Tebu bukan tanaman baru bagi warga Desa Kadindi Barat, Kecamatan Pekat, di Kabupaten Dompu.
Lebih dari satu dekade lalu, komoditas ini mulai diperkenalkan.
Dari awalnya hanya pembibitan, kini tebu telah berkembang di sekitar 150 hektare lahan warga.
------------------
Perkembangannya berlangsung bertahap. Dari tahun ke tahun, areal tanaman terus bertambah.
Tebu pun mulai menjadi salah satu pilihan rasional masyarakat dalam mengelola lahan sekaligus menopang ekonomi desa.
Kepala Desa Kadindi Barat Indrawadi mengatakan, tebu mulai dikembangkan sekitar 2013 atau 2014.
Baca Juga: Medvedev Hantam Rublev dengan 23 Ace, Juara Hangzhou Open 2026
Saat itu, Kadindi Barat bersama Desa Kadindi menjadi salah satu wilayah yang menopang pembibitan tebu.
"Mulai nanamnya kalau enggak salah dulu 2014, kalau enggak 2013. Baru masuk tebu langsung pembibitan dulu awalnya," kata Indrawadi.
Kondisi pengairan yang cukup mendukung kala itu menjadi salah satu faktor kunci pengembangan awal.
Dari fase pembibitan, masyarakat kemudian mulai berani menanam tebu secara mandiri di lahan masing-masing.
Kini, sekitar 150 hektare lahan Kadindi Barat telah ditanami tebu.
Luasan tersebut masih berpotensi bertambah seiring dengan meningkatnya minat dan kepercayaan masyarakat terhadap komoditas ini.
"Seiring berjalannya waktu yang kami ketahui tetap ada penambahan areal tanaman tebu di desa kami," ujarnya.
Bagi petani, tebu memiliki keunggulan komparatif dari sisi perawatan yang relatif tidak intensif.
Meski masa panennya lebih panjang dibandingkan jagung, tanaman ini tetap menarik karena memberikan kepastian pasar dan peluang pendapatan yang lebih stabil.
Perkembangan tersebut menunjukkan adanya pergeseran rasionalitas usaha tani masyarakat.
Baca Juga: Dinsos Kota Mataram Perkuat Rehabilitasi dan Pemberdayaan Sosial Eks PMKS
Tebu tidak lagi sekadar tanaman introduksi pada awal pengembangannya, tetapi telah bertransformasi menjadi bagian penting dari sistem pertanian di Kadindi Barat.
Indrawadi masih sangat mengingat di masa awal pengembangan tebu.
Kadindi dan Kadindi Barat ketika itu menjadi salah satu wilayah inti yang menopang penyediaan bibit bagi kawasan Pekat.
Lebih dari satu dekade kemudian, tanaman tersebut berkembang dari sekadar bibit menjadi komoditas yang diperhitungkan warga secara ekonomi.
Menurut informasi yang diterima pemerintah desa dari PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS), kualitas tebu dari Kadindi Barat dan Kadindi dinilai cukup baik dan memiliki rendemen yang kompetitif.
"Katanya Kadindi Barat sama Kadindi ini kualitasnya lebih bagus, panennya juga," ungkap Indrawadi.
Bagi pemerintah desa, kondisi itu menjadi modal sosial dan modal agronomis untuk terus mendorong perluasan tanaman tebu.
Sosialisasi kepada masyarakat terus dilakukan agar warga semakin serius dalam mengembangkan komoditas tersebut sebagai penopang ketahanan ekonomi setempat bahkan kabupaten.
"Upaya kami, pertama sosialisasikan ke warga bahwa masyarakat harus lebih giat mengembangkan tebu untuk menunjang ketahanan pangan," katanya.
Pertumbuhan areal tebu belum lepas dari persoalan klasik yang juga ada di banyak desa lain di Pekat yaitu infrastruktur.
Wilayah Kadindi Barat cukup luas dan sebagian lahan berada jauh dari jalan utama.
Baca Juga: GAANAS Desak Audit Pokir DPRA Rp 1 Triliun, Soroti Anggaran di Tengah Bencana Aceh
Kondisi jalan yang belum optimal itu membuat biaya logistik dan pengangkutan hasil panen tebu meningkat.
Bagi petani, biaya operasional tersebut pada akhirnya menggerus margin pendapatan mereka.
"Kalau aksesnya begitu jauh, sangat tipis keuntungan yang mereka dapatkan," ujarnya.
Karena itu, petani berharap persoalan harga dan akses dapat dilihat secara terintegrasi.
