Ada banyak hal yang ditinggalkan TGH Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin. Bukan hanya Pondok Pesantren Qomarul Huda Bagu yang tumbuh dari pengabdiannya. Ada pula nasihat sederhana yang terus hidup dalam ingatan para santri dan alumninya.
----
Bagi Syamsuddin Umar, pesan itu bukan sekadar rangkaian kata. Ketua Umum Ikatan Santri dan Alumni Qomarul Huda (ISQAHU) tersebut merasakan sendiri bagaimana keikhlasan menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya bersama Tuan Guru Bagu.
Almarhum bukan hanya pengasuh pesantren. Ia adalah orang tua, guru, sekaligus pembimbing yang mengarahkan langkah para santrinya. Kesabarannya membuat mereka merasa dekat. Kesederhanaannya meninggalkan kesan mendalam.
“Almarhum adalah sosok yang sangat amat teramat sabar, sederhana, dan bersahaja. Kami sering makan bersama, dan tak jarang beliau menceritakan kisah-kisah yang membuat kami tertawa,” kenang Syamsuddin dengan suara bergetar.
Baca Juga: Ulama Sepuh NTB Berpulang, TGH Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin Tutup Usia
Bagi Syamsuddin, kenangan itu terasa semakin berarti karena hubungan mereka terjalin sejak ia masih kecil. Datang ke pesantren sebagai anak yatim, ia tumbuh dalam bimbingan Tuan Guru Bagu.
Di lingkungan pesantren itulah, ia belajar banyak hal. Bukan hanya tentang agama, tetapi juga tentang kehidupan. Sang guru membimbingnya memahami urusan dunia dan akhirat.
Kini, ketika Tuan Guru Bagu telah berpulang, kenangan tersebut menjadi bagian dari perjalanan hidup yang tak tergantikan.
Membangun Pesantren dengan Keikhlasan
Salah satu kenangan yang paling melekat di benak Syamsuddin adalah semangat Tuan Guru Bagu dalam membangun pesantren. Usianya boleh semakin sepuh, tetapi cita-citanya tak pernah surut.
Pembangunan pesantren bukan sekadar urusan gedung dan ruang belajar. Bagi sang guru, ada amanah besar yang harus terus dijaga agar generasi berikutnya tetap memiliki tempat untuk menimba ilmu.
Pernah suatu ketika, Tuan Guru Bagu mengutarakan keinginannya membangun pondok hingga lima lantai. Mendengar rencana itu, Syamsuddin sempat merasa sangsi. Ia membayangkan betapa besar tanggung jawab yang harus dipikul untuk mewujudkannya.
Baca Juga: Hari Jadi Ke-81, Komitmen Kerja Nyata Wujudkan Lombok Tengah Masmirah
Ia pun menyampaikan keraguannya kepada sang guru. Namun, jawaban yang diterimanya justru menjadi pelajaran yang terus diingat hingga sekarang.
“Bisa, bisa... asal ikhlas,” tutur Syamsuddin, menirukan jawaban almarhum.
Kalimat itu sederhana. Tidak ada uraian panjang tentang strategi pembangunan atau hitungan biaya. Hanya keyakinan bahwa sesuatu yang besar dapat diperjuangkan selama dijalani dengan keikhlasan.
Bagi Syamsuddin, itulah salah satu warisan terpenting Tuan Guru Bagu. Sang guru mengajarkan bahwa pengabdian tidak semata-mata diukur dari seberapa besar pekerjaan yang diselesaikan, tetapi juga dari niat ketika menjalaninya.
Ketika Sang Guru Memilihkan Jalan
Nasihat Tuan Guru Bagu tak selalu disampaikan dengan kelembutan. Ada saatnya ia berbicara tegas, terutama ketika menyangkut arah pengabdian murid-muridnya.
Syamsuddin masih mengingat sebuah peristiwa pada 2023. Saat itu, ia bermaksud meminta izin kepada sang guru untuk mencalonkan diri sebagai anggota legislatif.
