Gemuruh pertama MotoGP Mandalika 2026 bukan datang dari deru mesin. Melainkan dari BIZAM Lombok. Mario Aji dan Veda Ega Pratama membuka kedatangan para rider dengan sambutan meriah, sebelum Marc Marquez tiba dan kembali menghidupkan demam balap di Bumi Gora.
----
BELUM ada suara mesin MotoGP yang meraung di Pertamina Mandalika International Circuit. Namun, atmosfer balapan sudah terasa sejak para rider menjejakkan kaki di Lombok.
Rabu (7/10) siang, Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) Lombok mendadak berubah menjadi panggung kecil MotoGP. Penggemar, awak media, petugas bandara, hingga anak-anak dengan balutan pakaian adat Sasak tumpah menyambut para pembalap yang mulai berdatangan.
Sekitar pukul 11.09 WITA, giliran dua pembalap muda Indonesia yang menjadi pusat perhatian. Mario Aji dan Veda Ega Pratama muncul di area kedatangan.
Sambutan langsung pecah. Senyum dan lambaian tangan menyambut dua pembalap yang akan membawa nama Indonesia di kelas Moto2 dan Moto3. Keduanya pun tampak menikmati suasana. Tak ada wajah tegang. Justru sebaliknya.
Baca Juga: Gubernur NTB: Mandalika Jangan Hanya Dipoles Jelang MotoGP
Mario dan Veda sempat menjajal wahana Zoo Move yang tersedia di area bandara. Momen sederhana itu menjadi jeda menyenangkan sebelum keduanya kembali menghadapi rutinitas yang jauh lebih serius: bertarung di lintasan Mandalika.
Bagi Mario, balapan akhir pekan ini bukan sekadar seri berikutnya dalam kalender MotoGP. Ada dukungan publik Indonesia yang menunggu.
"Bekal dari balapan sebelumnya menjadi modal penting untuk tampil di Mandalika. Mohon doanya agar kami bisa meraih hasil yang maksimal," ujar Mario.
Pembalap asal Magetan, Jawa Timur, itu datang dengan modal balapan sebelumnya di Jepang yang berjalan tanpa hambatan berarti. Kondisi tersebut membuat persiapannya menuju Mandalika semakin percaya diri.
Veda pun membawa semangat serupa. Pembalap Moto3 asal Jogjakarta itu mengaku senang bisa kembali bertemu langsung dengan pendukung Tanah Air. Terlebih, Mandalika menjadi panggung yang membuatnya bisa merasakan langsung dukungan publik Indonesia.
"Secara fisik, kondisi saya sangat siap untuk memberikan yang terbaik di lintasan. Doakan kami yang terbaik," tutur Veda.
Baca Juga: Jangan Abaikan Cuaca Terik, Penonton MotoGP Mandalika Diminta Waspadai Dehidrasi Hingga Heat Stroke
Dua jam kemudian, BIZAM kembali bergemuruh. Kali ini bukan dua pembalap muda Indonesia yang menjadi magnet. Sosok yang muncul adalah salah satu nama terbesar di grid MotoGP: Marc Marquez.
Pembalap Ducati Lenovo itu tiba bersama sang kekasih, Gemma Pinto. Marquez tampil santai. Namun, kehadirannya langsung menyedot perhatian penggemar dan awak media yang sejak pagi menunggu.
"Thank you very much, guys," kata Marquez singkat.
Dengan pengawalan cukup ketat, Marquez kemudian meninggalkan area kedatangan. Tujuannya bukan langsung ke sirkuit, melainkan Kota Mataram. Di sana, sudah menunggu ribuan penggemar dalam Riders Parade MotoGP Mandalika 2026.
Kedatangan Marquez sekaligus menjadi penanda bahwa seluruh rangkaian menuju race weekend mulai memasuki fase akhir.
Ada hal lain yang membuat kedatangan para pembalap terasa berbeda.
Zoo Move. Wahana sederhana di sudut BIZAM itu menjadi bagian dari sambutan untuk Mario dan Veda. Bukan sekadar hiburan, tetapi juga cara penyelenggara memberikan ruang bagi para rider untuk melepas penat setelah perjalanan.
Chairman MotoGP Mandalika 2026 Troy Reza Warokka menyebut sentuhan seperti itu menjadi bagian dari karakter penyambutan di Indonesia.
"Justru para pembalap asing sangat menyukai ini, karena penyambutan di Indonesia selalu beda dan penuh warna jika dibandingkan dengan negara-negara lain," ujar pria yang juga menjabat Direktur Operasi InJourney Tourism Development Corporation (ITDC).
Baca Juga: Sembeq Gubernur Iqbal untuk Marquez, Ikhtiar Memutus “Kutukan” MotoGP Mandalika
Bagi para pembalap, perjalanan menuju sebuah seri balapan mungkin terasa seperti rutinitas. Pesawat, hotel, sirkuit, latihan, lalu balapan.
Namun, Lombok mencoba memberikan cerita berbeda sejak mereka tiba. Ada pakaian adat Sasak. Ada sambutan penggemar. Ada keramahan khas daerah. Bahkan ada wahana yang membuat suasana kedatangan terasa lebih santai.
Semua menjadi bagian dari cerita yang dibawa pulang para rider setelah meninggalkan Lombok.
Editor : Kimda FaridaSumber : Liputan Berita Lombok Post