Emas di Ujung Rantai Produksi Batu Hijau

Akbar Sirinawa • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 12:13 WIB

 

Karyawan AMMAN mengambil emas batangan usai melakukan transaksi di AMMAN Gold ATM.
Karyawan AMMAN mengambil emas batangan usai melakukan transaksi di AMMAN Gold ATM.

 

LombokPost-Pendar lampu di lobi kantor pusat PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMAN) di kawasan bisnis terpadu Jakarta memantul pada badan sebuah mesin berwarna kuning. Di tengah lalu-lalang karyawan, warnanya mencolok. Aksen grafis hitam membalut bagian depan, logo AMMAN terpasang di bawah layar, sementara sebuah kamera bertengger pada ujung tiang di atasnya.

Itulah AMMAN Gold ATM. Fasilitas perdana yang menggeser cara orang memandang hasil tambang.

Seorang karyawan melangkah mendekati mesin itu. Bertahun-tahun perusahaan ini identik dengan batuan kasar, alat berat yang menderu, dan kerasnya operasional di tambang Batu Hijau, Sumbawa Barat. Namun di hadapan etalase digital ini, hasil akhir dari kerja keras itu hadir dalam bentuk yang jauh lebih praktis.

Layar sentuh vertikal yang mendominasi wajah mesin menampilkan tulisan “Amman Gold Bars & Granules” dengan slogan “Refined To Perfection”. Jari telunjuknya menyentuh satu dari dua tombol digital utama yang tersedia, memilih opsi “Beli Emas” alih-alih “Redeem Emas”.

Baca Juga: 100 Tahun Setelah Batu Hijau

Pada katalog digital itu, ia dengan mudah memilih jenis dan ukuran kepingan emas yang diinginkan. Layar kemudian menampilkan rincian transaksi untuk ditinjau, lengkap dengan syarat dan ketentuan yang harus disetujui.

Proses berlanjut dengan ketelitian yang ketat. Sesuai prosedur kepatuhan yang berlaku, ia melakukan verifikasi identitas menggunakan KTP dan melengkapi data yang diminta. Sama sekali tidak ada uang tunai yang berpindah tangan. Pembayaran dilakukan menggunakan kartu debit melalui mesin EDC dari Bank BNI yang terpasang menonjol di sisi kanan mesin.

Setelah transaksi terverifikasi, mesin mengeluarkan kemasan produk emas beserta struk transaksi. Kemasannya berbentuk kotak pipih bernuansa putih, dihiasi corak abu-abu dan logo AMMAN di salah satu sudut. Tangan karyawan itu meraihnya dari ruang pengambilan berwarna hitam di bagian bawah mesin.

Kemasan emas itu kini berada dalam genggaman. Di tengah gedung pencakar langit Jakarta, proses ini terlihat seperti transaksi investasi modern yang serba cepat. Namun, emas dalam genggaman itu membawa jejak jauh lebih panjang menuju Batu Hijau, Sumbawa Barat.

“AMMAN Gold ATM bukan sekadar fasilitas transaksi. Ini merupakan representasi nyata perjalanan transformasi AMMAN dari perusahaan tambang menjadi perusahaan yang mampu menghasilkan produk bernilai tambah hingga ke tangan konsumennya sendiri,” kata Vice President Corporate Communications AMMAN Kartika Octaviana.

AMMAN Gold ATM menjadi teknologi terakhir yang ditemui emas sebelum berpindah tangan. Namun, bagian paling menentukan dari perjalanan emas justru berlangsung jauh sebelum layar itu disentuh.

Untuk melihatnya, perjalanan perlu ditelusuri ke arah berlawanan. Dari kemasan pipih menuju granul emas. Dari granul menuju lumpur anoda. Lalu kembali ke konsentrat dan bijih yang diangkat dari Batu Hijau.

