LombokPost--Lebih dari setengah abad setelah armada pertamanya beroperasi di Jakarta, Bluebird masih melayani penumpang yang datang ke pangkalan atau menghentikan taksi di jalan.
Perjalanan yang dimulai dengan cara itu kini dapat dibayar melalui MyBluebird.
Melalui fitur EZPay, penumpang memasukkan nomor armada di pintu atau dasbor beserta tujuan perjalanan ke aplikasi untuk menggunakan pembayaran nontunai. Bluebird mempertahankan akses langsung ke kendaraan sambil membuka pemesanan melalui aplikasi sendiri dan platform mitra.
Penumpang bisa mendapatkan taksi sesuai keadaan mereka: menaiki kendaraan yang tersedia di lokasi keberangkatan atau memesannya dari ponsel.
Pengembangan teknologi memperluas akses pada layanan yang telah memiliki armada, pengemudi, dan jaringan operasional.
Persaingan transportasi ikut bergeser ke tempat penumpang membuat keputusan. Melalui ponsel, calon pengguna dapat mempertimbangkan tarif, memilih pembayaran, dan mencari kendaraan sebelum berangkat.
Baca Juga: Cukli Lombok Tampil di Trade Expo Indonesia 2026, Bawa Kriya NTB ke Pasar Dunia
Bagi operator taksi, kemampuan mengelola armada perlu berjalan bersama kemudahan pelanggan menemukan layanan tersebut. Bluebird memulai operasinya pada 1972 dengan 25 taksi Holden Torana di Jakarta.
Radio dan operator terpusat membantu menghubungkan pesanan dengan kendaraan yang berada di jalan.
Ketika pusat pemesanannya menggunakan sistem komputer pada 1994, perusahaan memperbarui cara mengatur hubungan antara pelanggan dan armada.
Saluran pemesanan kemudian mengikuti perkembangan perangkat yang digunakan masyarakat. Pada 2011, Bluebird menyediakan reservasi melalui BlackBerry.
MyBluebird diluncurkan kembali pada 2016 dengan pilihan pembayaran tunai dan nontunai, memberi pelanggan akses untuk memesan kendaraan melalui aplikasi milik perusahaan.
Pengembangan aplikasi sendiri berjalan bersama keputusan untuk bermitra dengan Gojek.
Pada 1 Februari 2017, kedua perusahaan mengumumkan kerja sama yang memungkinkan pengguna GO-CAR di Jakarta memperoleh armada Bluebird dengan tarif dan promosi GO-CAR.
Pada 30 Maret tahun yang sama, GO-BLUEBIRD hadir sebagai pilihan khusus untuk memesan taksi Bluebird melalui Gojek. Kemitraan tersebut menempatkan layanan Bluebird dalam aplikasi yang telah digunakan pelanggan Gojek.
Dalam keterangan peluncurannya, Adrianto Djokosoetono, saat itu direktur PT Blue Bird Tbk, menjelaskan bahwa GO-BLUEBIRD merupakan tambahan saluran pemesanan.
Perusahaan tetap melayani pelanggan melalui MyBluebird, telepon, pangkalan, dan penjemputan langsung di jalan. Dengan beberapa saluran itu, Bluebird memperluas kesempatan memperoleh pesanan untuk armadanya. Pengelolaan kendaraan dan pengemudi tetap berada dalam kegiatan operasional perusahaan, sementara aplikasi mitra menambah akses kepada pengguna.
Kerja sama memungkinkan perusahaan dengan model usaha berbeda mempertemukan layanan mereka dalam satu perjalanan pelanggan.
Perubahan hubungan antarpelaku transportasi juga berlangsung di tingkat regional.
Baca Juga: Belasan Tahun Menanti, Warga Puncak Jeringo Lombok Timur Terima SHM
Pada 26 Maret 2018, Grab mengumumkan pengambilalihan bisnis Uber di Asia Tenggara, mencakup pemesanan kendaraan dan pengantaran makanan di delapan negara, termasuk Indonesia.
Konsolidasi platform dan kemitraan operator armada berkembang sebagai dua cara memperbesar jangkauan layanan di kawasan tersebut.
Bagi penumpang, akses pemesanan berkaitan erat dengan informasi biaya.
