Senyapnya Mesin Listrik Memutus Rantai Utang Nelayan Labuan Pandan

Akbar Sirinawa • Dipublikasikan Kamis, 29 Oktober 2026 | 07:55 WIB
Sejumlah nelayan berada di dekat sampan di tepi pantai Desa Labuan Pandan, Lombok Timur, Sabtu (17/10). Nelayan setempat menggunakan mesin listrik bantuan PLN untuk mengurangi biaya bahan bakar saat melaut.
Sejumlah nelayan berada di dekat sampan di tepi pantai Desa Labuan Pandan, Lombok Timur, Sabtu (17/10). Nelayan setempat menggunakan mesin listrik bantuan PLN untuk mengurangi biaya bahan bakar saat melaut.

LombokPost-Laut sedang surut ketika Rosidi tampak memeriksa mesin hitam di buritan perahu biru. Baling-balingnya menggantung dekat bebatuan, dengan pasir gelap terbentang di bawahnya.

”Hari ini libur dulu (melautnya). Anginnya lagi nggak bagus,” kata Rosidi, nelayan kecil asal Desa Labuan Pandan, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (17/10).

Di hadapannya, tepian Labuan Pandan sedang melebar. Air yang surut menyingkap batu-batu berlapis hijau. Beberapa perahu bercadik masih mengapung, sementara perahu-perahu lain berada di sepanjang pantai. Sekitar pukul 10 pagi, bayangan tubuh dan lambung perahu jatuh tegas di atas pasir.

Rosidi kemudian menyandarkan satu lengannya pada tepian perahu. Mesin hitam itu berada tepat di sisinya.

”Ini mesin bantuan dari PLN, mesin listrik. Agustus kemarin diberikan,” ujarnya.

Bagi nelayan kecil seperti Rosidi, mesin tersebut bukan sekadar inovasi teknologi, melainkan penyelamat urusan dapur. Rosidi kini bisa meninggalkan pantai dengan ongkos bahan bakar yang lebih sedikit. Ia tidak perlu mencari pinjaman sebesar dulu untuk perjalanan yang belum tentu membawa pulang banyak ikan.

Baca Juga: Rayakan HLN Ke-81, Dirut PLN Tekankan Percepatan Transisi Energi Hijau

Jauh sebelum mesin senyap itu singgah, ritual melaut di Labuan Pandan selalu diawali dengan kecemasan. Rosidi mengatakan, nelayan di Labuan Pandan kerap berutang sebelum melaut. Mereka mendatangi warung-warung di Labuan Pandan untuk berutang bahan bakar hingga keperluan melaut lainnya.

”Sering kali. Kadang-kadang ngutang juga untuk nyambung hidup sehari-hari,” ungkap Rosidi lantas terbahak.

Di masa musim angin timur, Rosidi melaut hingga ke Bayan, di perairan Kabupaten Lombok Utara. Menuju bagan-bagan apung yang berada di laut lepas. Untuk ke sana, waktu yang dibutuhkan Rosidi bisa mencapai 3 sampai 4 jam.

Sebelum adanya mesin listrik dari PLN, sampan Rosidi melaju menggunakan mesin ketinting. Untuk satu kali perjalanan menuju bagan apung, dibutuhkan modal hingga Rp 400 ribu. Angka ini bisa membengkak dua kali lipat jika bagan apungnya berjarak puluhan kilometer dari daratan Bayan.

Rosidi membuka tutup kotak baterai mesin listrik bantuan dari PLN di Labuan Pandan, Lombok Timur, Sabtu (17/10). Keterbatasan daya listrik di rumah sejumlah nelayan membuat mereka harus mencari tempat lain untuk mengisi baterai.
Rosidi membuka tutup kotak baterai mesin listrik bantuan dari PLN di Labuan Pandan, Lombok Timur, Sabtu (17/10). Keterbatasan daya listrik di rumah sejumlah nelayan membuat mereka harus mencari tempat lain untuk mengisi baterai.

”Paling jauh kalau rompong (bagan apung, Red) yang 30 kilometer itu bisa habis Rp 800 ribu sampai Rp 900 ribu sekali jalan. Nanti di rompong itu biasanya kita mondok beberapa hari,” kata Rosidi.

Bagi nelayan kecil seperti Rosidi uang tersebut cukup besar. Apalagi jika kantong sedang kosong, satu-satunya jalan agar tetap melaut adalah dengan berutang.  

