Geliat pariwisata Kuta Mandalika memicu lonjakan permintaan kerajinan kriya buatan tangan lokal hingga mendorong frekuensi pasar UMKM dari dua kali menjadi empat kali seminggu. Mengusung konsep ramah lingkungan dan inovasi bahan alam, merek kriya Pinalo milik Aisyah Odist berhasil menembus pasar internasional hingga mengekspor ratusan produk ke perhotelan di Hong Kong.
----
TATAPAN Aisyah Odist menyapu stan pamerannya di kawasan Kuta Mandalika, Pujut, Lombok Tengah. Di meja pajangnya, deretan helai kain bertumpuk rapi berdampingan dengan pernak-pernik mungil berdesain estetis. Siapa sangka, di balik kesederhanaan lapak kriya itu, tersembunyi karya seni yang sudah merambah pasar internasional.
Aisyah merupakan sosok di balik merek Pinalo (Pineapple of Lombok). Perempuan kreatif ini adalah salah satu pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal yang konsisten menjaga napas kerajinan buatan tangan ramah lingkungan.
“Sekarang pergerakannya sudah mulai terasa sekali. Pembangunan vila dan restoran makin marak, dan hunian hotel juga terus naik,” tutur Aisyah saat ditemui Lombok Post di lapak pamerannya di Kuta Mandalika.
Semaraknya geliat pariwisata Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika membawa angin segar bagi komunitas Lombok Eco, wadah berkumpulnya para perajin ramah lingkungan. Jika sebelumnya kegiatan pasar pameran hanya diadakan dua kali seminggu, kini frekuensinya melesat drastis hingga empat kali seminggu.
Aisyah dan rekan-rekan perajin aktif berpindah dari satu titik strategis ke titik lainnya di lingkar Kuta, seperti Oceanside, Crank, hingga Kensa. “Perputaran uangnya sangat bagus dan dampaknya lumayan besar untuk lingkar UMKM di Kuta ini,” ungkap wanita asal Kota Mataram ini.
Produk kriya Pinalo menyasar pangsa pasar segmen home decor dengan target konsumen berusia di atas 40 tahun. Namun, untuk menyiasati dinamika wisatawan yang menginginkan buah tangan, Aisyah tak kehabisan akal. Ia memanfaatkan sisa-sisa bahan produksi kain menjadi produk fungsional berukuran kecil, seperti dompet hingga pelindung laptop.
“Ternyata respons mereka sangat tinggi,” terangnya sembari menunjukkan salah satu dompet buatan tangannya.
Harga produk Pinalo dipatok cukup bervariasi. Aksesori kecil dibanderol mulai dari harga Rp 200 ribu hingga Rp 400 ribu. Sedangkan untuk lembaran kain tenun dan kriya berbahan pewarna alami dipasarkan mulai Rp 700 ribu, Rp 800 ribu, hingga mencapai Rp 1 juta per lembar.
Kualitas dan keunikan produk berbahan dasar alami khas Lombok ini rupanya menarik perhatian pasar global. Tak hanya dilirik wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Mandalika, karya buatan Aisyah bahkan menembus jaringan perhotelan mewah di Hong Kong.
Baca Juga: Edi Mulyadi Sebut Disiplin Adalah Kunci Kesuksesan Emil Audero
“Tahun ini alhamdulillah produk kami masuk ke Hotel Langham di Hong Kong. Jumlah pesanan yang kami kirim ke sana hampir 500 pcs,” tambahnya bangga.
Editor : Akbar SirinawaSumber : Liputan Berita Lombok Post