Umrah Istimewa di Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW Bersama Muhsinin Tour and Travel (1)

Kimda Farida • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 10:20 WIB
JABAL UHUD: Jamaah umrah Muhsinin Tour and Travel saat berziarah ke makam Sayidina Hamzah dan para syuhada Perang Uhud di Kawasan Jabal Uhud, Ahad (23/8). (Zulhakim/Lombok Post)
JABAL UHUD: Jamaah umrah Muhsinin Tour and Travel saat berziarah ke makam Sayidina Hamzah dan para syuhada Perang Uhud di Kawasan Jabal Uhud, Ahad (23/8). (Zulhakim/Lombok Post)

 

LombokPost--Tanggal 12 Rabiul Awal diperingati umat Islam sebagai hari lahir Nabi Muhammad SAW. Menziarahi tanah kelahiran Nabi di Tanah Suci menjadi momen istimewa bagi jamaah umrah yang diselenggarakan Muhsinin Tour and Travel di bulan yang mulia ini.

 

--------------------------------

 

Malam hampir larut saat jamaah tiba di Kota Suci Madinah, Kamis (20/8). Udara hangat puncak musim panas menyambut penumpang Garuda Indonesia GA 960 yang terbang sembilan jam dari Jakarta di Bandara Pangeran Muhammad bin Abdul Aziz, Madinah.

Sejuk pendingin terminal kedatangan bandara berbalas suhu hangat dan kering di pelataran. Agak pengap dengan udara berbau pasir gurun.

"Insya Allah selama perjalanan di Makkah dan Madinah tiang (saya) akan pandu," kata Ustad H Zainal Arifin, mutawif dalam umrah ini sambil memperkenalkan diri dari pengeras suara bus yang mengantar jamaah ke dalam kota Madinah.

Bus melaju sedang dikemudikan Nasir, sopir bertubuh tinggi besar asal Sudan. Muhsinin memang telah menyusun rangkaian ibadah umrah dan ziarah dalam jadwal yang cukup rapat. Hampir tak ada waktu yang terbuang, sebab mutawif juga cukup aktif menemani jamaah termasuk pada tempat-tempat yang diinginkan namun tak tertera dalam jadwal kunjungan.

Baca Juga: Jamaah Umrah Muhsinin Doakan Korban Bencana di Tanah Air dari Tanah Suci

"Kami berharap seluruh waktu yang dimiliki jamaah di Tanah Suci benar benar bisa diisi dengan hal-hal positif," tambahnya.

Di Madinah posisi Hotel Sanabel tempat jamaah menginap sekitar 200 meter saja dari Masjid Nabawi. Sangat dekat dengan Masjid kesayangan Nabi.

Bahkan TGH Fahrurrozi hanya butuh sekali mengenalkan rute dari dan menuju masjid. Selebihnya jamaah bisa ibadah secara mandiri menjalankan salat lima waktu di Nabawi.

Hari pertama di Madinah menjadi salat Jumat pertama dalam rangkaian umrah ini. Para jamaah sudah diingatkan untuk datang lebih awal agar bisa mengamankan tempat di dalam masjid.

Maklum cuaca Madinah sedang panas-panasnya. Siang 45 derajat dan malam 42 derajat. Tapi cuaca ekstrem jelang pergantian musim ini seperti tak menghentikan animo para peziarah. Jamaah meluber jauh hingga luar kawasan masjid.

Untuk kunjungan ke Raudah di Kompleks Makam Nabi baru bisa dilaksanakan keesokan harinya. Karena ziarah ke Raudah kini harus di-booking terlebih dahulu secara online melalui aplikasi Nusuk milik Badan Pelayanan Haji dan Umrah Arab Saudi.

Dalam satu periode umrah, jamaah hanya boleh berziarah sekali saja. Ini dilakukan agar ziarah di tempat sakral ini lebih terkontrol.

"Raudah merupakan taman surga, tempat di mana doa lebih mudah diijabah," kata TGH Fahrurrozi Wardi menjelaskan keutamaan berdoa di Raudah.

Baca Juga: Sambut Maulid, Muhsinin Lepas 40 Jamaah Umrah

Keutamaan ini sendiri diriwayatkan sendiri oleh Nabi. Inilah yang membuat peziarah di Madinah menjadikan Raudah sebagai prioritas untuk dikunjungi.

