Intip Perjuangan Masa Lalu Mohan Roliskana Sebelum Jadi Wali Kota

Lalu Mohammad Zaenudin • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 19:59 WIB
Mohan Roliskana bersama istri Kinnastri Mohan Roliskana tersenyum saat berbincang dengan tamu-tamunya di Pendopo.
Mohan Roliskana bersama istri Kinnastri Mohan Roliskana tersenyum saat berbincang dengan tamu-tamunya di Pendopo.

 

 

 

LombokPost– Di mata masyarakat, Mohan Roliskana dikenal sebagai Wali Kota Mataram. Sosok yang setiap hari berhadapan dengan urusan pemerintahan, politik, kebijakan, dan tuntutan masyarakat.

Namun, di rumah, sosok itu ternyata jauh berbeda. Bagi istrinya, Hj. Kinnastri Mohan Roliskana, atau akrab disapa Kikin, Mohan bukan pertama-tama seorang kepala daerah. 

Ia adalah pasangan hidup yang telah menemaninya selama puluhan tahun. “Kalau usia pernikahan, 26 tahun,” kata Kikin, Senin (31/8).

Hubungan keduanya bahkan telah terbangun jauh sebelum Mohan berada di kursi wali kota. Kikin mengaku, perjalanan menjadi pasangan kepala daerah sama sekali bukan bagian dari rencana hidup.

Saat berpacaran, keduanya justru menjalani kehidupan dengan rencana yang sederhana. Hampir delapan tahun berpacaran, rencana mereka pun tidak pernah mengarah pada posisi sebagai pejabat.

“Untuk jadi PNS pun kami tidak masuk dalam list kami,” ujarnya.

Takdir kemudian membawa keduanya menjadi aparatur sipil negara. Dari sana, perjalanan hidup berubah sedikit demi sedikit hingga akhirnya Mohan dipercaya memimpin Kota Mataram.

 

Baca Juga: Prabowo Bertemu Putin, Rusia Disebut Mitra Penting Indonesia

Kikin pun tak pernah membayangkan perjalanan tersebut akan membawa suaminya menjadi wali kota selama dua periode. “Jauh sekali, tidak pernah ada dalam bayangan kami. Lalu semua itu takdir Allah berubah semuanya,” tuturnya.

 

Bukan Mohan yang Dikenal Publik

 

Ada satu perbedaan mencolok yang paling dirasakan Kikin antara Mohan sebagai pejabat dan Mohan ketika berada di rumah. Jika di hadapan publik Mohan dahulu kerap dipersepsikan sebagai sosok yang kaku, di rumah justru sebaliknya.

“Kalau di masyarakat mungkin beliau itu terlihat, dulu, sometimes orang bilang beliau kaku. Tapi kalau di rumah beliau orangnya lucu banget,” katanya.

Kikin bahkan menegaskan, suaminya merupakan sosok yang sangat humoris. “Humoris banget,” ujarnya.

Bagi Kikin, sisi Mohan yang satu itu menjadi bagian penting dari kehidupan keluarga. Sebab, di balik kesibukannya sebagai kepala daerah, tetap ada sosok suami dan ayah yang harus hadir untuk keluarga.

Menurut Kikin, secara karakter, Mohan tidak banyak berubah setelah menjadi kepala daerah. Ia tetap menjadi suami dan ayah yang sama.

 

Baca Juga: Meeting Room Svarga Resort Lombok, Privat dan Fleksibel

Ketika ada sedikit waktu luang, keluarga akan berusaha menggunakannya bersama. Bahkan sekadar pergi makan.

“Begitu ada waktu senggang sedikit, hanya walaupun hanya pergi makan ke rumah makan, itu sangat berarti. Dan itu kita sempat-sempatin,” ujarnya.

Kini, ketika anak-anak mereka sudah berada di luar kota, kesempatan berkumpul semakin terbatas. Karena itu, ketika ada waktu kosong, Kikin dan keluarga berusaha tidak menyia-nyiakannya.

“Kalau misalnya tiba-tiba, Bun kosong nih malam, langsung. Ayo, ayo, cepat, cepat, cepat, cepat, habis makan, ayo,” katanya sambil menggambarkan spontanitas keluarga memanfaatkan waktu bersama.

Di situlah, menurut Kikin, konsekuensi terbesar dari perjalanan suaminya sebagai kepala daerah terasa. “Padahal dalam satu keluarga ya, tapi sesulit itu mendapatkan waktu quality,” ujarnya.

 

Dari Anak Wali Kota, Jadi Suami ASN

 

Namun, jauh sebelum Mohan menjadi wali kota, Kikin justru belajar satu hal penting dari suaminya: jabatan dan latar belakang keluarga bukan alasan hidup dalam kemewahan.

 

Baca Juga: Kinnastri Mohan Roliskana Berbagi Kisah 35 Tahun Menemani Sang Suami

Ketika menikah dengan Mohan, status suaminya memang anak seorang wali kota. Tetapi saat itu Mohan sendiri baru berstatus ASN golongan III/A.

Kikin mengatakan, sejak awal Mohan tidak pernah memperlakukannya sebagai menantu wali kota. “Bang Aji itu mendidik saya, treatment saya sebagai istri PNS golongan 3A, bukan sebagai mantunya wali kota,” katanya.

Mohan, menurut Kikin, tidak membiasakan kehidupan rumah tangga mereka dengan privilege atau kemewahan. Kehidupan sederhana justru mereka jalani bersama.

Kendaraan mereka ketika itu pun sederhana. “Punyanya cuma motor Ceketer, ya itu kita nikmati,” katanya.

Kesederhanaan tersebut bukan sekadar cerita masa lalu. Ada satu pengalaman yang hingga kini masih diingat Kikin.

Saat anak keduanya masih menyusu dan keluarga mereka sedang membangun rumah, kondisi keuangan membuat Kikin harus mengambil keputusan yang tidak mudah. Rumah tersebut dibangun secara bertahap hingga membutuhkan waktu hampir dua tahun lebih. 

Mereka harus mencicil pembangunan sesuai kemampuan. Di tengah kondisi itu, kebutuhan anak tetap harus dipenuhi.

Hingga suatu ketika, Kikin tidak lagi memiliki banyak pilihan. “Ada masa ketika sampai ketika membeli susu saya harus jual kalung,” ungkapnya.

Mohan mengajarkan hidup sesuai kemampuan. “Karena Bang Aji tidak ngajarin saya bahwa, ‘Kan orang tua wali kota, tinggal minta,’. Beliau ngajarin saya, saya punya segini, kamu harus bisa menerima segini,” tuturnya.

 

Baca Juga: Korlantas Polri Ingatkan Polantas Jangan Terima Suap saat Bertugas

 

Amanah Besar dan Retak Politik

 

Ketika Mohan pertama kali dipercaya menjadi Wali Kota Mataram, kekhawatiran Kikin bukan soal popularitas ataupun beban pekerjaan suaminya. Yang paling ia khawatirkan adalah amanah.

Menurutnya, menjadi kepala daerah membutuhkan komitmen dan integritas yang kuat. Terlebih, dunia politik memiliki dinamika yang tidak selalu bisa diprediksi.

Ia mengibaratkan politik sebagai sesuatu yang tidak sesederhana hitungan matematika. “Politik itu tidak bisa kita terjemahkan satu tambah satu sama dengan dua. Dan itu yang selalu menjadi kekhawatiran terbesar saya,” ujarnya.

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
Sumber : Liputan Berita Lombok Post
Mohan Roliskana Perjuangan Hidup Kinnastri Mohan Roliskana Motor Ceketer Integritas Keluarga Wali Kota Mataram