Namun, jawaban yang diterimanya di luar dugaan. Untuk pertama kalinya, ia mendengar penolakan yang begitu tegas dari sosok yang selama ini membimbingnya.
“Jangan! Lebih baik jadi tuan guru,” kenang Syamsuddin menirukan dawuh almarhum.
Baca Juga: Veda Ega Pratama Pecahkan Rekor Poin Debut Ai Ogura di Moto3
Bagi Syamsuddin, perkataan itu bukan sekadar larangan. Ia memaknainya sebagai arahan agar tetap menekuni jalan dakwah dan mengajar. Ada tanggung jawab keilmuan yang harus dijaga, terutama dalam membimbing masyarakat dan generasi penerus.
Ia memilih mengikuti nasihat tersebut. Tak lama kemudian, sebuah pengalaman berharga datang dalam hidupnya. “Alhamdulillah, lima hari setelah beliau mengatakan itu, saya berangkat ibadah haji tanpa dipusingkan urusan apa pun,” ungkapnya.
Peristiwa itu semakin menguatkan keyakinannya terhadap nasihat sang guru. Ada keputusan dalam hidup yang tidak selalu mudah dipahami saat pertama kali mendengarnya. Namun, waktu terkadang memperlihatkan hikmah di baliknya.
Bagi Syamsuddin, Tuan Guru Bagu telah mengajarkan bahwa menjadi guru dan membimbing umat juga merupakan jalan pengabdian yang mulia.
Istighosah yang Menjadi Pertemuan Terakhir
Dua pekan sebelum Tuan Guru Bagu wafat, Syamsuddin masih sempat bertemu dengan sang guru. Ia datang bersama sejumlah alumni untuk menggelar istighotsah di Klinik Asy-Syifa Qomarul Huda.
Mereka berkumpul untuk berdoa. Suasananya khidmat. Tidak ada yang menyangka bahwa pertemuan itu akan menjadi salah satu kenangan terakhir bersama sosok yang mereka hormati.
Tuan Guru Bagu telah cukup lama berjuang melawan penyakit komplikasi pernapasan. Dalam lima tahun terakhir, kondisi kesehatannya membuat ia harus bergantung pada bantuan tabung oksigen.
Berbagai upaya medis telah dijalani. Almarhum sempat menjalani perawatan di Jakarta selama tiga bulan. Setelah itu, perawatan dilanjutkan di Lombok selama kurang lebih dua bulan.
Baca Juga: Bapenda Dukung Lombok Tengah MASMIRAH Melalui Penerimaan Pajak Daerah
Perjuangan melawan sakit tersebut tidak menghapus jejak pengabdiannya. Di tengah keterbatasan fisik, nama dan kiprahnya tetap melekat dalam kehidupan pesantren serta masyarakat.
Kini, pertemuan di klinik itu tersimpan sebagai kenangan yang sulit dilupakan. Bagi Syamsuddin dan para alumni, istighosah tersebut bukan lagi sekadar kegiatan keagamaan. Ia menjadi momen untuk mengenang kebersamaan dengan guru yang telah banyak memberi arah dalam kehidupan mereka.
Warisan yang Tak Berhenti di Pesantren
Kepergian Tuan Guru Bagu turut meninggalkan duka bagi masyarakat Lombok Tengah. Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri, yang juga menjabat Ketua PCNU Lombok Tengah, menyebut almarhum sebagai sosok panutan yang telah lama mengabdikan diri bagi masyarakat.
Pengabdiannya mencakup bidang agama, pendidikan, dan sosial kemasyarakatan. Keteladanan tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan kehidupan umat di daerah.
“Beliau menjadi suri teladan dan contoh bagi kita semua yang ditinggalkan,” kata Pathul.
Menurut dia, dedikasi almarhum dalam mengembangkan dakwah dan membina umat merupakan warisan berharga. Nilai-nilai itu diharapkan terus menginspirasi generasi penerus di Lombok Tengah dan NTB.
Editor : Kimda FaridaSumber : Liputan Berita Lombok Post