Komunitas Komunikasi Hulu-Hilir: Kopi Lombok, Mencicipi Keragaman Kopi Lombok dalam Satu Meja

Jay • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 07:11 WIB
KEBERAGAMAN KOPI: Anggota Komunitas Komunikasi Hulu-Hilir: Kopi Lombok foto bersama di sela-sela kegiatan single origin dan single variety/klon di Sembalun, Minggu (13/9).
KEBERAGAMAN KOPI: Anggota Komunitas Komunikasi Hulu-Hilir: Kopi Lombok foto bersama di sela-sela kegiatan single origin dan single variety/klon di Sembalun, Minggu (13/9).

 

LombokPost-Di Sembalun, sebelas merek kopi dari berbagai penjuru Lombok bertemu dalam satu meja cupping. Bukan sekadar untuk dicicipi, tetapi untuk mengenali bagaimana desa asal, varietas, klon, hingga proses pascapanen membentuk karakter setiap kopi.

Kegiatan bertajuk Cupping: Lombok Origin & Single Variety/Klon itu digelar Komunitas Komunikasi Hulu-Hilir: Kopi Lombok di Sangkabira, Sembalun, Lombok Timur, pada 12-13 September.

Sebanyak 50 peserta ikut mencicipi dan mendiskusikan berbagai seduhan kopi Lombok single origin. Kopi yang disajikan seluruhnya berasal dari wilayah Lombok dengan pendekatan single variety atau single klon.

Baca Juga: Ketika Lantunan Ayat Suci dan Gemulai Tari Menata Kembali Jiwa-Jiwa Muda Anak Binaan LPKA Loteng

Koordinator Komunitas Komunikasi Hulu-Hilir: Kopi Lombok Iskandar Zulqarnain mengatakan, kegiatan itu menjadi ruang untuk memperkenalkan keragaman kopi Lombok secara lebih spesifik.

Bukan hanya berdasarkan nama daerah. Peserta diajak mengenali perbedaan karakter kopi berdasarkan varietas maupun klon yang digunakan petani.

“Konsepnya mengenalkan kopi Lombok secara single origin dari berbagai desa asal serta single varietas dan single klon,” kata Iskandar.

Baca Juga: Umrah Istimewa di Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW, Bersama Muhsinin Tour and Travel (3-Habis)

Sebanyak 11 merek membawa kopi dengan karakter berbeda. Sapit Farm Mandiri, misalnya, menyajikan Arabika dari Desa Sapit, Lombok Timur. Kopi itu berasal dari varietas PB88 dengan proses honey serta Ateng Supur dengan proses natural anaerobic.

Micofarm juga membawa Arabika asal Sapit. Varietas yang diperkenalkan yakni Kartika Cobra dengan proses natural. Selain itu, disajikan Robusta klon lokal berbiji kecil dengan proses natural.

Dari Beririjarak, Lombok Timur, Rau Coffee membawa Robusta klon Tugu Sari dan klon lokal berbiji kecil. Keduanya diproses melalui natural fermented.

Baca Juga: Langkah Strategis Pemprov NTB Menembus Panggung Kebudayaan Dunia di Australia

Keragaman kopi Lombok semakin terlihat dari kopi yang dibawa Kopi Kalebet. Robusta asal Genggelang, Lombok Utara, hadir dengan klon Tugu Sari, Sande, dan Plung. Ketiganya menggunakan proses natural.

Sementara Kopi Tambet membawa Robusta asal Santong, Lombok Utara, dengan klon Tugu Sari dan Plung yang diproses wet-hull atau semi washed.

Dari Sembalun, Sangkabira menyajikan Arabika varietas Yellow Caturra dengan proses black honey. Pemilik Sangkabira MS Wathan menjadi salah satu pihak yang turut mendukung kegiatan cupping itu.

Baca Juga: Menyingkap Makna Ritual Nyemulak di Desa Wisata Sade Lombok Tengah

Kopi Lereng Rinjani juga membawa Arabika dari Sembalun, kali ini varietas Typica dengan proses natural. Loka Coffee menghadirkan kopi Arabika asal Sajang, Lombok Timur, dengan varietas Typica dan proses natural.

