Lina Limbong menyulap limbah kaca menjadi deretan pernak-pernik unik bermerek PeDe. Berbekal idealisme seni, setiap kalung dan gelang yang ia buat dirangkai khusus sehingga tidak ada dua produk yang sama.
----
SUASANA area pameran tampak riuh dan ramai oleh lalu lalang wisatawan. Namun, ada satu sudut yang berhasil mencuri perhatian. Di atas sebuah stan sederhana, berderet rapi aneka kalung hias cantik dan gelang dengan perpaduan warna-warni yang memikat mata. Mulai dari perhiasan berukuran mungil untuk anak-anak hingga desain elegan untuk orang dewasa dipajang rapi.
Di balik meja pameran itu, berdiri sosok perempuan ramah yang sibuk menyapa pengunjung. Dialah Lina Limbong, perempuan asal Jakarta yang kini menetap di Dusun Mong, Desa Kuta, Lombok Tengah. Di bawah bendera usaha bernama PeDe, singkatan dari percaya diri, Lina menyulap limbah kaca menjadi deretan pernak-pernik bernilai seni tinggi.
Baca Juga: Geliat Kriya Buatan Tangan di Tengah Kemegahan Mandalika, Pinalo Tembus Pasar Hong Kong
Sebelum fokus pada bisnis kerajinan ini, Lina merupakan seorang pendidik. Berbekal latar belakang pendidikan bahasa Inggris, ia memiliki rekam jejak mengajar seni, kerajinan, hingga bahasa Indonesia untuk anak-anak warga asing. Pengalaman mengajarnya pun cukup luas, melintasi Kalimantan, Papua, Lampung, hingga sekolah internasional di kawasan Mandalika.
Awalnya, Lina berkreasi menggunakan bahan clay. Namun, perjumpaan dan aktivitasnya di lingkungan Lombok Eco Market mendorong rasa kepedulian lingkungannya untuk beralih ke konsep yang ramah lingkungan. Dari sanalah ide mengolah limbah kaca mulai lahir.
Proses pembuatannya pun terbilang unik dan butuh ketelitian. Limbah kaca yang dikumpulkan dilelehkan dan dibentuk kembali menggunakan teknik khusus yang menyerupai proses pengelasan.
Baca Juga: Geliat UMKM Sambut MotoGP Mandalika 2026, Menikmati Sensasi Kuliner Prasmanan Khas Sulawesi
Karena membutuhkan pembakaran suhu tinggi dan ruang terbuka, proses pelelehan kaca ini sempat dilakukan dengan bantuan rekannya di Jawa demi alasan keamanan permukiman yang padat. Tak berhenti berinovasi, Lina kini juga menyiapkan ragam produk baru berbasis kaca yang dibentuk menggunakan teknik gerinda tanpa proses pelelehan.
Salah satu keunggulan utama dari pernak-pernik buatan PeDe adalah prinsip eksklusif. Lina memastikan tidak pernah membuat dua produk yang persis sama. “Saya jamin tidak ada yang sama. Saya tidak mau membuat prototipe seperti buatan pabrik,” tegas Lina.
Dikatakan, tantangan terbesar dalam membuat pernak-pernik ini justru pada proses mendesain dan memadupadankan warna. Sementara perakitannya relatif cepat. Dalam sehari, Lina mampu merangkai sekitar 10 hingga 20 buah aksesori, tergantung tingkat kerumitan desain. Setiap pembeli dipastikan mendapatkan karya unik yang tidak akan ditemui pada orang lain.
Bagi Lina, mempertahankan idealisme dalam berkarya adalah hal yang utama. Dibanding sekadar mengejar keuntungan instan dengan menjual barang-barang massal yang umum di pasaran, dia memilih untuk mempertahankan keunikan, kualitas, dan nilai estetika dari setiap jengkal kerajinan kaca yang dihasilkannya.
Baca Juga: Geliat UMKM Sambut MotoGP Mandalika 2026, Semangat Pedagang Lombok Tengah Meraup Rezeki
“Tidak mengapa trafiknya landai, namun berbeda. Tapi itu idealisme saya,” tutup Lina.
Editor : Pujo NugrohoSumber : Liputan Berita Lombok Post