LombokPost--Citarasa -makanan di Timur Tengah kerap menjadi hambatan tersendiri di lidah para peziarah. Tak banyak penyelenggara umrah memperhatikan ini. Padahal kedekatan citarasa makanan kampung halaman, membuat jamaah lebih tenang beribadah tanpa mesti khawatir dengan menu di penginapan yang kerap tak nyambung di lidah.
-------
Cerita tentang berbagai bekal makanan yang dibawa jamaah dari tanah air menunju Tanah Suci bukan hal baru. Jaga-jaga bila menu makanan di pemondokan selama ibadah umrah tak sesuai di lidah.
Karena cerita tentang “hambarnya” makanan di Arab Saudi menjadi semacam “urban legend” yang diceritakan turun-temurun dari para peziarah. Masyarakat Lombok maupun Indonesia pada umumnya terbiasa dengan bumbu basah berbahan segar yang diulek (bumbu rajang), seperti cabai rawit, bawang merah, bawang putih dan terasi. Tak suka bila tak berasa.
Sementara itu kuliner Arab cenderung mengandalkan rempah-rempah kering seperti jinten, cengkeh, kayu manis, dan kapulaga yang disangrai atau direbus bersama minyak samin. Aromanya kuat dan cenderung menonjolkan kesan earthy serta manis gurih yang tajam.
Peralihan dari bumbu segar berbahan terasi ke rempah kering beraroma tajam sering kali memicu rasa kaget di lidah (sensory shock). Padahal lidah masyarakat Lombok terbiasa dengan bumbu segar dengan tingkat kepedasan tinggi dan gurih asam yang tajam (seperti pada ayam taliwang dan pelecing kangkung). Jadi makanan yang tidak memiliki rasa pedas cabai sering kali dipersepsikan sebagai makanan yang "hambar" atau "susah ditelan”.
Baca Juga: Umrah Istimewa di Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW Bersama Muhsinin Tour and Travel (1)
Nah cerita ini juga terjadi di jamaah umrah yang diselenggarakan oleh Muhsinin Tour and Travel pada bulan Maulid ini. Ada yang sengaja membawa kopi, abon ikan, sambal bajo (ikan asin) hingga cumi kering pedas.
Tapi beruntung tim Muhsinin tahu betapa pentingnya persoalan kuliner ini bagi jamaah umrah. Maka sedari awal berangkat seluruh layanan makanan diupayakan sedekat mungkin dengan lidah para jamaah.
Dari Lombok, Muhsinin memilih maskapai Garuda Indonesia. Selain karena pelayanannya yang juara, menu makan on board yang disiapkan merupakan makanan khas Indonesia.
Di udara dari Lombok ke Jakarta, Garuda menawarkan nasi ayam sambal ijo, kemudian dari Jakarta ke Madinah, GA 960 menawarkan nasi putih dengan lauk ikan sambal dabu-dabu dan nasi rendang padang.
Variasi menu nusantara ini membuat selera jamaah masih terjaga di tengah perjalanan panjang yang memakan waktu sembilan jam penerbangan nonstop dari Cengkareng ke Bandara Prince Mohammad bin Abdulaziz, Madinah.
Citarasa Nusantara di Tanah Suci
Bagaimana dengan di Madinah? Di Tanah Hijrah ini Muhsinin menginapkan jamaah di Hotel Sanabel, hotel strategis yang hanya sepelemparan batu dari gerbang Masjid Nabawi. Banyak hotel yang lebih dekat dengan Nabawi namun hotel ini nampak lebih ramai dari lainnya. Terutama oleh jamaah dari Indonesia dan Malaysia. Silih berganti rombongan tiba dari dan menuju Madinah.
Baca Juga: Jamaah Umrah Muhsinin Doakan Korban Bencana di Tanah Air dari Tanah Suci
Salah satu kunci kesuksesan penginapan milik warga Arab Saudi berdarah Turki ini karena menu masakannya. Hotel ini menspesialisasikan diri dengan menu-menu khas nusantara. Ada restoran Indonesia dan Malaysia di lantai Mezzaninenya.