Selain kompleks makam Nabi, jamaah juga menziarahi area pemakaman sahabat dan keluarga Nabi di Baqi. Kemudian berziarah ke makam para syuhada perang Uhud di Jabbal Uhud. Ini adalah salah satu tempat bersejarah dalam periode awal penyebaran Islam di Madinah.

Di sinilah peristiwa paling memilukan terjadi. Paman Nabi, Sayidina Hamzah bin Abdul Mutallib gugur dalam Perang Uhud bersama 70 syuhada lainnya. Bagi masyarakat muslim di nusantara kisah gugurnya Sayidina Hamzah menjadi cerita yang paling banyak ditulis dan dipentaskan.

Kisah ini menginspirasi Hikayat Amir Hamzah sebuah epos panjang berbahasa Melayu. Naskah ini disadur dari Dastan-e-Amir Hamza (Petualangan Amir Hamzah) yang telah ditulis dari cerita tutur Persia di abad ke-10.

Kelak para penyebar Islam menggubah kiasah kepahlawanan ini menjadi berbagai anak cerita dalam berbagai Bahasa yakni Jawa, Sunda, Bali hingga Sasak. Salah satu yang terkenal adalah Serat Menak yang telah dipentaskan dalam aneka drama, syair dan pentas wayang Wong Menak.

Di Lombok Hikayat Amir Hamzah masih dipentaskan hingga kini dalam Lakon Wayang Menak Amir Amsiah, Wong Menak Jayengrane. Sebuah epos berusia lebih dari 1.400 tahun yang masih diceritakan dan berperan penting dalam penyebaran Islam.

Senin (24/8) jamaah bergerak meninggalkan Madinah menuju Makkah. Perjalanan memakan waktu sekitar empat jam menggunakan bus dengan singgah sebentar untuk mengambil Miqat di Masjid Bir Ali, Dzul Hulaifah.

Dalam perjalanan, panas siang berubah mendung dan sedikit gerimis. Jalanan sedikit basah dan bukit-bukit yang meranggas kehausan tersiram. Tapi hujan hanya sebentar berubah menjadi badai pasir yang menggulung hitam di kejauhan. Meski demikian jamaah tetap aman, bus terus melaju hingga masuk perbatasan Kota Makkah sekitar pukul 20.00.

Dalam Ihram jamaah hanya singgah sebentar untuk melepas barang, salat dan makan malam di Hotel Al Olayan di Ajyad. Sebab ibadah umrah harus segera ditunaikan. TGH Fahrurrozi Wardi dan Ustad H Zainal Arifin memandu setiap tahapan.

Malam terasa istimewa. Umrah tepat di tanggal 12 Rabiul Awal, hari kelahiran Nabi Yang Mulia. Pelataran Kakbah dipenuhi lautan manusia yang mengerjakan tawaf.

Baca Juga: Muhsinin Pertahankan Biaya Haji Khusus, Booking Seat Mulai USD 4.500

Pun demikian di antara bukit Safa dan Marwa, ratusan ribu orang bergiliran mengerjakan Sa'i. Rantai manusia dalam Ihram hampir tak terputus mengular sepanjang malam. Rangkaian umrah pertama ini tuntas sekitar pukul 00.15 Selasa (25/8) dini hari.

Di sela-sela Tahalul (mencukur) rambut TGH Fahrurrozi Wardi membagikan beberapa kisah teladan Baginda Nabi. Ceritanya menuntun Jamah membayangkan bagaimana suasana Makkah di periode awal Islam. Kakbah diantara perkampungan klan Arab yang dibangun di sekitar perbukitan terjal Makkah.

"Lihat ada bangunan kecil di atas bukit," kata Ustad Zainal menunjukkan sebuah titik di lereng bukit yang kini ditandai sebagai rumah tempat Nabi dilahirkan.

      Jejak kecil yang tersisa diantara gedung gedung hotel dan mall raksasa yang kini memagari Masjidilharam. (*/bersambung)

Editor : Kimda Farida
Sumber : Lombok Post
umrah Rabiul Awal 12 Rabiul Awal Muhsinin Tour and Travel Umrah nabi muhammad saw