LombokPost – Setelah 26 tahun menjalani pernikahan dan sekitar 35 tahun mengenal Mohan Roliskana, Hj. Kinnastri Mohan Roliskana mengaku memiliki satu hal yang paling ia syukuri. Bukan jabatan. Bukan kekuasaan. Bukan pula keberhasilan politik.
Melainkan satu hal yang jauh lebih personal: Mohan tidak berubah menjadi orang lain setelah mendapatkan jabatan.
“Beliau tidak pernah berubah. Sebagai Mohan yang saya kenal 35 tahun yang lalu,” ungkap Kikin, Senin (31/8).
Mohan yang dulu ia kenal tetap menjadi Mohan yang sama di rumah. Tetap suami. Tetap ayah. Tetap orang yang humoris dan sederhana.
Dan dari sisi keluarga, ada satu sifat yang paling membuatnya bangga. “Setia,” ujarnya singkat.
Setelah puluhan tahun bersama, melewati masa sebagai pasangan muda, ASN, hingga mendampingi Mohan, kesetiaan menjadi kualitas yang paling ia hargai dari suaminya. Karena itu, ketika ditanya apa yang ingin ia sampaikan kepada Mohan jika sang suami membaca tulisan ini, Kikin tidak membutuhkan kalimat panjang.
“I love you,” katanya.
Lalu ia menambahkan satu kalimat yang lebih personal. “Cintaku nggak berubah.”
Baca Juga: Di Depan Pramuka PUI, Kapolri Cerita Pengalaman Jadi Siaga hingga SMA
Ingin Jadi Istri yang Baik
Di tengah berbagai peran publik yang melekat kepadanya, Kikin tidak melihat dirinya sebagai sosok yang berada di balik seluruh keberhasilan Mohan. Ia justru memilih jawaban yang sederhana ketika ditanya apa sebenarnya perannya dalam perjalanan sang wali kota.
“Sebagai istri yang baik buat dia,” katanya.
Ada penekanan pada kalimat tersebut. Bagi Kikin, menjadi istri yang baik bukan berarti harus selalu berada di depan, ikut menentukan keputusan, atau mengambil peran yang bukan menjadi bagiannya.
Ia memilih menjadi orang yang mendampingi, menjaga, mengingatkan. Di lain waktu mendengarkan, dan memastikan keluarga tetap menjadi tempat yang nyaman bagi suaminya.
Karena itu, Kikin tidak ingin keberadaannya diposisikan sebagai sosok yang ikut mengambil kredit atas perjalanan politik suaminya. Ia cukup menjadi bagian yang menopang dari sisi yang ia pahami.
Keluarga. Kesehatan. Mental. Dan hubungan antarmanusia.
Baca Juga: Kota Mataram Resmi Ditetapkan Sebagai Kota Siaga Stroke Kedua di Indonesia
Pada akhirnya, Kikin menyadari keluarga kepala daerah secara tidak langsung juga menjadi sorotan publik. Apa yang dilakukan, bagaimana berinteraksi, dan bagaimana pasangan menjalani kehidupan sehari-hari dapat dilihat masyarakat.
Karena itu, ia ingin keluarga Mohan dan Kikin tidak sekadar berbicara tentang nilai-nilai keluarga. Bukan.
Namun mampu memperlihatkannya dalam kehidupan nyata. “Ketika saya, Bang Aji (Mohan, Red)pada posisi ini harus bisa menjadi teladan. Bisa menjadi contoh yang baik,” katanya.
Menurutnya, keteladanan tidak cukup dibangun melalui ucapan. Integritas harus hadir dalam perilaku.
Ia kemudian memberi contoh sederhana. “Ketika kita berbicara mengenai ketahanan di dalam keluarga, kita harus bisa memberikan contoh bahwa kita juga baik-baik saja di rumah,” katanya.
Bagi Kikin, masyarakat tidak selalu membutuhkan penjelasan panjang. Mereka justru akan melihat sendiri dari keseharian.
Bagaimana pasangan berinteraksi. Bagaimana memperlakukan orang lain. Bagaimana menjalani kehidupan tanpa harus mempertontonkan status.
“Saya biasa-biasa aja sama Bang Aji, tidak ada harus protokol, tidak ada harus yang begini, harus itu. Santai, santai aja,” ujarnya.
Kesederhanaan itu, menurutnya, menjadi pesan yang lebih kuat daripada kampanye tentang keluarga harmonis. “Mereka melihat apa yang kita lakukan, itu mereka menjadi motivasi mereka, menjadi mungkin panutan buat mereka,” katanya.
Baca Juga: Hukuman Mati Koruptor Masuk RUU Perampasan Aset? Pakar Hukum: Salah Kamar
Bagi Kikin, itulah bentuk kontribusi yang paling sederhana sekaligus paling nyata. Tidak perlu menciptakan citra. Tidak perlu membuat label.
Tidak perlu menjelaskan terlalu banyak. Cukup menjalani. “Lebih dari sekadar kata-kata,” tegasnya.
Mohan tetap menjadi Mohan
Dan ketika suatu hari amanah itu selesai, ia tidak meminta gelar, pujian, ataupun warisan nama. Ia hanya ingin suaminya pulang.
Menyelesaikan amanah dengan baik. Tetap dihargai. Tetap diingat kebaikannya.
“Tetap bisa berdiri tegak,” ungkapnya.
Editor : Lalu Mohammad ZaenudinSumber : Liputan Berita Lombok Post