Menenun Hijau di Tanah Bekas Tambang Amman: Jalinan Ijuk, Komitmen dan Keringat Pekerja (1)

Kimda Farida • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 11:10 WIB
Eli Ekawati, salah satu pekerja penenun ijuk dari pohon aren saat bekerja menyatukan lembaran ijuk untuk kepentingan reklamasi AMMAN. Dari pekerjaannya ini, ia mengaku mendapat penghasilan cukup besar untuk kebutuhan dapur dan biaya pendidikan anak.  
Eli Ekawati, salah satu pekerja penenun ijuk dari pohon aren saat bekerja menyatukan lembaran ijuk untuk kepentingan reklamasi AMMAN. Dari pekerjaannya ini, ia mengaku mendapat penghasilan cukup besar untuk kebutuhan dapur dan biaya pendidikan anak.  

PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) merupakan perusahaan tambang tembaga dan emas yang beroperasi di Batu Hijau, Kecamatan Sekongkang, Kabupaten Sumbawa Barat. Perusahaan kelas dunia yang telah sukses menerapkan kewajibannya melalui program CSR untuk masyarakat, lingkungan hingga ekonomi. Berikut catatannya. 

ABDUL FARUK--SUMBAWA BARAT 

Matahari siang itu serasa berada sejengkal di atas kepala. Udara panas itu seakan-akan menyambut kedatangan wartawan Lombok Post, saat memasuki tanah lapang dengan pagar kayu cat putih bersih. Di balik pagar sederhana itu, ada pemandangan yang mencuri perhatian. Tumpukan mirip 'gunung' berwarna hitam pekat, berjejer dan tersimpan rapi di atas tanah.

Dilihat sekilas, tumpukan itu seperti rambut raksasa yang sengaja dikeringkan. Tapi ini bukan rambut. Ini ijuk, serat pohon aren dan kelapa yang dikumpulkan, dipilah, dibentuk dan diikat rapi untuk kepentingan reklamasi tambang AMMAN.

Siapa sangka, di tempat tersembunyi yang tenang itu, ada roda ekonomi warga bergerak. Di bawah tenda beratap terpal dan seng itu beberapa pekerja terlihat sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Salah satunya, Eli Ekawati.

Baca Juga: Nilai Tambang Mengalir Lebih Jauh, Jejak AMMAN dalam Menggerakkan Ekonomi NTB

Perempuan asal Desa Beru, Kecamatan Jereweh ini tampak lesehan di atas tanah, hanya beralaskan ban bekas. Saat Lombok Post mendekat, jemarinya yang terbungkus sarung tangan kain itu begitu lihai menyisir serat ijuk menggunakan parangnya yang tajam.

‘’Saya Eli Ekawati,’’ sapanya singkat menyambut kedatangan Lombok Post.

 

Seorang pekerja berpose di balik tumpukan ijuk yang berhasil diproduksi masyarakat Desa Beru, Kecamatan Jereweh. Ijuk ini menjadi salah satu faktor pendukung kesukseskan reklamasi AMMAN di area tambang Batu Hijau, Kecamatan Sekongkang.(Faruk/Lombok Post)
Seorang pekerja berpose di balik tumpukan ijuk yang berhasil diproduksi masyarakat Desa Beru, Kecamatan Jereweh. Ijuk ini menjadi salah satu faktor pendukung kesukseskan reklamasi AMMAN di area tambang Batu Hijau, Kecamatan Sekongkang.(Faruk/Lombok Post)

Tak jauh darinya, pekerja lain ikut sibuk memilah dan membersihkan ijuk. Bunyi gesekan antara serat aren dan parang seolah menjadi musik yang menemani keseharian mereka bekerja. Ijuk dipintal rapi kemudian diikat dan digulung. Setiap ukuran bervariasi, ada yang 10 × 1 meter hingga 15 × 2 meter. Setiap ijuk yang mereka hasilkan hari itu dihargai Rp 35 ribu hingga Rp 40 ribu per gulung.