Bluebird memperkenalkan Fixed Price pada 2018, memungkinkan tarif diketahui ketika pemesanan dikonfirmasi. Pelanggan mempunyai dasar untuk memperhitungkan ongkos sebelum berangkat, dengan biaya tambahan seperti tol dan parkir tetap mengikuti ketentuan layanan.
Penggunaan fitur tersebut berkembang di luar Jakarta. Dalam keterangan yang diterbitkan pada 21 Mei 2026, Bluebird menyebut penggunaan Fixed Price di Surabaya tumbuh 52 persen pada kuartal pertama 2026.
Pilihan tarif tetap tersedia melalui MyBluebird untuk melayani kebutuhan perjalanan di kota itu. Pertumbuhan penggunaan aplikasi juga tercatat secara lebih luas.
Laporan Tahunan dan Keberlanjutan 2025 PT Blue Bird Tbk mencatat transaksi melalui MyBluebird meningkat 23,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Di luar Jabodetabek, pertumbuhannya mencapai 41 persen, memperlihatkan penguatan penggunaan saluran digital di wilayah operasional lain.
Kebutuhan perjalanan sendiri sering melibatkan beberapa moda.
Penumpang kereta masih membutuhkan kendaraan untuk mencapai rumah, hotel, atau tempat kerja setelah tiba di stasiun.
Baca Juga: Gubernur NTB Tekankan Pemerataan Pembangunan dan Kesejahteraan Masyarakat di HUT Ke-81 Loteng
Sambungan perjalanan tersebut memberi taksi peran untuk melengkapi angkutan umum, sekaligus membuka kesempatan pemesanan melalui layanan yang digunakan penumpang kereta.
Pada 16 September 2020, Bluebird dan PT Kereta Api Indonesia (Persero) meluncurkan kerja sama transportasi lanjutan bagi penumpang kereta api jarak jauh.
Tahap awal mencakup Jakarta, Bandung, Semarang, dan Surabaya. Melalui KAI Access saat itu, penumpang dapat memesan taksi dari stasiun kedatangan menuju alamat tujuan.
Kerja sama tersebut memperluas layanan berdasarkan kebutuhan penumpang sepanjang perjalanan. Kereta menghubungkan kota dan stasiun, sementara taksi melayani perjalanan menuju alamat akhir.
Pemesanan yang terhubung memberi pelanggan pilihan untuk mengatur kedua bagian perjalanan melalui aplikasi layanan kereta.
Bluebird juga memperluas usaha ke perjalanan antarkota melalui akuisisi bisnis Cititrans pada 2019.
Layanan shuttle menambah pilihan dalam kelompok usaha yang menjalankan taksi, sewa mobil, dan bus.
Perusahaan dapat melayani perjalanan individual, perjalanan antarkota, maupun kebutuhan rombongan dengan jenis kendaraan dan pola pelayanan yang berbeda.
Pandemi kemudian menguji usaha transportasi melalui penurunan mobilitas yang tajam. Pada 2020, pendapatan Bluebird merosot sekitar 49,4 persen menjadi Rp2,05 triliun, dari Rp4,05 triliun pada 2019.
Perusahaan membukukan rugi konsolidasian Rp163,18 miliar ketika kebutuhan masyarakat untuk bepergian ikut menyusut.
Baca Juga: Di Balik Terangnya Mandalika, Ada Senyum Lain di Berbagai Penjuru Lombok
Pada tahun yang sama, Bluebird memperkenalkan BirdKirim, yang kini bernama Bluebird Kirim.
Armada digunakan untuk melayani pengiriman barang, menambah jenis permintaan di luar perjalanan penumpang. Layanan yang dapat dipesan melalui MyBluebird tersebut memperluas penggunaan aplikasi dari pemesanan kendaraan untuk bepergian menjadi pengantaran barang.
Diversifikasi memberi perusahaan beberapa sumber pendapatan dengan kebutuhan pelayanan yang berbeda. Perjalanan menuju bandara, shuttle antarkota, sewa kendaraan, dan pengiriman barang memiliki pola pemesanan masing-masing.
Pengembangannya menuntut penyesuaian kapasitas kendaraan, pengaturan jadwal, serta akses pelanggan terhadap layanan yang dibutuhkan.
