Menenun Hijau di Tanah Bekas Tambang Amman: Jalinan Ijuk, Komitmen dan Keringat Pekerja (2)

Kimda Farida • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 11:19 WIB

Tarmizi Pane, pengusaha lokal yang dipercaya AMMAN menyediakan pasokan ijuk dari serat aren dan kelapa. Berkat keuletannya, masyarakat lokal mendapatkan manfaat cukup besar. Ia pun sukses menjadi jembatan penghubung antara warga dengan perusahaan.(Faruk/Lombok Post)
Tarmizi Pane, pengusaha lokal yang dipercaya AMMAN menyediakan pasokan ijuk dari serat aren dan kelapa. Berkat keuletannya, masyarakat lokal mendapatkan manfaat cukup besar. Ia pun sukses menjadi jembatan penghubung antara warga dengan perusahaan.(Faruk/Lombok Post)
 

Ijuk yang dihasilkan para pekerja ini tak hanya memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat setempat. Kesuksesan reklamasi bekas galian tambang Amman Mineral membuktikan keberhasilan kolaborasi antara masyarakat, pengusaha lokal dan perusahaan. Berikut lanjutannya. 

 

ABDUL FARUK--SUMBAWA BARAT 

 

Cukup lama bersama satu rekan media lain dari Kabupaten Dompu mengobrol dan berkeliling di sekitar lokasi pembuatan ijuk, tiba-tiba ponsel saya berdering. Dari layar, muncul nama Tarmizi Pane. Pengusaha lokal yang memang sejak awal ingin kami temui. ‘’Maaf sudah menunggu lama. Tadi lagi di masjid,’’ kata Tarmizi menyambut ramah. 

Tarmizi Pane merupakan mitra AMMAN. Salah satu pengusaha lokal yang diberdayakan perusahaan untuk membuat ijuk pengaman reklamasi. Pria berkacamata dengan janggut putih panjang itu lantas mempersilahkan kami beristirahat sebentar di gazebo sederhana miliknya, tidak jauh dari lokasi utama pembuatan ijuk. ‘’Bagaimana, apa yang bisa saya bantu,’’ katanya membuka pembicaraan. 

Meski berstatus sebagai bos dengan omzet miliaran rupiah setahun, penampilan pria yang dulu pernah bekerja sebagai karyawan AMMAN ini tampak sederhana. 

Baca Juga: Menenun Hijau di Tanah Bekas Tambang Amman: Jalinan Ijuk, Komitmen dan Keringat Pekerja (1)

Tidak mencolok, hanya mengenakan celana jeans warna biru, dibalut kaos abu dengan tulisan VANS di depannya. Ia pun ikut duduk bersila. Santai, penuh kehangatan menceritakan sebuah ikhtiar yang tampak biasa, namun berdampak sangat besar. 

‘’Total ada sekitar 20 orang pekerja paruh waktu kalau di tempat saya. Sebagian besar ibu-ibu warga desa setempat,’’ ujarnya ringan.

 

Baginya, usaha ini bukan sekadar bisnis mencari untung. Ini tentang pemberdayaan dan kemandirian. Sebagai pengusaha lokal, ia menjadi jembatan antara masyarakat desa dengan AMMAN. ‘’Kami disini menyediakan salah satu kebutuhan material untuk reklamasi. Bahan utamanya serat kelapa dan ijuk aren,’’ katanya lagi. 

Di balik operasional perusahaan yang ia pimpin, pria murah senyum ini memegang prinsip yang sangat tegas, pantang menunda hak pekerja. ‘’Kita tidak berani menahan keringat orang, bagaimanapun caranya, mau ngutang atau apa, upah pekerja tetap kita bayar tepat waktu setiap minggu,’’ katanya tegas. 

Menahan gaji adalah sebuah pantangan. Kredibilitas dan rasa kemanusiaan inilah yang membuat usahanya terus dipercaya. Dampaknya sungguh nyata. Dari tumpukan ijuk hitam yang sekilas tampak tak berharga, ibu-ibu itu kini memiliki penghasilan tambahan yang signifikan. Bukan cuma bikin dapur tetap ngebul, beberapa pekerja bahkan berhasil menyekolahkan anak-anak mereka hingga perguruan tinggi. ‘’Ada dua orang, anaknya kuliah dari hasil ini," katanya. 

Siapa sangka, dari serat hitam yang terkesan tak ada harganya itu ternyata menyimpan masa depan anak-anak desa. Bagi sebagian orang mungkin ijuk hanyalah sampah pohon aren. 

Pane, akrabnya disapa menceritakan kisah haru, bagaimana perjuangan ibu-ibu selama berkerja di tempatnya. Baginya, mereka bukan hanya sebatas pekerja biasa, warga desa yang sehari-hari berkutat mengolah ijuk untuk material reklamasi tambang itu sudah seperti keluarga sendiri. ''Di tangan ibu-ibu ini, ijuk adalah biaya semesteran, uang SPP. Jalan menuju gelar sarjana,'' lanjutnya bangga. 

Inilah konsep pemberdayaan sejati. Terutama yang dilakukan oleh AMMAN. Bukan sekadar memberi pekerjaan kepada pengusaha lokal lalu ditinggal pergi. Tapi memberi kail, menyediakan wadah, memastikan roda usaha terus berputar dan hasilnya gunakan kembali untuk kepentingan reklamasi. 

