Langkah Sapriadi Sulap Kerajinan Ketak dari Teras Rumah ke Pasar Eropa, Omzet Ratusan Juta Rupiah

Lestari Dewi • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 12:11 WIB
Sapriadi menunjukkan ragam kerajinan ketak dan rotan yang ada di kediamannya, di Desa Pajangan, Kopang, Lombok Tengah, Jumat (4/9).
Sapriadi menunjukkan ragam kerajinan ketak dan rotan yang ada di kediamannya, di Desa Pajangan, Kopang, Lombok Tengah, Jumat (4/9).

 

CV Al Fatih milik Sapriadi sukses mengubah potensi anyaman ketak Desa Pajangan menjadi produk beromzet Rp 200 juta per bulan yang menembus pasar internasional. Lewat usaha itu, Sapriadi memberdayakan puluhan warga lokal sekaligus membawa misi besar untuk memajukan kesejahteraan desanya.

----

Aroma khas cairan vernis menyeruak begitu melangkah ke pelataran sebuah rumah di Desa Pajangan, Kecamatan Kopang, Lombok Tengah. Di bawah sengatan terik matahari siang itu, beberapa pekerja tampak sigap mengoleskan cairan pengawet ke permukaan anyaman.

Tak jauh dari sana, puluhan hasil kerajinan setengah jadi berjejer rapi. Semuanya dijemur memanfaatkan hangatnya sinar mentari agar warna dan ketahanannya makin sempurna.

Baca Juga: Merawat Kehangatan Madak Mare di Pantai Kuta Mandalika

Melangkah lebih dalam ke area artshop, pemandangan berganti menjadi galeri seni yang sarat ketelitian. Berbagai jenis kerajinan dari anyaman ketak dan rotan tersusun artistik, mulai dari tas trendi, keranjang pakaian, keranjang tanaman, lampu hias, hingga kotak kado bernilai estetika tinggi.

Di sudut lain, kesibukan tak kalah riuh. Beberapa pekerja sibuk mengemas produk yang siap dikirim. Sementara jemari terampil para pekerja perempuan fokus memoleskan cat dengan sentuhan warna natural, cokelat hangat, hingga krem yang menawan.

Di balik geliat kerajinan beromzet ratusan juta ini, ada sosok Sapriadi, 36 tahun, pria yang akrab disapa Adi. Siapa sangka, jalan hidupnya mengalir jauh dari bayangan awal.

Baca Juga: Mengintip Kemeriahan Lombok Surfskate Meet Up, Kala Senja Mandalika Menjelma Jadi Pesta Jalanan

Lulus dari UIN Mataram, Adi semula mengabdikan diri sebagai pendidik di salah satu madrasah di Desa Darmaji. Namun, jalan hidupnya berubah saat melihat tumpukan ketak di rumahnya pada 2014.

Kala itu, ibunya, Ruminah, merupakan pengepul ketak dari para perajin lokal. Namun, seiring berjalannya waktu, jumlah pengepul yang mau membeli produk ibunya kian merosot.

Melihat kesulitan sang ibu dan melimpahnya potensi desa yang tertahan, tebersit niat di benak Adi. Ia membulatkan tekad membawa produk kerajinan itu keluar dari batas desa.

Pada 2015, Adi mulai menjajakan anyaman ketak ke Lombok Tengah, Lombok Barat, hingga menyeberang ke Pulau Dewata. Di sana, ia menyaksikan sendiri bagaimana anyaman mentah diolah perajin setempat menjadi produk jadi bernilai tinggi.

Baca Juga: Menenun Asa di Desa Wisata Sade Rembitan, Perempuan Sade Menunggu Sesek Kembali Memutar Roda Ekonomi

Tekad Adi semakin kuat saat melihat kerajinan asli Desa Pajangan belum mendapat perhatian optimal dari pemerintah kala itu.

“Saya kumpulkan tetangga di rumah untuk membuat anyaman ketak ini menjadi barang jadi. Saya berinisiatif mendirikan CV Al Fatih agar pemasaran produk ketak yang sudah jadi ini bisa lebih gencar menembus pasar luar,” ungkap Adi.

Perjuangan itu membuahkan hasil manis. Pascapandemi Covid-19 pada 2022, pesanan datang bertubi-tubi, terutama dari hotel-hotel di kawasan Kuta Mandalika. Kehadiran event internasional MotoGP menjadi penguat utama (booster). Permintaan melonjak drastis hingga memicu produksi ratusan item barang beraneka ragam.

Menariknya, saat badai pandemi merubuhkan banyak sektor, bisnis ketak Adi justru panen raya.

Baca Juga: ITDC Siapkan Ruang Legal untuk Surfskate di Mandalika

“Saat pandemi, omzet kami justru mencapai titik tertinggi. Kalau kondisi normal rata-rata omzet Rp 40-50 juta per bulan, waktu pandemi justru bisa tembus Rp 150 juta,” kenang Adi.

Perlahan tapi pasti, pasarnya makin meluas. Pada 2024, produk ketak CV Al Fatih milik Adi berhasil menembus pasar internasional, merambah tiga negara sekaligus, Maroko, Malaysia, hingga Jerman.

Kini, CV Al Fatih menjelma menjadi salah satu ikon usaha kerajinan ketak yang sangat diperhitungkan dengan omzet rata-rata mencapai Rp 200 juta per bulan.

Namun bagi Adi, keberhasilan tak diukur dari deretan angka semata, melainkan dari seberapa besar manfaat yang dirasakan warga sekitar. Puluhan warga desa kini menggantungkan penghasilan dari tempat usaha yang didirikannya. 

Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : Liputan Berita Lombok Post
desa pajangan pengrajin ketak pasar eropa kisah sukses berdayakan warga