Hanya saja, tidak setiap melaut Rosidi dinaungi nasib baik. Terkadang hari melautnya dihadapkan dengan angin kencang maupun gelombang tinggi sehingga berpengaruh pada tangkapan ikannya yang sedikit. Jika dijual pun tak mencukupi untuk membayar utang, apalagi untuk modal melaut berikutnya.

Dengan kondisi tersebut Rosidi mengaku harus kembali berutang agar bisa kembali berlayar. Meski utangnya menumpuk, beruntung baginya, para pemilik warung tetap mau memberi pinjaman berupa bahan bakar minyak hingga makanan.

”Sampai dua kali, tiga kali ngutang, kios-kios ini nggak hilang kepercayaan sama kita, karena begitu ada rezeki ikan, langsung dilunasi,” bebernya.

Kebutuhan berutang bahan bakar juga dialami Faisal, ketua Kelompok Nelayan Dayung Bersama. Saat itu, Faisal baru saja pulang melaut. Sampannya melaju, mendekat ke tepian tanpa deru mesin.

Baca Juga: PLN UIP Nusra Salurkan Bantuan Sosial di Hari Listrik Nasional

Sampan itu lebih kecil daripada milik Rosidi. Faisal lebih sering menggunakannya untuk mencari ikan di sekitar perairan Labuan Pandan.

Sebelum ada mesin listrik, Faisal menggunakan mesin ketinting. Semalam melaut, ia membutuhkan tiga hingga lima liter Pertalite sebagai bahan bakarnya. Pertalite itu dibeli di kios seharga Rp 15 ribu per liter sehingga perlu menyiapkan Rp 45 ribu hingga Rp 75 ribu untuk bahan bakar saja. Jarak SPBU yang jauh dan antrean panjang membuatnya memilih membeli eceran meski harganya lebih mahal.

Saat arus kurang baik, tangkapannya kadang hanya satu atau dua kilogram. Dengan harga jual Rp 35 ribu per kilogram, hasil semalam mencari ikan belum tentu cukup untuk membayar bahan bakar yang sudah habis dipakai.

”Kalau sudah dapat tangkapan sedikit, ya belum nutup buat bayar utang,” ungkapnya.

Kini, rantai kecemasan akan utang perlahan menghilang sejak lima unit mesin listrik PLN mulai dioperasikan. Faisal merasakan betul bagaimana beban itu luruh saat mengemudikan sampan bertenaga listrik di sekitar Labuan Pandan. Selama melaut di dekat pesisir, ia tidak perlu lagi mengetuk pintu kios untuk berutang.

”Enggak ngutang-ngutang lagi sejak ada mesin listrik ini,” kata Faisal.

Bagi Rosidi yang kerap mengarungi laut lebih jauh menuju bagan apung di lepas pantai, mesin listrik menjadi penyeimbang. Ia mengawinkan mesin listrik dengan mesin ketinting berbahan bakar Pertalite secara bersamaan di buritan. Penggabungan dua mesin itu terbukti memangkas konsumsi bahan bakar hingga lebih dari separuhnya.

”Sekarang paling banyak habis Pertalite itu 2 liter, ditambah kebutuhan lain, uang yang keluar bisa sekitar Rp 100 ribu saja,” sambung Rosidi.

Meski membawa angin segar penghematan, teknologi ini menyisakan tantangan fisik yang tidak mudah. Di atas perahu, Rosidi harus menempatkan baterai di bagian tengah lambung perahu. Ini penting agar bobot sampan tidak timpang dan tenggelam ke arah buritan.

Baca Juga: Peringati Sumpah Pemuda, PLN Sumbawa Salurkan Sarana Kebersihan untuk 165 Guru dan Santri Al Wihdah

Baterai penggerak mesin listrik tersebut rupanya berbobot tidak ringan. Faisal memperkirakan berat baterai mencapai 1 kuintal atau 100 kilogram. Diperlukan tenaga sedikitnya tiga orang dewasa untuk mengangkat dan memindahkannya ke darat.

Kondisi ini menyulitkan nelayan seperti Rosidi yang terbiasa melaut sendirian. Saat singgah di pesisir Bayan, Lombok Utara, untuk mengisi ulang daya baterai di darat, ia terpaksa meminta bantuan dari orang-orang sekitar yang ditemuinya di pesisir pantai.

”Belum lagi kalau gelombang (besar), mau tidak mau muatan di perahu harus dikurangi,” katanya.