Emas bukan barang baru bagi Batu Hijau, yang mulai berproduksi secara komersial pada 2000. Selama bertahun-tahun, emas dan perak ikut dalam konsentrat tembaga yang biasanya diekspor untuk dimurnikan di berbagai negara. Smelter dan Precious Metals Refinery (PMR) kini memperpanjang perjalanan yang dahulu berhenti pada konsentrat hingga menjadi logam murni.

Baca Juga: Jejak Batu Hijau di Dapur Warga, Sekolah, dan Pesisir

Perubahan dimulai dari batuan. Bijih dari lubang tambang melewati penghancur utama. Konveyor darat membawanya ke penampungan dan pabrik pengolahan. Dua SAG mill dan empat ball mill terus memperkecil ukurannya.

Setelah cukup halus, bijih bercampur air menjadi bubur dan memasuki rangkaian flotasi. Di dalam tangki, partikel mineral berharga menempel pada gelembung, naik ke permukaan sebagai buih, lalu dipisahkan dari sebagian besar batuan lain. Namun, emas belum berdiri sendiri. Ia masih menumpang dalam konsentrat tembaga bersama perak.

Jalur berikutnya, konsentrat kemudian mengalir 18 kilometer di dalam pipa menuju Benete. Kandungan airnya dikurangi. Sebagian disimpan, sisanya menjadi bahan baku smelter.

Di smelter, material kembali berganti bentuk. Pengumpanan konsentrat dan produksi anoda tembaga pertama berlangsung pada Februari 2025, disusul produksi katoda sebulan kemudian. Bagi perjalanan emas, katoda bukan hasil akhirnya. Emas dan perak justru terkumpul dalam lumpur anoda sebelum dimurnikan di PMR.

Semakin dekat menuju emas murni, ruang bagi kesalahan semakin sempit. PMR dirancang mengolah hingga 970 ton lumpur anoda setiap tahun dan menghasilkan emas dengan kemurnian 99,99 persen. Kemampuan itu tidak hanya bergantung pada deretan mesin.

“Pembelajaran terbesarnya adalah teknologi yang canggih tetap bergantung pada manusia yang mengoperasikannya. Komisioning PMR mempertemukan banyak orang dengan latar belakang dan pengalaman yang berbeda. Ada yang sudah berpengalaman di industri pengolahan, ada pula yang untuk pertama kalinya bekerja di fasilitas pemurnian logam mulia,” kata Kartika.

Emas batangan yang dihasilkan dari tambang Batu Hijau, Sumbawa Barat.
Emas batangan yang dihasilkan dari tambang Batu Hijau, Sumbawa Barat.

Perbedaan pengalaman itu harus bertemu dalam satu irama kerja. Tim operasi PMR dan smelter menjalankan proses. Tim komisioning menguji kesiapan fasilitas. Tim kendali proses, pemeliharaan, keselamatan, lingkungan, dan kualitas menjaga seluruh rangkaian tetap bekerja sebagaimana mestinya. 

Sebagian dari mereka berasal dari daerah yang sama dengan tambangnya. “Di fasilitas PMR, terdapat tujuh karyawan asal Kabupaten Sumbawa Barat yang terlibat langsung dalam mendukung proses produksi emas murni pertama. Mereka bekerja di berbagai peran teknis dan operasional yang menjadi bagian penting dari keberhasilan fasilitas ini,” ungkapnya.

Persiapan juga membawa 25 karyawan PMR ke Tiongkok pada 2025. Mereka belajar di fasilitas pemurnian logam mulia yang telah beroperasi, lalu membawa pengalaman itu kembali ke Sumbawa Barat.

Di PMR, gas, cairan, dan padatan bergerak dalam sirkuit tertutup yang dipantau, diukur, dan dicatat. Sejak komisioning sejak kuartal kedua 2025, tim memastikan setiap bagian bekerja sesuai desain, proses tetap aman, stabil, dan sesuai standar lingkungan, serta hasil pemurnian memenuhi spesifikasi setelah melalui pengambilan sampel dan pengujian kualitas.

