Ini Harapan Paling Tulus Kinnastri Bagi Wali Kota Mohan

Lalu Mohammad Zaenudin • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 20:28 WIB
Di antar warga, Kinnastri menemani Mohan Roliskana menyapa satu-persatu warga ibu kota.
Di antar warga, Kinnastri menemani Mohan Roliskana menyapa satu-persatu warga ibu kota.

 

 

 

LombokPost– Memasuki periode kedua sebagai Wali Kota Mataram, Mohan Roliskana dinilai istrinya, Hj. Kinnastri Mohan Roliskana, semakin matang. Bukan berarti karakter Mohan berubah drastis.

Justru sebaliknya, menurut Kikin, suaminya tetap menjadi sosok yang sama. Hanya saja, pengalaman menjalani pemerintahan membuat Mohan kini terlihat lebih rileks.

“Bukan santai, tapi lebih sudah mengalirkan semua ini,” kata Kikin, Senin (31/8).

Pengalaman menjadi wakil wali kota dua periode sebelum kemudian menjadi wali kota membuat Mohan semakin memahami persoalan pemerintahan. Begitu pula ketika ditanya apakah periode kedua membuat Mohan lebih percaya diri atau lebih tenang.

“Sama aja,” jawabnya.

Namun, jika ada satu hal yang paling terasa dari perjalanan menuju periode kedua, bagi Kikin jawabannya adalah kepercayaan masyarakat. “Bahwa masyarakat masih percaya dengan kinerjanya Bang Aji. Masih percaya,” ujarnya.

Kepercayaan tersebut, menjadi modal sekaligus tanggung jawab. Karena itu, ketika ditanya apa yang paling ingin dipertahankan dari kepemimpinan periode pertama, Kikin tidak menyebut program ataupun capaian tertentu.

 

Baca Juga: Pegang Teguh Pesan Wali Kota Mataram, Jangan Sampai Urusan Politik Rusak Tali Silaturahmi

Jawabannya hanya satu. “Integritasnya harus tetap dipertahankan,” tegasnya.

Bagi Kikin, integritas jauh lebih penting dibandingkan sekadar meninggalkan nama atau label tertentu setelah masa jabatan berakhir. Bahkan, ketika ditanya bagaimana ia ingin masyarakat mengenang Mohan setelah periode kedua selesai, Kikin tidak berusaha menciptakan sebuah gelar atau citra tertentu bagi suaminya.

Ia justru memilih ukuran yang jauh lebih sederhana. “Saya ingin suami saya bisa dihargai, diingat kebaikannya. Itu sudah cukup,” katanya.

Tidak ada ambisi agar Mohan dikenang dengan titel tertentu. “Enggak perlu saya mengharapkan titelnya harus jadi bapak ini, Bapak itu. Nggak,” ujarnya.

Yang penting, menurut Kikin, suaminya bisa menyelesaikan amanah dengan kepala tegak. Sebagaimana ketika pertama kali menerimanya. “Itu sudah luar biasa,” katanya.

Sebagai orang terdekat, Kikin memahami betul konsekuensi kehidupan sebagai kepala daerah. Waktu untuk keluarga yang semakin terbatas, tekanan pekerjaan, dinamika politik, hingga tanggung jawab besar.

Namun ketika amanah sudah datang dan keputusan telah diambil, tugasnya adalah berada di sisi suami. Tidak lagi berbicara apakah harus memberi pertimbangan suaminya maju Pilkada atau tidak.

Di sinilah posisi Kikin kembali terlihat: tidak selalu menjadi orang yang mendorong suaminya untuk maju, tetapi juga tidak meninggalkannya ketika pilihan telah diambil.

Ia menjadi orang yang menjaga keseimbangan. Kadang menarik. Kadang mengulur.

 

Baca Juga: Pemprov Kalteng Antisipasi Dampak Asap Karhutla, Rumah Oksigen Dibuka di Sejumlah Titik

Seperti layangan yang sebelumnya ia gambarkan. Dan pada akhirnya, Kikin tidak berharap suaminya dikenang karena sebuah gelar besar.

Ia hanya ingin Mohan menyelesaikan perjalanan kepemimpinannya dengan integritas yang tetap utuh. Tetap dihargai.

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
Sumber : Liputan Berita Lombok Post
Integritas Mohan Roliskana Mataram Kinnastri Mohan Roliskana Rekam Jejak Masa Jabatan Wali Kota Mataram