Bluebird menggabungkan pengembangan tersebut dalam strategi 3M: multi-product, multi-channel, dan multi-payment.
Dalam keterangan seusai rapat umum pemegang saham pada 18 Juni 2026, perusahaan kembali menempatkan keragaman produk, saluran pemesanan, dan metode pembayaran sebagai arah pengembangan usaha.
Ketiganya menghubungkan pilihan perjalanan dengan cara pelanggan mengakses dan membayarnya.
Jaringan fisik perusahaan tetap menjadi bagian penting dari pelaksanaannya.
Pada akhir 2025, Bluebird mencatat 26.070 kendaraan untuk keseluruhan layanan taksi dan nontaksi.
Perusahaan juga menyebut lebih dari 1.300 pangkalan dalam rilis kinerja tahun buku 2025, menyediakan tempat bagi penumpang untuk memperoleh kendaraan secara langsung.
Besarnya jaringan membutuhkan pengaturan agar kendaraan tersedia di wilayah yang memerlukan layanan.
Dalam keterangan 18 Juni 2026, Bluebird menyebut pemanfaatan peta permintaan berbasis kecerdasan buatan untuk membantu distribusi armada berdasarkan pola permintaan pelanggan terkini.
Teknologi digunakan dalam pekerjaan operasional yang menentukan penempatan kendaraan. Kesiapan kendaraan dan pengemudi ikut menentukan pelaksanaan layanan tersebut.
Rito Sudarmawan, General Manager Bluebird Group Jawa Timur, mengaitkan perluasan akses dengan pemeliharaan standar operasional dalam keterangan perusahaan pada 21 Mei 2026.
“Di saat yang sama, kami juga menjaga standar operasional melalui peremajaan armada secara berkala serta pelatihan pengemudi,” katanya.
Pengembangan layanan berlangsung bersama pertumbuhan usaha. Sepanjang 2025, Bluebird membukukan pendapatan Rp5,71 triliun, meningkat 13,2 persen dibandingkan 2024, dengan laba konsolidasian Rp643,41 miliar.
Kinerja tersebut mencakup seluruh kelompok usaha, termasuk layanan nontaksi dan pemesanan melalui berbagai saluran.
Memasuki 2026, pertumbuhan pendapatan menghadapi tekanan biaya.
Laporan keuangan konsolidasian per 30 Juni 2026 yang belum diaudit mencatat pendapatan semester pertama Rp2,97 triliun, naik 11,28 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Laba konsolidasian turun 4,49 persen menjadi Rp323,85 miliar. Segmen nontaksi menyumbang Rp899,98 miliar, atau sekitar 30,3 persen dari pendapatan semester tersebut. Kontribusi itu memberi ukuran atas perluasan usaha di luar taksi.
Pendapatan kelompok Bluebird semakin mencakup beberapa jenis layanan, dengan taksi tetap menjadi sumber terbesar. Pada periode yang sama, beban langsung meningkat sekitar 15,1 persen, dari Rp1,78 triliun menjadi Rp2,05 triliun.
Kenaikannya melampaui pertumbuhan pendapatan, dengan komponen yang mencakup biaya operasional, penyusutan, dan biaya pendukung.
Perluasan akses pelanggan berjalan bersama kebutuhan untuk mengendalikan biaya penyediaan layanan.
Pengaturan armada menjadi penting dalam hubungan antara pertumbuhan pesanan dan biaya operasi.
Kendaraan harus ditempatkan untuk melayani permintaan, dirawat agar siap bekerja, dan dioperasikan oleh pengemudi yang mampu menjalankan standar pelayanan.
Pengembangan aplikasi membawa perusahaan semakin dekat dengan pelanggan, sekaligus menuntut pengelolaan layanan yang dapat memenuhi pesanan tersebut.
Di pangkalan, penumpang dapat memperoleh kendaraan yang tersedia untuk dinaiki.
Melalui aplikasi, mereka memiliki pilihan untuk memesan dan membayar perjalanan, termasuk menautkan taksi yang sudah didapatkan melalui EZPay.
Bluebird menghubungkan kedua akses itu sambil terus menghadapi pekerjaan sehari-hari usaha transportasi: menyediakan kendaraan, melayani perjalanan, dan menjaga biaya operasinya.
Editor : Kimda FaridaSumber : Liputan