Umrah Istimewa di Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW, Bersama Muhsinin Tour and Travel (3-Habis)

Redaksi Lombok Post • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 11:26 WIB
BERDOA  : Jamaah Umrah Muhsinin Tour and Travel berdoa Bersama di luar pagar Makam Abdullah Ibnu Abbas di Kota Thaif, Arab Saudi beberapa waktu lalu. (Zulhakim/LombokPost)
BERDOA : Jamaah Umrah Muhsinin Tour and Travel berdoa Bersama di luar pagar Makam Abdullah Ibnu Abbas di Kota Thaif, Arab Saudi beberapa waktu lalu. (Zulhakim/LombokPost)

Koneksi Para Mukimin Indonesia Permudah Ibadah, Ziarah dan Belanja

 Penyelenggaraan Ibadah Umrah bukan hal sederhana. Ada proses Panjang nan rumit untuk mempertemukan jutaan jamaah Tanah Suci.  Diantara itu semua ada peran penting para mukimin asal Lombok yang paham luar dalam seluk beluk Tanah Haram.

 -----------------

 Selain ibadah sunah dan wajib,  hal penting yang dinantikan jamaah selama di tanah suci adalah ziarah. Makah dan Madinah adalah dua kota suci yang menyimpan sejarah Panjang dari  awal penyebaran Islam.

 Setelah berziarah di Madinah, tempat yang disinggahi jamaah Muhsinin di sekitar Makah adalah Kota Thaif, salah satu kota penting dalam sejarah penyebaran Islam.

 Kota ini sendiri relatif lebih sejuk disbanding kota-kota lain di Arab Saudi. Merupakan daerah pegunungan dengan jarak sekitar 90 kilometer dari Makah.

Di kota ini  jamaah diajak melihat sisa Kebun Anggur yang disinggahi Nabi saat dikejar dan dianiaya oleh penduduk Thaif di tahun 619.

 Ini adalah periode yang dikenal sebagai Tahun Kesedihan. Nabi kehilangan dua pelindung utama yakni sang istri Sayyidah Khadijah dan pamannya, Abu Thalib.

Kehilangan dua pelindung ini membuat tekanan kaum Quraisy di Makah semakin kuat. Hal ini membuat nabi ingin mencari basis dakwah baru di luar Makah. Pilihannya jatuh pada kota Thaif.

Dalam perjalanan Ustd. H Zainal Arifin menjelaskan pilihan ke Kota Thaif karena berharap warga kota yang mayoritas dihuni suku Tsaqif akan lebih terbuka menerima dakwah Nabi. Karena Nabi memiliki riwayat kekerabatan dengan suku ini dari sang ibu.

 Namun fakta berkata lain. Para tokoh Thaif justru memprovokasi agar mengusir  Nabi. Tepat di hari ke 10, nabi diusir dan dilempar hingga terluka. “Di kebun anggur inilah Nabi mendapatkan perlindungan,” sambung Ustd. Zainal yang pernah beberapa lama bermukim di Thaif.

Suasana pelataran Masjidil Haram beberapa waktu lalu.
Suasana pelataran Masjidil Haram beberapa waktu lalu.

 

 Mendengar penganiayaan ini malaikat turun meminta izin untuk mengangkat dan menimpakan Gunung Abu Qubais dan Gunung Al-Qu'ayqi'an untuk menghukum  warga Thaif. Namun dalam sebuah Riwayat yang disampaikan oleh Imam Bukhari dan Muslim Nabi menolak menjatuhkan hukuman dengan berkata. 

Jangan, bahkan aku berharap agar Allah mengeluarkan dari tulang sulbi (keturunan) mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun." (HR. Bukhari-Muslim] 

Kini sisia kebun anggur milik Utbah dan Syaibah bin Rabi'ah ini masih ada dan menjadi destinasi ziarah umat Islam sedunia.

Kebun ini dipagari oleh tembok tanah  tua yang sudah mulai lapuk dimakan usia. Disekitarnya ada sebuah bangunan batu kecil yang dikenal sebagai masjid Addas. Namanya diambil dari nama Addas penjaga kebun anggur yang menyuguhi buah anggur kepada Nabi dan mengimani ajaran nabi.

 

Rasa Indonesia di Tanah Suci

Selain melintasi kebun anggur, destinasi wajib para peziarah di kota ini adalah Masjid dan makam Abdullah Ibnu Abbas, sepupu nabi yang dikenal sebagai periwayat ribuan hadis.

 Komplek pemakaman dan masjidnya berbeda dari bangunan lainnya. Karena dibangun dengan dinding batu alam. Jamaah sempat salat sunah di dalam dan berdoa di luar makam.

Nah yang menarik di pelataran makam hampir semua pedagang terdengar fasih  berbahasa Indonesia. Mereka menawarkan aneka buah segar, pakaian hingga minyak zaitun.

 “Ayo beli ini lima real saja, dua sepuluh real,” ujar seorang gadis kecil menjajakan minyak zaitun buatan Tunisia dalam kemasan botol plastik kecil 170 mililiter.

