Menenun Asa di Desa Wisata Sade Rembitan, Perempuan Sade Menunggu Sesek Kembali Memutar Roda Ekonomi

Lestari Dewi • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 08:00 WIB
Kurmia menunjukkan beberapa bantuan sembako yang diterimanya dari donatur di Desa Wisata Sade, Dusun Sade, Desa Rembitan, Pujut, Lombok Tengah, Kamis (27/8).
Kurmia menunjukkan beberapa bantuan sembako yang diterimanya dari donatur di Desa Wisata Sade, Dusun Sade, Desa Rembitan, Pujut, Lombok Tengah, Kamis (27/8).

 

Dusun Sade berangsur bangkit dari sisa puing kebakaran. Para perempuan perajin tenun mulai membersihkan lahan rumah adat demi mendirikan tenda darurat. Mereka berharap bantuan alat tenun segera tiba agar roda kehidupan bisa kembali berputar.

----

PAGI di Dusun Sade, Desa Rembitan, terasa dingin tak seperti biasanya. Tak ada keriuhan wisatawan yang memadati lorong-lorong sempit berlantai tanah plesteran khas Sasak.

Suasana pascamusibah kebakaran masih tampak lengang. Namun, kesunyian itu tak membuat warga berdiam diri. Di tengah kepulan duka yang tersisa, warga mulai turun membenahi roda kehidupan mereka. 

Tampak Kurmia menyapu perlahan teras rumahnya yang tinggal tapak. Sisa-sisa abu hitam dikumpulkannya dengan telaten, lalu disiramnya teras itu dengan air dari ember bekas cat tembok.

Baca Juga: Menenun Asa di Desa Wisata Sade Rembitan, Senyum Marwan, Kala Rupiah Hangus Kembali Utuh

Mengenakan topi anyaman bambu penahan terik, kaus ungu, dan sarung yang terikat rapi di pinggang, jemarinya yang terbiasa memegang pintalan benang kini fokus merapikan tumpukan sembako yang diserahkan donator. 

Kurmia bersiap menjadikan tapak rumah adatnya yang terbakar sebagai tempat tinggal sementara bersama keluarga. Sebelumnya, ia sempat mengungsi di rumah adik kandungnya.

Namun, rasa tak nyaman dan lelah harus bolak-balik mengangkut bantuan membuatnya kembali ke tanah leluhurnya.

“Saya tinggal di sini sama ibu saya, empat anak, dan suami. Terlalu lama tinggal di luar, tidak enak juga. Lebih baik tidur di sini, di tanah sendiri,” kata Kurmia.

Bagi Kurmia dan warga Sade, rumah adat bukan sekadar tempat berteduh, melainkan identitas. Kurmia amat berharap rencana rekonstruksi dari pemerintah daerah nantinya tetap mempertahankan arsitektur asli Sasak, berdinding anyaman bambu dan beratap ilalang.

Ia menekankan agar pembangunan tidak hanya mengembalikan bentuk asli, tetapi juga dilakukan sesegera mungkin agar warga dapat memiliki hunian yang layak dan nyaman kembali. “Kami mau seperti semula,” ucapnya.

Baca Juga: Menenun Asa di Desa Wisata Sade Rembitan, Senyum Anak-anak dan Rajutan Harapan di Tenda Darurat

Saat api berkobar hebat beberapa hari lalu, tak banyak yang bisa diselamatkan Kurmia. Mengutamakan nyawa, ia hanya sempat menyambar dan menyelamatkan keempat anaknya.

Ketika hendak kembali menembus kobaran api demi menyelamatkan harta benda, segalanya sudah terlambat. Rumah adat beserta seluruh isinya ludes dilahap si jago merah tanpa sisa.

Sebelum musibah melanda, roda kehidupan Kurmia berpusat pada bilik tenun di rumahnya. Sambil menjaga artshop kecil miliknya, jemari Kurmia lihai menata benang, melahirkan kain-kain khas Sasak bermotif elok.

Baca Juga: Tinjau Sade, Menpar Pastikan Penanganan Darurat dan Pemulihan Jangka Panjang Berjalan Baik

Pada hari biasa, ia mampu mengantongi pendapatan hingga ratusan ribu rupiah. Bahkan saat akhir pekan, ketika wisatawan memadati Sade, omzetnya bisa menembus Rp 1 juta per hari.

“Hasilnya tidak menentu. Kadang yang laku hanya gelang saja, tapi kalau ramai seperti hari Jumat, Sabtu, dan Minggu, kain tenun banyak yang dibeli. Sekarang alat tenun tidak ada lagi, habis terbakar. Kain tenun juga ikut hangus,” terangnya dengan mata berkaca-kaca.

Alat tenun tradisional milik Kurmia bukan sekadar kayu biasa, melainkan peninggalan turun-temurun hingga belasan generasi. Saking tuanya, kayu alat tenun itu telah menghitam dimakan usia sebelum akhirnya berujung menjadi abu.

Baca Juga: Rekonstruksi Masjid Sade Temui Titik Terang, BTT Loteng Diusulkan Naik ke Rp 9 Miliar

Kehilangan alat tenun ibarat memutus napas perekonomian mereka. Oleh karena itu, Kurmia sangat mengharapkan bantuan modal usaha serta penggantian alat tenun dari pihak terkait.

“Kami sebenarnya butuh bantuan uang juga untuk beli alat tenun dan modal awal segala macam,” tambahnya.

Imah duduk termenung di tapak teras Bale Tani miliknya pascamusibah kebakaran di Desa Wisata Sade, Dusun Sade, Desa Rembitan, Pujut, Lombok Tengah, Kamis (27/8).
Imah duduk termenung di tapak teras Bale Tani miliknya pascamusibah kebakaran di Desa Wisata Sade, Dusun Sade, Desa Rembitan, Pujut, Lombok Tengah, Kamis (27/8).

 

Suasana tak jauh berbeda terlihat tatkala bergeser ke arah selatan dusun. Suara palu dan linggis bersahut-sahutan menghantam tanah, memecah ketenangan pagi Dusun Sade.

Imah tampak duduk termenung di tapak teras rumahnya yang hangus. Di atas tapak Bale Tani miliknya, kini telah berdiri tenda terpal berwarna biru mencolok yang dipasang suami dan kerabatnya.

Baca Juga: Jaga Rumah Adat, Desa Wisata Sasak Ende Perkuat Mitigasi Bencana

Alasan Imah setali tiga uang dengan Kurmia. Bermalam di bawah lindungan terpal biru di atas tanah sendiri dirasa jauh lebih menenangkan ketimbang terus menumpang di rumah kerabat. Di sekelilingnya, beberapa tetangga juga sibuk mendirikan tiang-tiang bambu sebagai kerangka tenda.

“Walau begini keadaannya sekarang, tapi ini rumah sendiri. Gak enak lama-lama numpang,” kata Imah.

Imah memohon agar pemerintah daerah segera menyalurkan bantuan alat tenun (sesek). Jika memungkinkan, bantuan alat kerja ini disalurkan lebih dahulu sebelum pembangunan fisik rumah dimulai. Dengan begitu, para perempuan Sade bisa langsung kembali menenun dan merajut kembali roda ekonomi keluarga.

“Bahan-bahan benang habis, isi warung (artshop, red) juga gak ada. Alat sesek sudah hangus terbakar. Gak tahu nanti apa yang saya pakai untuk menenun,” pungkas Imah. 

Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : Liputan Berita Lombok Post
roda ekonomi alat sesek berputar Perempuan Desa Wisata Sade