Melihat Kesibukan Para Pelinting Rokok di SIHT Lombok Tengah

Lestari Dewi • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 11:56 WIB
TELATEN: Johariah salah satu karyawan sibuk melinting rokok di area gedung C Sentra Industri Hasil Tembakau (SIHT) Lombok Tengah di Desa Barabali, Batukliang.
TELATEN: Johariah salah satu karyawan sibuk melinting rokok di area gedung C Sentra Industri Hasil Tembakau (SIHT) Lombok Tengah di Desa Barabali, Batukliang.

 

Para pekerja perempuan di SIHT tampak telaten melinting rokok menggunakan alat kayu manual di tengah riuhnya suasana pabrik.

Berbalut celemek dan masker untuk menahan sengatan aroma tembakau, mereka mampu menghasilkan ratusan batang rokok setiap harinya.

----

SUASANA di dalam aula produksi Sentra Industri Hasil Tembakau (SIHT) terasa begitu hidup sejak pagi. Dengung aktivitas dan riuh rendah suara ratusan pekerja memadati gedung luas itu.

Di meja-meja kayu panjang yang berjejer rapi, tampak puluhan warga sekitar didominasi oleh perempuan tengah bergelut dengan tumpukan irisan tembakau beraroma khas.

Baca Juga: Bupati Pathul Resmikan SIHT Lombok Tengah, Penggerak Ekonomi Baru, Serap Ribuan Tenaga Kerja

Penampilan mereka seragam dan sangat tertutup. Busana lengan panjang terbalut celemek merah di dada, sementara wajah mereka tertutup rapat oleh masker medis.

Bukan sekadar formalitas keselamatan kerja, perlengkapan ini menjadi benteng utama untuk menahan pekat dan tajamnya aroma menyengat dari irisan rajangan tembakau yang menusuk hidung.

Meski harus bekerja di tengah aroma tembakau yang kuat, tak tampak raut lelah. Dengan kepiawaian yang terasah, jari-jemari para buruh perempuan ini bergerak terampil dan sangat telaten.

Mengambil sejumput tembakau, meratakannya pada alat linting kayu sederhana, hingga membalutnya dengan kertas papir secara presisi menggunakan lem khusus yang dioleskan pada kapas pentol.

Baca Juga: TGB Pertimbangkan Perubahan Nama Ponpes Abul Barakat Usai Kasus Hukum Seret Pimpinannya

Namun, di balik gerakan jemari yang tampak ritmis dan kasual itu, melinting rokok manual membutuhkan konsentrasi serta tingkat ketelitian ekstra.

“Harus pas padatnya,” tutur Johariah, salah seorang pekerja perempuan, sembari merapikan ujung lintingannya dengan cekatan.

Kepadatan isi tembakau menjadi kunci vital. Jika racikan terlalu padat, rokok akan keras dan tak bisa diisap.

Sebaliknya, jika terlalu longgar, lintingan akan mudah kempes dan cepat terbakar habis. Setiap batang rokok menuntut standar kualitas yang konsisten.

Baca Juga: Warga Sade Percepat Bangun Hunian, Begini Tanggapan Bupati Loteng

Daya tahan dan ketelatenan para pekerja lokal ini patut diacungi jempol. Dalam satu hari kerja, rata-rata seorang pekerja mampu menyelesaikan ratusan batang rokok kretek berkualitas. 

“Sehari biasanya bisa dapat 400-an (batang),” ungkapnya singkat sebelum kembali memfokuskan pandangan dan jemarinya pada papan cetakan kayu.

Kehadiran kawasan SIHT ini tidak sekadar memutar roda industri tembakau lokal, tetapi juga menjadi penopang ekonomi warga sekitar.

Di tangan-tangan telaten para perempuan inilah, denyut keahlian tradisional melinting kretek terus terjaga, mengubah butiran rajangan daun tembakau menjadi pundi-pundi rupiah bagi kesejahteraan keluarga. 

Editor : Kimda Farida
Sumber : Liputan Berita Lombok Post
Sentra Industri Hasil Tembakai (SIHT) telaten melinting rokok barabali Karyawan Perempuan