Akhirnya, pada siang 15 Juli 2025, rangkaian panjang itu menghasilkan emas murni pertama AMMAN. Hasilnya bukan batangan mengilap, melainkan granul. Butiran kecil itu lebih mudah ditangani, diambil sampelnya, dan diuji sebelum diproses lebih lanjut. Dalam bentuk sederhana itulah perubahan besar di ujung rantai Batu Hijau pertama terlihat.

Keberhasilan pada siang itu tidak hanya terletak pada hasil pemurnian. “Di balik emas murni pertama itu ada ribuan orang yang terlibat, termasuk banyak putra-putri NTB yang berkontribusi dalam pembangunan dan pengoperasian fasilitas ini,” ujarnya.

Granul pertama bukan garis akhir. Tantangan berikutnya adalah membuat keberhasilan itu dapat diulang sambil menjaga keselamatan, mutu, dan kestabilan operasi.

Dari granul pertama, hasilnya masuk ke hitungan ton. Laporan Tahunan AMMAN 2025 mencatat produksi emas murni mencapai 124.723 ons, atau sekitar 3,9 ton. Data AMMAN menunjukkan PMR kembali menghasilkan 66.209 ons pada kuartal pertama 2026.

Target berikutnya jauh lebih besar. AMNT menargetkan produksi emas mencapai 16,1 ton hingga akhir 2026. “Rencana produksi sampai akhir tahun 2026, kami berencana memproduksi sekitar 162 ribu ton katoda tembaga, kemudian sekitar 16 ton emas, 45 ton perak,” ujar Presiden Direktur AMNT Rachmat Makkasau dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XII DPR RI di Jakarta, Selasa (14/7).

Namun, menjaga rantai tetap berproduksi tidak selalu mulus. Smelter berhenti sementara pada Juli dan Agustus 2025 untuk memperbaiki Flash Converting Furnace dan pabrik asam sulfat. PMR dan bagian smelter yang tidak terdampak tetap beroperasi. Gangguan itu menunjukkan jarak antara produk pertama dan operasi yang stabil.

AMMAN Gold ATM.
AMMAN Gold ATM.

Granul bukan bentuk yang keluar dari AMMAN Gold ATM. Setelah diproses menjadi produk akhir, emas tiba pada teknologi terakhir dalam perjalanannya.

Jakarta menjadi tempat peluncuran awal untuk menguji operasional, keamanan, dan pengalaman pengguna. Pada 12 Mei 2026, AMMAN Gold ATM hadir di Site Batu Hijau. Untuk sementara, fasilitas itu hanya dapat digunakan karyawan AMMAN Group. Pilihan emas yang tersedia berukuran 0,5 gram, 1 gram, 2 gram, dan 5 gram.

Bagi Marlin Sari, karyawan Safety, Health, and Environment Department, mesin itu mendekatkan perjalanan panjang tadi kepada orang-orang yang bekerja di Batu Hijau. “Rasanya berbeda ketika kita bisa memiliki emas yang berasal dari hasil kerja dan proses yang setiap hari kami lihat sendiri di Batu Hijau,” katanya.

Di depan mesin kuning itu, perjalanan panjang tadi menyusut menjadi pilihan produk pada satu layar. Tak tampak gelembung yang mengangkat mineral berharga, pipa sepanjang 18 kilometer, lumpur anoda, sirkuit tertutup, ataupun orang-orang yang membaca dan menjaga seluruh prosesnya tetap stabil.

Ketika ruang pengambilan terbuka, emas berpindah ke genggaman. Jauh sebelum itu, ia telah melewati perubahan demi perubahan dalam rantai produksi Batu Hijau. Teknologi menjalankan prosesnya. Manusia menjaga setiap tahapnya.

 

Editor : Akbar Sirinawa
AMMAN Gold ATM Precious Metals Refinery Teknologi Pertambangan. tambang batu hijau Amman Mineral