Perbaikan jalan akan membantu menekan biaya angkut, sementara kepastian harga yang adil diharapkan menjaga keberlanjutan minat warga untuk terus menanam tebu.
Pemerintah desa berupaya menggunakan dana desa untuk memperbaiki jalan yang menunjang aktivitas pertanian itu.
Dukungan juga diberikan melalui BUMDes dengan memfasilitasi pupuk dengan skema bayar panen.
Skema tersebut menjadi salah satu bentuk intervensi untuk membantu para petani menjaga modal usaha sekaligus mempertahankan produktivitas di tengah fluktuasi pasar.
Lebih dari sepuluh tahun berkembang, keberadaan tebu mulai dirasakan dalam perubahan struktur ekonomi masyarakat.
Irawandi menggambarkan perubahan itu dengan analogi sederhana.
"Dulu taraf masyarakat kami ibarat kelas 6, sekarang sudah berada di kelas 2 SMP," katanya.
Menurut dia, peningkatan ekonomi turut membantu mengurangi ketergantungan sebagian warga terhadap pinjaman online maupun rentenir yang sebelumnya menjadi jalan pintas saat paceklik.
Pertanian menjadi salah satu penopang utama perubahan tersebut.
Tebu berkembang secara berdampingan dengan jagung, sayur-mayur dan komoditas lain, sehingga menciptakan diversifikasi pendapatan.
Namun, pemerintah desa tetap menghadapi tantangan sosial, termasuk persoalan narkoba dan judi online yang menjadi perhatian serius ketika masyarakat memasuki masa panen dan memegang uang tunai dalam jumlah besar.
Dengan areal sekitar 150 hektare dan kecenderungan penambahan lahan, tebu kini memiliki posisi semakin penting dan strategis di Kadindi Barat.
Pemerintah desa tidak hanya mendorong penambahan luas tanam, tetapi juga berupaya memperkuat ekosistem pendukungnya.
Jalan usaha tani, irigasi, ketersediaan pupuk hingga kepastian pemasaran menjadi kebutuhan yang terus diperjuangkan secara kolektif.
Kondisi irigasi secara umum masih mendukung pertanian. Namun, jaringan tersier masih perlu diperkuat.
Baca Juga: UKM Dina Hidupkan Kembali Tenun Ntobo
Hal itu penting karena karakter tanah di Pekat memiliki daya serap air yang tinggi dan poros.
"Kalau tersier ini dikondisikan dengan baik, mungkin tidak begitu berdampak kalau kemarau," jelas Irawandi.
Pemdes juga berharap tersedia tempat berjualan yang lebih memadai bagi warga untuk mengembangkan aktivitas ekonomi berbasis pertanian dan hilirisasi produk.
"Untuk pengembangan pertanian bisa difasilitasi jalan dan irigasinya karena masyarakat semangat bertani," katanya.
Perjalanan tebu di Kadindi Barat telah berlangsung lebih dari satu dekade.
Dari pembibitan pada awal 2013-an, kini tanaman tersebut tumbuh di sekitar 150 hektare lahan warga.
Tantangannya kini bukan sekadar memperluas areal.
Lebih dari itu, memastikan setiap hektare tebu mampu memberikan hasil yang semakin baik, berkeadilan, dan berkelanjutan bagi petani.
Bagi Kadindi Barat, tebu perlahan telah menemukan tempatnya.
Dari tanaman yang dahulu masih diperkenalkan, kini tumbuh menjadi salah satu harapan baru bagi kemandirian ekonomi masyarakat Pekat.
Dengan areal seluas 150 hektare yang tumbuh dari fase pembibitan sejak 2013, tebu di Kadindi Barat telah membuktikan diri bukan lagi komoditas sekedar coba-coba, melainkan sudah bertransformasi sebagai penopang ekonomi yang nyata.
Maka pekerjaan pemerintah hari ini bukan lagi sekadar menambah luas tanam, melainkan menjamin keadilan hasil di setiap hektarenya dengan memperkuat jalan usaha tani untuk memangkas biaya angkut, membenahi irigasi tersier yang poros, dan menjaga kepastian harga serta skema pupuk bayar panen.
Jika tiga simpul ini bisa dibenahi, tebu tidak hanya akan menjadi sekedar tanaman, tetapi menjadi jalan keluar dari jerat pinjol dan rentenir menuju kemandirian ekonomi rakyat di Pekat. (*)
Editor : Kimda FaridaSumber : Lombok Post