Menunya beragam dari teri kacang hingga oreg tempe, dari sambal goreng pare hingga kikil sapi. Tentu dengan sambal goreng dan lalapan kol dan timun. Menu harian yang ramah di lidah Indonesia.
“Burung te kaken kandok (Ngga jadi saya makan lauk yang dibawa dari rumah, Red),” kata Amaq Liatih dari Sukarara dalam bahasa Sasak sambal tertawa menceritakan lauk yang dibawanya dari rumah yang urung ia buka dari koper.
Ia menceritakan sebagai bekal selama umrah ia membawa sambal goreng, abon, kue kering dan mi instan. Sang anak membekalinya agar Amaq Liatih bisa makan dengan nyaman selama menjalankan ibadah.
“Arakn jage sepulu (mungkin sekitar sepuluh bungkus),” salorohnya mempertegas jumlah mi instan yang dipersiapkan sang anak untuknya dan sang istri sebagai bekal di Tanah Suci.
Rekan sekamar Amaq Liatih, Amaq Muhrim juga membawa sambal goreng cumi. Namun lagi-lagi, menu favorit itu urung dikeluarkan karena menu di Sanabel cukup ramah di lidah. Alhasil sambal cumi ia berikan kepada seorang kerabatnya yang bekerja sebagai buruh migran di Madinah.
Jauhari marketing Hotel Sanabel mengisahkan bagaimana dirinya terlibat dalam perombakan konsep hotel ini menjadi lebih ramah kepada peziarah nusantara. Lelaki asal Cirebon ini sudah bekerja di Arab Saudi sejak 1985. Ia kemudian bergabung dalam grup Sanabel sejak 15 tahun lalu.
Sejak itu ia membenahi layanan agar lebih ramah kepada jamaah Indonesia. Terutama para juru masak harus dari Indonesia. Dari tangan mereka citarasa nusantara keluar dari dapur ke meja makan dan memanjakan lidah para tamun Tuhan. “Saat ini ada delapan (pekerja) yang dari Indonesia,” ujarnya.
Saat rombongan Muhsinin tiba di Madinah pada Kamis (20/8) malam, restoran memang sudah tutup. Tapi mereka menyiapkan makan malam dalam kemasan kotak alumunium sekali pakai. Isinya Indonesia sekali. Nasi putih dengan sup bakso, dan orek tempe campur kentang goreng.
Baca Juga: Sambut Maulid, Muhsinin Lepas 40 Jamaah Umrah
Bekal variasi menu khas nusantara inilah yang menjadi andalan Hotel Sanabel dalam menjaring jamaah nusantara. “(tahun) Kemarin saya keliling Indonesia,” kata Jauhari menceritakan dirinya berkeliling menemui para penyelenggara ibadah haji dan umrah agar relasi dengan Olayan tetap terjaga.
Yang menarik ada dua pramu saji di hotel ini dari Lombok yakni Sahnan dari Jelantik, Lombok Tengah dan Gazali dari Gunungsari, Lombok Barat. Inilah yang membuat jamaah semakin betah. Karena mereka tak sekadar menyiapkan makanan, namun menegur sapa jamaah dalam bahasa Sasak. Bagi mereka yang sedang jauh dari rumah, sentuhan kecil ini membuat kampung halaman terasa dekat.
Tidak hanya itu dua pemuda ini tahu cara menjamu para tamu Indonesia, menawarkan kopi atau air teh, menawarkan untuk menambah porsi atau sekadar memberi buah atau kue kecil untuk dibawa ke kamar.
Sementara itu di Makkah, jamaah menginap di Hotel Al Olayan Ajyad, hotel bintang empat yang berada persis di depan gerbang utama Masjdilharam. Dari halaman hotel jamaah bisa langsung melihat pelataran Haram. Bahkan saat jamaah tak sempat ke masjid, mereka bisa salat jamaah dari lobby hotel mengikuti imam di Masjidilharam. (bersambung/r2/r3)
Editor : Kimda FaridaSumber : Lombok Post