Bagi dia, keberlanjutan pemberdayaan, seperti penyediaan ijuk kelapa dan ijuk aren untuk reklamasi tambang bukan hanya urusan kontrak bisnis. Ini soal napas dapur warga desa. Roda ekonomi kecil ini terus berputar. Agar dirinya sebagai pengusaha lokal dan masyarakat sekitar bisa terus berdaya dan menikmati dampak positif dari keberadaan perusahaan besar di tanah mereka. ‘’Keberlanjutan adalah kunci. Sebab bagi kami, pekerjaan yang konsisten jauh lebih berharga. Kesejahteraan juga terjaga,’’ harapnya. 

Baca Juga: Nilai Tambang Mengalir Lebih Jauh, Jejak AMMAN dalam Menggerakkan Ekonomi NTB

Ada satu hal yang paling menarik dari prinsip bisnis pria ini. Bukan cuma soal untung rugi, tapi soal bagaimana ia memperlakukan orang-orang yang bekerja padanya. ‘’Keringat pekerja hal sakral, tak boleh ditawar,’’ katanya mengingatkan. 

Hasilnya, AMMAN tak pernah terlambat membayar setiap tagihan yang mereka ajukan. Semua berjalan lancar karena dibangun di atas fondasi kepercayaan dan kejujuran. ‘’Ada banyak keluarga yang kita jaga. Selama prinsip pantang menahan keringat orang itu terus kita pegang, InsyaAllah roda usaha pun akan terus berputar,’’ katanya kembali mengingatkan. 

Tak terasa, hari semakin siang. Pembicaraan kami pun semakin serius. Ia bahkan menceritakan sepenggal kisah perjalanan usahanya di bidang ini. Dari penuturunnya, usaha tersebut pertama kali dimulai lewat kemitraan dengan pengusaha lokal lain. Sebagian dari wilayah Kecamatan Maluk, sebagian lagi dari Sekongkang, sampai akhirnya ada tuntutan untuk mandiri. ‘’Kita didorong harus mandiri, peluang ini saya ambil. Alhamdulillah terus jalan hingga sekarang," ujarnya santai.

Sebagai pengusaha lokal, ia memulai langkah secara mandiri pertama kali tahun 2025. Meski perusahaannya terbilang baru, bidang usaha pengadaan serat alami ini sebenarnya sudah lama ada. Bahkan sejak tambang AMMAN pertama kali beroperasi. ‘’Pengusahanya berganti. Banyak yang putus di tengah jalan karena tak sanggup menjaga pasokan barang,’’ katanya. 

Sebagai pengusaha, menjaga pasokan bahan baku tidak semudah membalikkan telapak tangan. Agar produksi tidak terputus, bahan sampai harus mengambil dari luar daerah. ‘’Bahan utamanya kami ambil dari petani aren di Desa Tongo. Di sana stoknya lumayan banyak. Kalau masih kurang, sebagiannya lagi kami ambil dari Pulau Lombok,’’ katanya menjelaskan.

Dari usaha ini, ia mengaku mendapat omzet cukup besar. Nilainya tak main-main, antara Rp 1 miliar hingga Rp 2 miliar per tahun. Angka yang cukup fantastis. ‘’Dulu bisa sampai Rp 2 miliar. Tapi sekarang dibagi-bagi, karena ada juga pengusaha serupa di tempat lain,’’ paparnya. 

Baca Juga: Rekolonisasi dan Pemantauan Laut Dalam, Cara AMMAN Menjaga dan Merawat Ekosistem Sumbawa Barat

Dari sinilah ia belajar lebih serius, melihat dan memanfaatkan peluang yang mungkin tidak bisa diraih banyak orang. Ikut mengambil peran penting untuk kehidupan keluarga dan warga sekitar. ‘’Kuncinya sederhana, konsistensi. Setiap permintaan datang dipenuhi tepat waktu. Makanya kami tetap dipercaya,’’katanya lagi. 

Bagi perusahaan tambang sebesar AMMAN, kepastian pasokan adalah segalanya. Dan kini, ia termasuk salah satu pengusaha lokal yang berhasil membuktikannya. Tugas mereka sederhana tapi krusial, menyediakan material untuk reklamasi tambang dan pemulihan lingkungan.

Dari tumpukan ijuk hitam yang sekilas tampak biasa, lahir harapan, pendidikan dan masa depan anak-anak desa yang lebih cerah. Sebuah bukti bahwa pemberdayaan lokal yang dikelola dengan jujur dan konsisten mampu mengubah takdir banyak orang. ‘’Usaha ini bukan tentang mencari untung semata, ini tentang pemberdayaan yang bertanggung jawab,’’ katanya. 

Saat ditanya apa harapan kepada AMMAN, jawabannya tidak neko-neko. Tak ada permintaan muluk-muluk. Bagaimana pemberdayaan seperti ini tetap jalan, pengusaha dan masyarakat tetap berdaya dan perusahaan tetap jalan dengan aktifitas reklamasinya. ‘’Kuncinya tetap fokus, supaya tetap berkesinambungan," ujarnya tenang. (bersambung)

Editor : Kimda Farida
Sumber : Liputan
Reklamasi Tambang Tarmizi Pane Amman Mineral Sumbawa Barat Pemberdayaan Masyarakat