LombokPost– Ada satu pandangan Kikin tentang kepemimpinan yang menarik. Menurutnya, masyarakat tidak harus melihat seluruh kesulitan dan apa saja yang dikerjakan seorang pemimpin.
“Tidak perlu menunjukkan apa yang menjadi kendalanya,” katanya, Senin (31/8).
Kemampuan seorang pemimpin justru terlihat dari bagaimana bekerja dengan tulus. “Tugasnya seorang pemimpin adalah berbuat bagi warganya, tanpa mereka menyadari. Yang jelas pemimpin melakukannya dengan cinta,” ujarnya.
Karena itu, Kikin melihat perjuangan seorang pemimpin bukan semata dari apa yang tampak di permukaan. Ada banyak proses yang berlangsung di balik layar.
Namun, ada satu konsekuensi kepemimpinan yang justru dirasakan langsung oleh keluarga. Waktu.
Baginya, waktu menjadi pengorbanan terbesar keluarga selama mendampingi Mohan memimpin Kota Mataram. “Waktu yang sangat mahal sekarang,” lirihnya.
Bukan materi. Bukan kemewahan. Tetapi kesempatan menjalani kehidupan keluarga secara normal.
Baca Juga: Di Kemah Nasional PUI, Kapolri Ingatkan Bonus Demografi Tak Boleh Terlewat
Selama dua periode, keluarga harus belajar menerima, waktu bersama tidak selalu tersedia. Karena itu, ketika suatu hari amanah tersebut selesai, Kikin memiliki keinginan yang sangat sederhana.
Ia ingin kembali menikmati kehidupan sebagai keluarga. “Nanti ketika selesai amanah ini,” ucapnya dalam.
Keinginannya pun tidak muluk. Menyelesaikan amanah dengan baik.
“Kita selesaikan dengan baik, kita selesai dengan kepala tegak, dan pengin menikmati pensiun dengan masih muda, bisa jalan-jalan, bisa menikmati quality time,” ujarnya.
Setelah dua periode berada dalam lingkaran kepemimpinan daerah, Kikin mengaku ingin kembali memiliki waktu yang selama ini mahal. “Pengin loh, saya itu jalan-jalan yang benar-benar lepas tanpa mikrin tugas,” katanya sambil tertawa.
Namun, bahkan soal masa depan tersebut pun ia tidak ingin terlalu memaksakan kehendak. Seperti ketika perjalanan Mohan menjadi wali kota dulu, ia memilih menyerahkan semuanya kepada takdir.
“Kita serahkan pada takdir. Seperti di awal tadi. Kita tidak pernah bermimpi (jadi keluarga kepala daerah, Red). Tapi kan semuanya mengalir aja,” tuturnya.
Saat Suami Butuh Dikuatkan
Tentu ada kemungkinan seorang pemimpin mengalami masa ketika kepercayaan dirinya menurun. Jika suatu saat itu terjadi, Kikin tidak menyiapkan kalimat motivasi yang panjang.
Baca Juga: Pemprov NTB Ucapkan Terima Kasih, Dukungan Pembangunan ke Sade Pascakebakaran
Jawabannya sederhana. “Kita selesaikan semua ini dengan baik. Selesaikan amanah ini dengan baik,” katanya.
Kalimat itu sekaligus menggambarkan cara Kikin memandang perjalanan kepemimpinan. Bukan tentang harus selalu menang.
Bukan tentang harus selalu terlihat sempurna. Tetapi bagaimana amanah diselesaikan dengan baik.
Begitu pula ketika Mohan berada dalam kondisi terlalu percaya diri. Kikin tidak memilih konfrontasi secara langsung.
Ia mengatakan, komunikasi antara dirinya dan Mohan telah memiliki bahasa sendiri. “Tidak perlu saya menyampaikan hal itu secara lugas atau secara blak-blakan seperti itu,” ujarnya.
Ada simbol, bahasa, dan cara komunikasi yang hanya dipahami keduanya. “Dengan simbol-simbol atau dengan bahasa-bahasa yang cuma kita pahami berdua,” katanya.
Setelah 26 tahun bersama, tidak semua pesan harus disampaikan dalam kalimat panjang. Kadang cukup satu tanda. Satu gestur.
Ada satu hal yang paling sering diulang Kikin. Bukan soal pemerintahan. Bukan politik.
Melainkan kesehatan. Salah satunya kebiasaan merokok.
Baca Juga: Bunda Kikin Pahami Gestur Wali Kota Mohan Tanpa Kata
“Rokok. Saya minta dikurangi,” tuturnya.
Bagi Kikin, menjaga kesehatan suami menjadi salah satu bentuk dukungan paling nyata. Sebab sejak awal ia telah menempatkan kesehatan fisik dan mental Mohan sebagai prioritas.
Jika sebelumnya ia mengingatkan agar Mohan tidak memaksakan olahraga ketika tubuh sudah terlalu lelah, kali ini ia mengakui urusan rokok juga menjadi “rem” yang terus ia ingatkan. Namun, ada satu nasihat dari Mohan kepada Kikin yang justru menjadi pegangannya menjalani kehidupan politik.
Nasihat itu berkaitan dengan sesuatu yang jauh lebih panjang daripada satu periode jabatan. “Jangan pernah memutuskan silaturahmi hanya karena urusan politik,” kata Kikin, mengulang pesan yang sering disampaikan suaminya.
Perbedaan politik bisa berubah. Tetapi hubungan antarmanusia jauh lebih panjang.
“Jadi baiklah pada semua orang. Baiklah pada semua orang,” ujarnya.
Editor : Lalu Mohammad ZaenudinSumber : Liputan Berita Lombok Post