‘’Beginilah aktifitas kami. Uang dapur dan biaya sekolah anak tetap aman,’’ katanya seraya tersenyum ramah di balik masker kain, tanpa menghentikan gerakan tangannya yang cekatan.   

Sehari, rata-rata pekerja di tempat ini bisa menghasilkan empat hingga lima gulungan ijuk siap pakai. Jika datang lebih pagi, jumlah ijuk yang diproduksi tentu akan lebih banyak. Hanya saja, hari itu jumlah pekerja di lokasi ini tidak banyak. Tidak seramai hari minggu atau libur nasional. Kebetulan, mayoritas pekerjanya adalah buruh tani.  

Sementara lahan pertanian di desa itu sedang memasuki musim tanam.  ‘’Ya, tinggal dikalikan saja, sehari rata-rata kami mengantongi Rp 140 ribu hingga Rp 175 ribu,’’ jelasnya. 

Baginya, setiap rupiah yang dihasilkannya hari itu adalah napas utama penopang kebutuhan rumah tangga yang terus naik, hingga biaya pendidikan anak yang terus meningkat. Apalagi dengan statusnya saat ini sebagai janda dua anak, satu duduk di bangku SMK dan satu lagi sekolah dasar.

‘’Selesai dari sawah, langsung datang ke sini. Pekerjaannya santai, tak dibatasi waktu. Penting ada penghasilan,’’ katanya lagi.

Lantas, untuk apa ijuk sebanyak ini? Ijuk hitam itu bukan untuk atap rumah. Jawabannya mengejutkan, dikirim ke tambang besar yang dikelola PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN).

Baca Juga: Rekolonisasi dan Pemantauan Laut Dalam, Cara AMMAN Menjaga dan Merawat Ekosistem Sumbawa Barat

Ternyata, serat hitam dari pohon aren yang terkesan tidak bermanfaat itu rupanya memiliki peran vital dalam industri pertambangan modern. Ijuk yang dihasilkan dipasang di tebing-tebing terjal area reklamasi. Fungsinya sangat krusial. Benteng alami penahan erosi dan longsor saat penghijauan.

Serat ijuk itu tidak hanya menjaga tebing tambang tetap kokoh, tapi juga terus memperkokoh kesejahteraan warga sekitar. Siapa sangka, serat kotor dari pohon aren di pelosok Desa Beru itu, justru menjadi benteng pertahanan utama raksasa tambang.

Tidak jauh dari tempat itu ada juga pekerja lain. Namanya Ismail, usianya sudah 60 tahun. Kakek asal Desa Beru, Kecamatan Jereweh ini sudah lima tahun bekerja di tempat itu.

''Alhamdulillah, dari pekerjaan ini ekonomi saya terbantu. Bisa gajian tiap minggu,'' katanya seraya tersenyum. 

Di usianya yang sudah senja, kecepatan tangannya terlihat masih sangat terampil. Baginya, ijuk yang berhasil ia pintal dan diikat rapi hari itu menjadi 'emas hitam' untuk menopang kehidupan keluarganya.

‘’Iseng-iseng mengisi waktu luang. Kerjanya cukup empat sampai lima hari, kalau dirupiahkan seminggu minimal kita dapat Rp 500 ribu bahkan lebih,’’ paparnya. 

Sistem kerja di tempat milik Tarmizi Pane, pengusaha lokal asal Kecamatan Jereweh ini tidak terikat waktu. Ismail bersama pekerja lain tidak perlu mengisi daftar absensi. Mereka bisa datang kapan saja. Ketika tidak ada pekerjaan di sawah, mereka biasanya datang lebih awal.

 ‘’Untuk hari ini baru tiga gulung, tadi datangnya agak siangan. Tapi ini sudah lebih dari cukup,’’ katanya lagi.

