Bunda Kikin Pahami Gestur Wali Kota Mohan Tanpa Kata

Lalu Mohammad Zaenudin • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 20:15 WIB
Gestur Wali Kota Mataram Mohan Roliskana saat berbincang dengan pejabat lainnya di suatu saat.
Gestur Wali Kota Mataram Mohan Roliskana saat berbincang dengan pejabat lainnya di suatu saat.

 

 

 

LombokPost– Bagi Hj. Kinnastri Mohan Roliskana, rumah bagi seorang kepala daerah bukan sekadar bangunan tempat pulang. Rumah adalah keluarga.

Karena itu, jauh sebelum Mohan Roliskana menduduki kursi kepala daerah, Kikin sudah membangun satu prinsip dalam kehidupan rumah tangga mereka: rumah harus menjadi tempat paling nyaman setelah suaminya menghadapi berbagai persoalan di luar.

“Sangat penting, karena rumah itu bukan fisik rumah,” kata Kikin.

Menurutnya, seorang kepala daerah setiap hari berhadapan dengan persoalan yang tidak ringan. Ada beban pekerjaan, persoalan masyarakat hingga dinamika politik.

Semua itu, menurut Kikin, membutuhkan tempat berhenti sejenak. Karena itu, Kikin merasa memiliki tanggung jawab memastikan suasana rumah tetap nyaman.

“Harus saya kondisikan semua di rumah itu harus nyaman,” katanya.

Bukan berarti Kikin harus selalu mengetahui setiap persoalan yang dihadapi suaminya. Justru sebaliknya.

 

Baca Juga: Terungkap! Rahasia Bunda Kikin Jaga Keseimbangan Hidup Wali Kota Mohan Roliskana

Ketika Mohan pulang dalam kondisi lelah, kecewa, atau membawa tekanan dari pekerjaan, Kikin memilih tidak langsung bertanya. “Tidak banyak bertanya,” ujarnya singkat.

Ia memilih membaca situasi terlebih dahulu. Jika melihat suaminya baru pulang, yang dilakukan bukan mengorek cerita, melainkan membantu memenuhi kebutuhan kecilnya.

“Misalnya baru pulang, cepat buka ini, segala macam, rapikan itu dan semuanya, jangan bertanya. Jangan bertanya,” tuturnya.

Bagi Kikin, terkadang seorang suami tidak membutuhkan pertanyaan. Ia hanya membutuhkan seseorang yang memahami bahwa hari yang baru saja dilewati mungkin tidak mudah.

Satu Gestur, Sudah Bisa Dibaca

Setelah 26 tahun menjalani kehidupan bersama, Kikin mengaku sudah cukup mengenal bahasa tubuh suaminya. Ia tidak selalu perlu menunggu Mohan bercerita untuk mengetahui apakah ada sesuatu yang sedang dipikirkan.

“Feeling,” katanya.

Dari gestur dan raut wajah, Kikin bisa membaca kondisi suaminya. “Gestur Bang Aji. Dibaca dari raut muka,” ujarnya.

Bahkan kemampuan membaca ekspresi Mohan itu ia sampaikan dengan nada bercanda. “Saya sampai udah punya berapa jilid buku baca gestur itu,” katanya sambil tertawa.

 

Baca Juga: Terungkap! Rahasia Bunda Kikin Jaga Keseimbangan Hidup Wali Kota Mohan Roliskana

Karena itu pula, urusan pemerintahan tidak selalu dibawa masuk ke ruang keluarga. Kikin memilih tidak membicarakannya di rumah, kecuali Mohan sendiri yang ingin bercerita.

“Tidak membicarakannya di rumah, kecuali beliau yang ingin bercerita, kita cukup mendengarkan,” katanya.

Bukan berarti Kikin tidak peduli terhadap persoalan yang dihadapi suaminya. Justru ia memilih menjaga batas antara kehidupan sebagai pasangan dan urusan pemerintahan.

Ia tidak menempatkan diri sebagai pengambil keputusan. Posisinya adalah tempat Mohan bisa kembali menjadi suami dan ayah, setelah seharian menjadi wali kota.

Mimpi Mohan: Mataram yang Nyaman

Meski Kikin menjaga agar urusan pemerintahan tidak mendominasi rumah tangga, ada satu persoalan yang menurutnya cukup sering muncul ketika Mohan bercerita. Bukan soal politik.

Bukan pula soal jabatan. Yang berulang justru tentang masyarakat dan Kota Mataram.

Kikin mengatakan, suaminya memiliki keinginan kuat membuat Mataram menjadi kota yang nyaman bagi warganya. “Nyaman untuk warganya,” ujarnya.

Mohan, menurut Kikin, ingin warga tidak merasa harus selalu pergi ke luar daerah hanya untuk mendapatkan kenyamanan. Ia ingin kenyamanan itu hadir di kota sendiri.

 

Baca Juga: Bareskrim Polri Bongkar Tiga Kasus Judi Online, Transaksi Tembus Rp 1 Triliun

Dan Kikin memilih menjadi orang yang mendengarkan. Tidak selalu bertanya.

Tidak selalu memberi jawaban. Terkadang cukup membaca gestur, menyiapkan kenyamanan, lalu membiarkan suaminya beristirahat.

Sebab bagi Kikin, menjadi tempat pulang seorang pemimpin bukan berarti harus mengetahui semua persoalannya. “Kadang, peran seorang istri justru memastikan setelah seharian menghadapi persoalan satu kota, masih ada satu tempat di mana suaminya tidak perlu menjadi wali kota,” ujarnya. 

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
Sumber : Liputan Berita Lombok Post
Ketahanan Keluarga Wali Kota Mataram Mohan Roliskana Tempat Pulang Pemimpin Kinnastri Mohan Roliskana Rumah Kenyamanan