Keris Sangkareang Mengadaptasi Bentuk Gerbang Kota ke dalam Dapuran Khusus

Lalu Mohammad Zaenudin • Dipublikasikan Kamis, 15 Oktober 2026 | 18:22 WIB

 

Keris Sangkareang dirancang dengan dapur khusus yang terinspirasi dari Gerbang Sangkareang, ikon Kota Mataram.
Keris Sangkareang dirancang dengan dapur khusus yang terinspirasi dari Gerbang Sangkareang, ikon Kota Mataram. 

 

 

KERIS ini mengambil inspirasi dari Gerbang Sangkareang. Salah satu ikon Kota Mataram.

Bukan sekadar menghadirkan bentuk berbeda. Karya tersebut dirancang membawa identitas kota ke dalam tradisi pembuatan tosan aji.

“Ini menjadi simbol bahwa suku Sasak itu adalah suku yang besar. Jadi, teman-teman dari asosiasi ini membuat Keris Sangkareang. Ini persembahannya untuk Pengrakese Kota Mataram,” ungkap Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram Cahya Samudra, kemarin (14/10).

Gerbang Sangkareang menjadi titik berangkat penciptaan karya tersebut. Dalam tradisi perkerisan, bentuk atau karakter rancangan keris dikenal dengan istilah dapuran. 

Di sinilah gagasan tentang sebuah ikon kota diterjemahkan menjadi rancangan pusaka. Keris Sangkareang pun disiapkan dengan dapuran khusus.

“Dapuran Gerbang Sangkareang itu hanya Keris Sangkareang,” timpal Ketua Panitia Sasaka Mataram Tosan Aji Festival 2026 Lalu Yopi Diansastra.

Keunikan tersebut diharapkan menjadi pembeda sekaligus penanda zaman. Sebuah karya yang tidak hanya dapat dinikmati dari bentuknya, tetapi juga dibaca sebagai bagian dari perjalanan kebudayaan Kota Mataram.

Baca Juga: Siap-siap! Puluhan Komunitas Keris Se-Indonesia dan Buyer Mancanegara Bakal Serbu Mataram

 

Keberadaan keris ini kelak bisa menjadi jejak sejarah pemerintahan daerah. “Lima ratus tahun ke depan akan terlihat, kapan keluarnya keris dengan dapur Gerbang Sangkareang ini, pada masa pemerintahan wali kota saat itu,” ujar Cahya kemudian. 

Bayangan tentang lima abad mendatang memberi dimensi lain pada karya tersebut. Sebuah keris dapat bertahan melampaui masa pembuatnya. Namun, agar ceritanya tetap terbaca, bentuk dan asal-usulnya perlu disertai dokumentasi yang jelas, mulai dari identitas empu, filosofi rancangan, hingga pencatatan hak cipta.

Dengan begitu, generasi mendatang tidak hanya mewarisi bendanya. “Tetapi juga memahami alasan di balik penciptaannya,” ucapnya. 

Di balik gagasan tentang ikon kota, Keris Sangkareang tetap bertumpu pada keterampilan tradisional pengolahan logam. Yopi menyebut besi, baja, dan nikel sebagai bahan yang digunakan dalam proses pembuatannya.

Ketiganya diolah melalui teknik tempa lipat. Proses ini membutuhkan ketelitian dalam menangani karakter material. “Kemudian membentuk bilah serta menentukan hasil akhir yang diinginkan,” ujarnya. 

Namun, keistimewaan Keris Sangkareang bukan semata-mata terletak pada bahan pembuatannya. Daya tarik utamanya berada pada upaya menerjemahkan bentuk Gerbang Sangkareang ke dalam dapuran keris yang dirancang secara khusus.

Bagaimana detail gerbang itu diterjemahkan menjadi bentuk pusaka. Serta filosofi apa yang mendasari setiap bagiannya, masih perlu ditelusuri langsung dari empu pembuatnya.

Sebuah keris juga mengandung keputusan artistik. “Juga tentang penguasaan teknik, dan pengetahuan yang berkembang melalui pengalaman,” ujarnya. (Bersambung) 

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
Sumber : Beragam Sumber
Trans Bening Mataram Angkutan pelajar gratis Mataram Dishub Kota Mataram