Bekerja di tempat pembuatan ijuk untuk kepentingan reklamasi tambang ini juga dirasakan manfaatnya oleh Fatimah dan Haeratun. Hasil keringat yang mereka peroleh mampu mengantarkan anaknya meraih gelar sarjana. Keduanya mengaku, upah yang diterima dari pekerjaan ini sangat membantu. '

'Alhamdulillah, dari pekerjaan ini anak-anak kami bisa kuliah di Mataram. Satu orang sudah wisuda, satunya lagi baru masuk kuliah,'' papar keduanya seraya tersenyum. 

Bagi Fatimah dan Haeratun, meski pekerjaan tersebut sederhana tapi manfaatnya benar-benar dirasakan langsung masyarakat sekitar. Terutama bagi mereka yang selama ini hanya mengandalkan sumber penghasilan dari suami. Apalagi, di tengah kondisi seperti sekarang, sangat sulit bagi ibu-ibu seperti mereka mencari pekerjaan lain.

‘’Uang yang dihasilkan dari sini sebagian kami tabung. Kalau anak di Mataram minta uang kuliah, kami tidak kesulitan,’’ ungkapnya.

Baca Juga: Sebelum Bahaya Menjadi Bencana, AMMAN Membaca Risiko dengan Teknologi

Senada disampaikan Nurhasanah. Nenek 50 tahun yang oleh rekan-rekannya biasa dipanggil Inaq Sapa itu mengaku ekonominya terbantu setelah bekerja di tempat ini. Meski usianya sudah tidak lagi muda, namun semangatnya mengais rezeki tak pernah surut.

Mengenakan kaos oranye terang bertuliskan ‘Bisi 18 Super’ lengkap dengan penutup kepala berwarna kuning dan sarung tangan pelindung, gerakan jemari tangannya terlihat begitu lincah dan terampil, memilah dan merapikan serat ijuk di depannya. Setiap gerakannya mencerminkan pengalaman dan ketelitian. 

‘’Pekerjaannya mudah. Ijuk yang sudah bersih tinggal diikat. Hari ini sudah dapat empat gulung,’’ ucapnya dengan logat daerah yang khas. 

Secara kasat mata, pekerjaan itu sederhana. Serat ijuk dari kelapa dan aren itu cukup dibersihkan dengan cara dipukul-pukul atau disisir menggunakan kayu atau parang. Ijuk yang sudah rapi di tempatkan terpisah. Setiap gulungan kemudian digabung, dipotong, dijahit rapi. Menyesuaikan dengan ukuran yang dibutuhkan.

‘’Untuk tetap aman, kita mengenakan sarung tangan. Masker juga wajib, tapi kebetulan udaranya sedang panas-panasnya, saya agak kesulitan bernapas. Kalau tidak, kotoran serat ijuk yang berterbangan itu bisa terhirup dan mengganggu kesehatan,’’ katanya lagi.    

Gulungan ijuk yang sudah jadi, hasil dari tangan terampil para pekerja ini kemudian ditumpuk dan dibawa ke satu tempat penampungan khusus. Tumpukan yang menggunung itu sengaja dibiarkan mengering di bawah terik matahari alami. Setiap ijuk yang dihasilkan para pekerja kemudian dicatat seorang mandor.

‘’Lihat gulungan di depan gerbang tadi, saat pertama masuk ke dalam, itu yang akan dikirim ke lokasi reklamasi pertambangan AMMAN,’’ kata Inaq Sapa seraya menunjuk lokasi yang ia maksud. 

Bagi Inaq Sapa, memintal ijuk di tempat ini menjadi berkah baginya bersama suami. Ini bukan sekadar pekerjaan sampingan biasa, tapi menjadi penyangga utama ekonomi keluarga.

 ‘’Suami saya sudah tua, tidak bisa kerja berat. Alhamdulillah, dari pekerjaan ini saya bisa membeli keperluan dapur dan kebutuhan sehari-hari,’’ ujar dengan nada sendu. (bersambung)

Editor : Kimda Farida
Sumber : Liputan
Reklamasi Tambang Desa Beru Sumbawa Barat Amman CSR