Di Labuan Pandan, tenaga untuk memindahkan baterai juga harus disiapkan setiap kali giliran pemakaian berganti. Faisal menyebut sudah ada lima mesin listrik beserta baterainya. Penggunaannya bergantian untuk 30 nelayan, dengan jatah pemakaian mesin selama satu minggu sebelum beralih ke anggota lain.

“Kalau hanya sehari saja, bolak-balik naikin dan pindahin baterainya ke sampan, lailahaillallah, dong pinggang yang diserang,” tutur Faisal.

Menurut Faisal, mereka harus menghindari membebani lambung perahu ketika masih bertumpu di pantai berbatu. Karena itu, baterai baru dinaikkan setelah sampan berada di air. Bobot baterai juga menyulitkan pemilik sampan kecil dan anggota yang sudah tua.

Urusan pengisian daya baterai menambah pekerjaan sebelum melaut. Kata Faisal, daya listrik di rumahnya dan rumah sejumlah nelayan lain di sekitar pantai belum cukup untuk mengisi baterai.

Akhirnya mereka menggunakan listrik di rumah mertua salah seorang anggota. Jaraknya memang tak terlalu jauh, sekitar 200 meter dari rumah Rosidi di tepian pantai.

Hanya saja, jarak itu menjadi urusan yang berbeda ketika baterai yang dibawa bobotnya diperkirakan hingga 1 kuintal. Beban ekstrem tersebut kerap membuat sokbreker sepeda motor mereka rusak hingga mengeluarkan cairan.

Karena itu, Faisal ingin ada tempat pengisian yang dapat digunakan nelayan di dekat pantai. Harapan itu segendang sepenarian dengan permintaan baterai yang lebih ringan agar pemakaiannya mudah berganti dari satu sampan ke sampan lain.

Baca Juga: Penyegaran Manajemen, Oki Hermawan Resmi Jabat Senior Manager Operasi Konstruksi PLN UIP Nusra

Meski masih harus mencari tempat mengecas dan mengumpulkan tenaga untuk mengangkat baterai, para nelayan terus memakai mesin listrik ketika cuaca memungkinkan.

“Enggak beli minyak lagi, cuma itu saja buat kita menang,” tandas Faisal.

Bantuan mesin listrik di Labuan Pandan bermula dari keinginan PLN mengurangi uang yang harus disiapkan nelayan setiap kali hendak melaut. Kepala Desa Labuan Pandan M Saruji menilai bantuan ini sesuai dengan kebutuhan nelayan setempat.

“Harapannya bantuan ini dapat menekan pengeluaran nelayan untuk BBM dan meningkatkan produktivitas nelayan kita,” kata Saruji, Kamis (22/10).

Pengurangan pemakaian BBM juga menjadi tujuan PLN melalui program electrifying marine. General Manager PLN UIP Nusra RDW Manurung mengatakan, program ini mendorong pemanfaatan energi bersih di sektor kelautan. Penggunaan motor listrik diharapkan dapat menekan potensi emisi dan risiko pencemaran pesisir akibat penggunaan bahan bakar fosil.

Peralihan ke mesin listrik itu semula disambut dengan keraguan. Assistant Manager Komunikasi dan TJSL PLN UIP Nusra Riyan Dharma Putra menuturkan, nelayan belum pernah menggunakan mesin listrik sehingga masih meragukan kemampuan dan manfaatnya.

Karena itu, sebelum menyerahkan bantuan, PLN mendampingi nelayan mencoba mesin. Cara menjalankan penggerak dan mengisi baterai juga dikenalkan sebagai bekal penggunaannya saat melaut.

Pendampingan berlanjut setelah mesin digunakan. PLN tetap berkomunikasi dengan kelompok nelayan untuk mengetahui kondisi alat, kendala pemakaian, dan kebutuhan yang muncul selama pengoperasiannya.

“Agar bantuan yang diberikan tidak berhenti saat alat diserahkan, tapi bisa terus digunakan dan memberi manfaat untuk nelayan,” ujar Riyan, Senin (26/10).

Untuk pengisian baterai, daya listrik yang tersedia masih terbatas. Kata Riyan, PLN UIP Nusra berencana menambah daya di salah satu rumah anggota kelompok nelayan Labuan Pandan.

”Untuk pembayaran tagihan listrik akan dikelola secara bersama oleh kelompok nelayan di Desa Labuan Pandan,” pungkasnya.

Editor : Akbar Sirinawa
nelayan Labuan Pandan Mesin Perahu Listrik Penghematan BBM electrifying marine pln