Di bawah terik siang gadis berusia sekitar  delapan tahun  ini terus menawarkan dalam bahasa Indonesia. Bahkan sesekali melemparkan beberapa variasi pantun “Ubur-ubur Ikan Lele” yang sempat viral di media sosial. Jamaah sempat membeli dagangannya sebelum ia pergi.

Fenomena pedagang yang fasih berhasa Indonesia ini bukan hal baru di tanah suci. Hampir semua pedagang baik di Makah, Madinah maupun Jeddah mengerti  beberapa kalimat percakapan dalam bahasa Indonesia.

Tingginya animo masyarakat Muslim Indonesia untuk berziarah, bekerja dan belajar ke Tanah Suci telah berlangsung sejak berabad-abad silam.

Hal ini membentuk relasi para mukimin Nusantara dengan warga maupun komunitas pedagang di Arab Saudi  terus terjaga hingga kini.

Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak memperkirakan setiap tahun ada sekitar dua juta orang Indonesia melaksanakan Ibadah Haji dan Umrah ke Tanah Suci.

Jumlah ini merupakan akumulasi jamaah yang berangkat melaui layanan penyedia jasa Umrah maupun secara Mandiri.

 Dengan jumlah ini Kemenhaj menaksir perputaran uang yang dihasilkan dari sektor ini saja tidak kurang dari Rp 60 triliun. Angka yang sangat menggiurkan.

Ceruk pasar ini membuat para penyedia jasa di Tanah suci seperti berlomba untuk bisa berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. Mulai dari penjaga toko, petugas kebersihan hingga para askar. Pun demikian dengan papan-papan petunjuk tempat layanan umum kini banyak tersedia dalam bahasa Indonesia.

 

 Koneksi Para Mukimin

 Keberadaan warga Indonesia yang bermukim (Mukimin)  baik yang belajar dan bekerja di Tanah Suci menjadi salah satu pilar penting dalam penyelenggaraan ibadah Haji dan Umrah. Pengalaman Panjang mereka tinggal dan berinteraksi dengan warga Arab Saudi menjadi pintu penghubung  bagi para jamaah.

 Disinilah kelebihan Muhsinin Tour and Travel mereka merangkul para Mukimin atau mantan Mukimin yang telah mengenal medan Tanah Suci dalam memberi layanan bagi para peziarah. Sehingga akses para peziarah menjadi lebih mudah selama beribadah.

 Ust. H Hasanuddin misalnya, ia adalah salah satu tim Muhsinin yang kini bertugas membekali jamaah sebelum keberangkatan. Pria asal Praya, Lombok Tengah ini pernah bermukim di Arab Saudi sejak 1996 hingga 2009.

Pengalaman Panjang dalam melayani para Jemaah haji dan Umrah membuatnya leluasa memberi pemahaman bagi calon jamaah. Yang menarik Ust. Hasanuddin pernah melayani jamaah umum hingga para presiden saat bertugas di Tanah Suci.

“Alhamdulilah saya pernah bertugas melayani Presiden Soeharto, Habibie hingga Gus Dur,” ujarnya.

 

Keberadaan para Mukimin dalam melayani jamaah sangat penting. Terutama untuk menghubungkan jamaah dengan pelayanan-pelayanan teknis selama ibadah.

Sebagai contoh selama Umrah kemarin, tak semua Jamaah mampu melakukan tawaf secara mandiri. Sebagian membutuhkan bantuan pendorong dengan kursi roda.

Persoalannya jamaah ingin agar pendorong kursi bisa berkomunikasi dengan baik  baik dalam bahasa Indonesia dan Sasak. Disinilah relasi mutawif berfungsi. Jejaringnya yang luas dengan para mukimin asal Lombok membuat jamaah mudah mendapatkan layanan yang diinginkan.

Pendorong kursi roda yang datang merupakan mukimin Asal Lombok. Pun demikian dengan layanan lain seperti laundry hingga pijat untuk jamaah yang pegal seusai tawaf.

Koneksi Panjang dengan para mukimin ini pula yang membuat Muhsinin mampu menyediakan hotel terbaik untuk jamaah.

“Saya dan Ustad Muharis (Pimpinan Muhsinin) sudah kenal lama hamper tiga puluh tahun,” kata Jauhari marketing Hotel Sanabel menjawab pertanyaan bagaimana Jamaah Muhsinin selalu mendapatkan penginapan di hotel ini.

Relasi sesama mukimin ini pula yang membawa jamaah singgah dan makan siang di Restoran Garuda, rumah makan Indonesia di Jeddah.

Menunya sangat Indonesia, ayam goreng dengan sambal dan lalapan timun dan kol. Menu yang membuat selera jamaah kembali bergairah saat harus menunggu  lama “Garuda” yang lain yang akan membawa jamaah pulang ke tanah air. Pesawatnya baru akan tiba lima jam lagi.

 Yang menarik sebelum keluar meninggalkan restoran seorang pegawai hotel menyapa dalam bahasa Sasak, ia berasal dari Karang Bagu Mataram. Sapaan yang membuat Lombok dan Jeddah terasa semakin dekat. (r2-habis)

Editor : Redaksi Lombok Post
Makah Muhsinin Tour and Travel Umrah