkan mulai Agustus 2026.

Kata Tiara, sebelum ada pembatasan, warga binaan yang datang berobat setiap harinya bisa mencapai 200 orang. Membuat petugas kesehatan kewalahan. Pelayanan juga tidak maksimal, terutama dari sisi pengedukasian kesehatan kepada warga binaan.

”Jadi per hari sekarang maksimal 65 pasien. Nomor pendaftarannya kita taruh di pintu tiga. Ketika nomor daftarnya habis, warga binaan bisa datang keesokan hari,” jelasnya.

Bangunan klinik berada di dalam zona inti Lapas Kuripan. Letaknya strategis, di tengah jalur akses antarblok hunian warga binaan. Membuat warga binaan yang membutuhkan penanganan medis tidak perlu keluar pagar pengamanan utama.

Terdapat 3 ruangan pada klinik. Masing-masing difungsikan sebagai tempat observasi dan tindakan medis, ruang pemeriksaan serta administrasi pasien warga binaan. ”Di sini, untuk tindakan sekadar insisi atau bedah minor bisa kita lakukan,” kata Tiara.

Baca Juga: Dinas Kesehatan Mataram Kejar Target Imunisasi HPV untuk Murid SD

Selain upaya penanganan, Klinik Lapas Kuripan juga melaksanakan langkah preventif melalui program perdatilang atau perawat dokter datang sakit hilang serta kontrol keliling (troling) kesehatan warga binaan.

Perawat Klinik Lapas Kuripan M Deni Zulsabtika mengatakan, untuk perdatilang dilaksanakan pagi hari. Petugas kesehatan mendatangi blok warga binaan dan melakukan penyuluhan kesehatan serta deteksi dini.

”Kalau ada yang mengeluh sakit, kita minta segera datang ke klinik,” ujar Deni.

Adapun untuk troling, dilakukan pada malam hari. Model pelaksanaannya serupa dengan perdatilang, yakni mendatangi blok warga binaan. Bedanya, jika warga binaan terindikasi sakit, petugas langsung melakukan pengobatan di tempat.

”Langsung kita tangani saat itu juga,” sebutnya.

Cek Kesehatan Gratis: Cegah Dini, Tuntas Obati

Pelaksanaan CKG di Lapas Kuripan pada 30 Juli 2026.
Pelaksanaan CKG di Lapas Kuripan pada 30 Juli 2026.

Setiap bulan, program CKG digelar di Lapas Kuripan. Prinsip deteksi dini dan tuntas obati diterapkan pada warga binaan. Kasubsi Bimbingan Kemasyarakatan dan Perawatan Lapas Kuripan Sahbul Masyhur mengatakan, pelaksanaan CKG di lapas dilakukan pada minggu pertama setiap bulan.

”Itu dari internal kita. Sasarannya tidak terbatas WBP, tapi juga masyarakat sekitar,” kata Masyhur.

Pelaksanaan CKG di Lapas Kuripan juga berkolaborasi dengan pihak eksternal. Seperti RS Mutiara Sukma Provinsi NTB serta Puskesmas Kuripan.

Menurut Penanggung Jawab Klinik Pratama Lapas Kuripan dr Tiara, CKG bersama RS Mutiara Sukma dilaksanakan setiap 2 minggu sekali dengan sasaran warga binaan yang baru. Sebelum masuk ke blok tahanan, warga binaan akan menjalani pemeriksaan HIV dan sifilis.

”Ketika ditemukan indikasi dipastikan itu diobati,” kata Tiara.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dr Lalu Hamzi Fikri mengatakan, CKG merupakan program dengan tujuan mendeteksi faktor risiko kesehatan, kondisi pra-penyakit, serta penyakit sejak dini. Dengan deteksi itu, masyarakat bisa memperoleh penanganan lebih cepat.

”Deteksi dini faktor risiko penyakit merupakan investasi kesehatan. Semakin besar peluang kita mencegah penyakit menjadi lebih berat dan menekan beban biaya kesehatan di masa mendatang,” jelas Fikri.

Empat Tablet Setiap Hari

”Niat saya benar-benar ingin sembuh. Bersih (dari TBC) dulu, sehat,” kata Oma dengan semangat.

Ini pertama kali Oma menderita TBC. Penyakit itu membuat berat badannya menyusut dari 65 kilogram menjadi 49 kilogram. Badannya lemas. Tidak bertenaga. Sehingga di minggu-minggu awal sakitnya, Oma lebih banyak menghabiskan waktu di kasur kamar isolasinya.

”Sekarang sudah naik beratnya, 56 kilogram. Alhamdulillah sekarang sudah sehat, sudah ada tenaga,” ungkapnya.

Tekad untuk kembali sehat ditunjukkan Oma selama 2 bulan masa pengobatan intensif. Ia disiplin meminum OAT yang diantarkan petugas Klinik Lapas Kuripan setiap malam ke kamar isolasinya.

Kata Oma, semangat sembuh itu tak lepas juga dari dukungan petugas kesehatan Klinik Lapas Kuripan. Memberinya motivasi tambahan agar tetap disiplin meminum obat.

Pemeriksaan Puskesmas Kuripan terhadap dahak Oma menunjukkan hasil negatif. Hasil itu keluar pada 8 Agustus. Sehingga Oma bisa memasuki fase lanjutan dengan tetap meminum OAT selama 4 bulan ke depan.

Dokter Tiara mengatakan, CKG turut andil dalam proses berkelanjutan untuk pengobatan TBC Oma. Petugas juga memastikan Oma meminum obatnya.

”Malam minum (obat) depan petugas, karena minum OAT harus di depan pengawas atau petugas kesehatannya,” ujarnya.

Pada saat Oma menjalani pengobatannya, tenaga kesehatan juga memeriksa teman sekamarnya dan warga binaan lansia. Perdatilang dan troling membawa petugas kesehatan ke blok hunian pada pagi dan malam hari.

”Jadi tidak hanya pencegahan dini dengan perdatilang dan troling itu, tapi juga pengobatan berkelanjutan bagi warga binaan,” jelas Tiara.

Tiara berharap program CKG membuat seluruh warga binaan memperoleh pelayanan kesehatan tanpa dibatasi tembok dan jeruji lapas. ”Kita maunya warga binaan di sini merasakan dan memperoleh akses pengobatan yang sama seperti orang di luar sana,” tandasnya.

Pengobatan Oma belum selesai. Empat tablet OAT yang diterimanya sore itu menjadi bagian dari fase lanjutan yang masih harus ia tuntaskan. Kata Oma, meski durasinya lebih lama dibandingkan pengobatan intensif, ia sudah membulatkan hati untuk menuntaskannya.

”Saya jalani saja dengan senang hati,” kata Oma.

 

Editor : Akbar Sirinawa
cegah dini tuntas obati cek kesehatan gratis kementerian kesehatan CKG Lapas Kuripan