Kupinta turut membawa Arabika dari Sajang dengan varietas Gayo 3 dan Kopyol. Keduanya diproses secara natural.

Bumi Lestari membawa pilihan yang lebih beragam. Ada Arabika varietas Komasti dengan proses washed, washed anaerobic, dan natural anaerobic. Kemudian varietas Kopyol dengan proses natural anaerobic serta Robusta klon Plung dengan proses natural anaerobic.

Baca Juga: Maulid Nabi, Gemuruh Salawat di Gumi Tatas Tuhu Trasna, Mengenang Keteladanan Rasulullah SAW

Tidak hanya Arabika dan Robusta. Salim memperkenalkan kopi Liberoid dari Genggelang, Lombok Utara, dengan varietas Liberika dan proses natural.

Cupping itu tidak dikemas sebagai kegiatan formal. Peserta dapat mencicipi kopi sambil berdiskusi mengenai perjalanan kopi dari kebun hingga ke cangkir.

Barista dari berbagai wilayah Lombok turut membantu menyajikan kopi dengan sejumlah teknik seduhan manual, mulai dari French Press, V60, tubruk, hingga Rokpresso.

Baca Juga: Kuliah Sambil Kerja? UT Mataram Tawarkan Sistem Pendidikan Fleksibel

Diskusi pun melebar ke berbagai persoalan industri kopi, mulai dari budi daya, hama dan penyakit tanaman, pemilihan varietas maupun klon, hingga proses pascapanen seperti washed, wet-hull, honey, natural, dan metode eksperimental.

Pembahasan kemudian masuk ke tahap sangrai. Peserta berdiskusi mengenai grafik roasting, RoR, hingga karakter fast roast maupun complex roast.

Iskandar mengatakan, forum seperti itu penting karena kopi tidak berhenti pada aktivitas minum. Ada proses panjang yang menentukan karakter kopi sejak ditanam hingga diseduh.

Baca Juga: Wisata Edukasi Bilebante, Siswa Belajar dari Kebun hingga Dapur

Dalam kegiatan itu juga dilakukan percobaan seduhan Arabika yang baru diproduksi dari Desa Sambik Elen, Lombok Utara, dengan proses natural. Kopi itu menjadi salah satu tambahan dalam eksplorasi kopi Lombok single origin yang dilakukan komunitas.

Keragaman yang muncul dalam satu meja cupping memperlihatkan bahwa Lombok memiliki pilihan kopi yang jauh lebih luas daripada sekadar membedakan Arabika dan Robusta.

Perbedaan desa, varietas, klon, ketinggian, proses pascapanen, teknik sangrai, hingga metode seduh dapat menghasilkan pengalaman rasa yang berbeda.

Baca Juga: Ketika Pesan UAS Mengetuk Hati Warga Lombok Barat, Dari Introspeksi Diri hingga Peluang Investasi

Karena itu, kegiatan Cupping: Lombok Origin & Single Variety/Klon diharapkan dapat mendekatkan konsumen dengan keragaman kopi lokal.

“Kami berharap konsumen punya lebih banyak pilihan untuk kopi Lombok, baik Arabika, Robusta maupun Liberoid, dengan berbagai single varietas atau klon dan berbagai proses,” ujar Iskandar.

Bagi komunitas, semakin banyak kopi lokal yang dikenali secara spesifik, semakin terbuka pula ruang bagi petani, roaster, barista, pelaku usaha, dan konsumen untuk saling memahami.

Baca Juga: Difasilitasi Polresta Mataram, Pemuda Jatisela dan Sesela Akhirnya Berdamai

Dari Sembalun, secangkir kopi Lombok single origin akhirnya tidak hanya menjadi minuman. Ia menjadi pintu untuk mengenal desa asal, varietas, klon, proses pengolahan, sekaligus perjalanan panjang kopi Lombok dari hulu hingga hilir.

Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : Lombok Post
kopi Lombok single origin kopi lokal Lombok keragaman kopi Lombok kopi Arabika Lombok kopi lombok